SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/06/29

KW 87: Berkendaraan Kuda Menuju Lokasi

(Bagian ke-87 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Pasukan Balbek bersembunyi di ceruk-ceruk gunung. Sa’id bin Zaid dan 500 pasukannya mencari mereka dengan berkendaraan kuda.
Ketika Abu Ubaidah menyaksikan kaum Balbek berlari mengikuti Harbis kegunung, berkata, “Hai! jangan ada seorangpun yang mengejar mereka! Agar pasukan kita tidak berpecah! Saya khawatir ini hanya siasat untuk menjebak kalian! Ketika kalian telah bercerai! Mereka menyerang kalian dengan spontan!.”   
Sa’id bin Zaid tidak mendengat larangan itu. Kalau mendengar pasti tidak mengejar mereka. Sa’id bin Zaid mengejar dan berkata, “Kepunglah kaum yang akan dirusak oleh Allah itu! Jangan sampai mereka berani melawan! Sambil kita menunggu pasukan yang di belakang! Kita menindak mereka setelah pimpinan kita memerintahkan.”
Sa’id bin Zaid menunjuk seorang wakil agar memimpin pasukannya, sementara dia ditemani sekitar 20 pasukan berkuda pergi menuju Abu Ubaidah di pertengahan pasukan induk. Ketika Sa’id bin Zaid telah menghadap; Abu Ubaidah bertanya, “Mana pasukanmu dan bagaimana keadaan mereka?.”
Sa’id bin Zaid menjawab, “Berbahagialah wahai pimpinan, pasukan saya dalam keadaan baik-baik dan selamat. Mereka sedang mengepung musuh-musuh Allah di ceruk-ceruk gunung.”
Lalu melaporkan kesemuanya.
Abu Ubaidah RA berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat mereka bercerai-berai meninggalkan tempat tinggal mereka.”
Abu Ubaidah mendekati Sa’id bin Zaid dan Dhirar bin Al-Azwar untuk bertanya, “Kenapa kalian berdua bisa menyelisihi perintah? Semoga Allah menyayang kalian. Bukankah saya telah perintah agar kalian berada di pintu-pintu gerbang kota untuk mengecoh mereka?. Apa yang mendorong kalian datang kemari?. Saya dan orang-orang yang menyertaiku tadi khawatir kalau telah terjadi sesuatu, atau pasukan Balbek telah melancarkan serangan pada kalian dari belakang. Sehingga kami mengurungkan rencana mengejar Harbis dan pasukannya ke gunung.”
Sa’id bin Zaid berkata, “Wahai pimpinan! Demi Allah saya tidak berniat menentang perintahmu sama sekali. Saya telah melaksanakan perintah, namun tiba-tiba saya melihat asap membumbung tinggi sehingga saya berpikir ini pasti ada sesuatu yang serius. Kami pun segera datang kemari.”
Abu Ubaidah berteriak, “Siapa yang telah menyalakan api di atas gunung agar segera kemari untuk memberi keterangan!.”
Sahl bin Shabach bergegas menghadap Abu Ubaidah yang segera bertanya, “Apa yang telah mendorongmu melakukan demikian?.”
Setelah Abu Ubaidah mendengarkan laporan, berkata, “Sungguh Allah telah memberi petunjuk jalan ke surga padamu. Namun setelah ini jangan sekali-kali melakukan yang membahayakan sebelum minta ijin pada pimpinan.”
Pasukan Muslimiin memperhatikan Abu Ubaidah berbicara serius pada Sahl bin Shabach; seorang lelaki datang bergegas dari atas gunung untuk berterik, “Ayo bergegas  hai umat Muhammad! Susullah saudara kalian yang sedang kesulitan karena dikepung kaum Balbek!.”

Harbis panglima perang pasukan Balbek telah siap menggerakkan pasukannya untuk menyerang pasukan Muslimiin. Dia berkata pada pasukannya, “Hai penyembah Al-Masih! Seranglah golongan yang hanya sedikit lagi hina yang menghlang-halangi kalian memasuki kota ini! Kalau kalian berhasil membunuh mereka pasti lainnya akan lari ketakutan meninggalkan kita!.”   
Sa’id bin Zaid menggerakkan pasukan berjumlah kurang dari 500 orang untuk mengepung Harbis dan pasukannya di celah-celah gunung. Sa’id dan pasukannya terkejut oleh munculnya pasukan Balbek dari tempat persembunyian hampir bersamaan. Pasukan Muslimiin berteriak, “Sabar! Sabar,” sebagai sandi antar mereka agar waspada terhadap serangan.

Peperangan berkecamuk dengan sengit dan ribut. Ada terikan dari jauh keras sekali, “Adakah lelaki yang sanggup mengorbankan dirinya untuk Allah dan menolong pasukan Muslimiin?. Musuh telah dekat sekali!.” 
Mush’ab bin Adi melarika kuda untuk mendatangi suara, namun dua pasukan Balbek menghalangi dan menebas hingga dia tewas. Mush’ab memacu kudanya cepat sekali menuju teriakan. Kuda yang kecepatan larinya luar biasa segera sampai pada arah teriakan yang ternyata pasukan Muslimiin.

Di pasukan induk, Abu Ubaidah segera tahu bahwa ada bahaya menimpa pasukan Muslimiin. Dia berteriak pada pasukan berkudanya agar membantu yang sedang kesulitan; 500 pasukan jago-memanah berkumpul untuk mendatangi panggilan dan melaksanakan perintah, di bawah komando Sa’id bin Zaid.
Kepada Sa’id, Abu Ubaidah perintah, “Cepat bantu saudara kita di sana! Sebelum mereka diserbu musuh! Semoga Allah menyayangmu.”
Sa’id menggiring 500 pasukannya berkendaraan kuda menuju lokasi.

Abu Ubaidah memanggil untuk perintah Dhirar dan pasukannya, “Susullah pasukan Sa’id!.”   

0 komentar:

Posting Komentar