SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2015/02/25

PS 77: Pembebasan Syam






Tadinya, Watsilah bin Al-Asqa’ tergolong pasukan Abdullah bin Ja’far yang telah lemas dan berputus asa. Tiba-tiba dia dan teman-temannya melihat Khalid dan pasukan berkudanya, muncul untuk membantu. Serangan Khalid dan pasukannya ganas ‘mematikan’.
Mulai sejak serangan dimulai, hingga waktu isyak, mereka mengamuk dan menggila. Pasukan Romawi tewas berserakan, yang lain bercerai-berai ‘berlari’ ketakutan.
Yang paling ganas serangan Khalid, membuat pasukan Romawi berlarian menjauh, bagai ombak dari tengah laut, lari ke pantai. Hal itu, mempermudahkan pasukannya ‘membunuh dan menangkap’.
Abu Dzarr, Dhirar bin Al-Azwar, dan Al-Musayyab bin Najiyah Al-Fazari, termasuk kaum yang kegigihannya dalam berperang ‘paling menonjol’. Merekalah yang telah berjasa ‘menggerakkan pasukan’, untuk melancarkan serangan. Mereka pula yang mengamuk dan membunuh lawan, secara besar-besaran.

Di gelapnya malam itu, Dhirar terkejut, karena melihat dua pergelangan tangan Abdullah bin Ja’far ‘berlumuran darah’.
Dhirar menghibur, “Allah pasti akan membalas kau hai putra paman Rasulillah! Demi Allah dendam ayahmu telah terbalas, dan kau telah puas!.”
Abdullah bertanya, “Siapa yang berbicara padaku? Di malam yang gelap ini?.”
Dhirar diam tidak segera menerangkan jati dirinya.
Setelah dijawab, “Saya Dhirar sahabat Rasulillah SAW”, Abdullah merasa senang, dan berkata, “Selamat atas kedatanganmu! Ayo bantu kami!.”

Kedatangan Khalid dan pasukannya yang ganas sekali, sangat berpengaruh dalam peperangan itu. Khalid mensyukuri perjuangan Abdullah bin Unais, “Semoga Allah membalas kau dengan seindah-indah balasan.”
Abdullah bin Ja’far berkata, “Hai Dhirar! Pasukan elit dan para bathriq Romawi berada di perumahan itu, melindungi putri penguasa Tharabulus (طرابُلُس) yang sedang menikah. Mereka membawa harta kekayaan yang sangat banyak, namun dijaga ketat oleh pasukan yang ganas. Kalau kau sanggup menyerang bersamaku, akan saya antar ke sana.”
Dhirar menjawab, “Mana mereka?!.”
Adullah berkata, “Amatilah itu di sana!.” 

Bathriq Tharabulus mengomando pasukan elit, untuk menjaga putrinya yang sedang menjalani upacara pengantin. Sejumlah obor berkobar-kobar menerangi mereka, dan Salib-Salib gemerlapan. Di situlah pertahanan mereka yang paling kuat, seakan-akan tak mungkin bisa ditembus.
Dhirar berkata, “Semoga Allah menunjukkan kau pada kebaikan! Engkau telah menunjukkan saya! Saya akan menyerang mereka bersamamu.”
Abdullah menyerang mereka dengan garang. Dhirar bin Al-Azwar juga menyerang dengan ganas. Mendesak hingga mereka mundur ke belakang.
Bathriq Tharabulus maju ke depan ‘menakukan’. Dia meneriakkan kalimat kafir, lalu menyerang dengan garang, dengan pedang. Dhirar menyambut serangannya yang membahayakan.
Perkelahian mematikan dengan senjata, berlangsung seru. Dhirar grogi melihat musuhnya lebih besar dan lebih tinggi, serangannya ganas sekali. Kecepatan gerak pedang dan kokohnya tangkisan perisai, menunjukkan kekuatan bathriq Tharabulus sempurna. Dhirar dan sang bathriq bertempur menggila, di atas kuda.
Dhirar sendirian, di pertengahan pasukan Romawi, bertempur melawan sang bathriq.
Beberapa pasukan berlari cepat, membantu Tharabulus. Tiba-tiba Dhirar meloncatkan kudanya, menghindari serangan serempak mereka.
Di dalam gelap, seorang Romawi menyodorkan kayu untuk menjegal kuda, dan agar Dhirar terlempar. “Prak! Grubyuk!” Dhirar terlempar, lalu bangkit berdiri secepat-cepatnya, untuk menaiki kudanya yang ternyata belum berdiri.
Dhirar siaga penuh dengan pedang dan perisainya, untuk melawan sejumlah pasukan yang berdatangan. Untuk melancarkan serangan berbahaya.
Dari atas kuda, Tharabulus melemparkan tongkat. Dhirar menghindari lalu bergerak cepat, menyerang. Dua kaki kuda Tharabulus dipukul, hingga kuda sempoyongan. Mata kuda dipukul, “Prak! Prak” Hingga kuda itu roboh ke tanah bersama pengendaranya. “Grubyuk.”
Bathriq Tharabulus kesulitan berdiri karena terhalang oleh tali yang pengait pada pelana kudanya. Dhirar sontak menyerang, sebelum pasukan elit datang membantu sang bathriq. Pedang Dhirar yang ditebaskan, “Crang” Tak mampu memotong leher sang bathriq, karena terhalang anyaman besi pelindung leher. Dhirar menarik agar sang bathriq terjun ke bawah.
Dhirar terjun untuk mengikuti sang bathriq di bawah. Lalu menindih sang bathriq yang terlentang. Lalu menghunus dan menusukkan belati made in Yaman pada leher, setelah anyaman besi pelindung leher disingkapkan. Bathriq Tharabulus tewas. 

Dhirar bergerak cepat, merampas dan mengendarai kuda  Tharabulus, yang telah berdiri. Kuda itulah yang paling gagah, gemerlapan oleh banyaknya perhiasan: emas, perak, dan batu-batu mulia yang sangat mahal. [1]
Dhirar memacu kuda dan bertakbir, lalu menyerang dan mencerai-beraikan kaum musyrik. Abdullah telah menguasai perumahan Abu-Quds dan seluruh orang, maupun barang-barang yang di dalamnya.
Walau begitu Abdullah dan teman-temannya tidak mengambil barang-barang itu, karena menunggu Khalid datang.

Khalid sedang mengejar pasukan Romawi yang berlari menuju sungai sangat luas lagi dalam, di pinggir kota Tharabulus. Khalid berhenti di situ; sebagian pasukannya pulang.
Perumahan Abul-Quds tempat upacara pengantin, telah dikuasai sepenuhnya. Harta kekayaan yang dijarah banyak sekali. Barang-barang pasar tiban yang ditinggalkan oleh pemiliknya,  juga disita.
Malam itu pasukan Muslimiin senang sekali, karena mendapatkan barang-barang berharga, dan bermacam-macam makanan.
Pengantin wanita cantik rupawan, diiringi oleh 40 dayang-dayang, berpakain mewah gemerlapan, disuruh keluar dari rumah mewah itu. Harta kekayaan di dalam rumah dikumpulkan, dimuatkan pada kuda-kuda jantan, keledai, dan himar.

Yang paling penting untuk dicatat dalam penaklukan kota Abul-Quds adalah:
1.                  Abdullah bin Ja’far sebagai panglima perang.
2.                  Abdullah bin Unais ‘penghubung’ pasukan tempur, dengan Panglima Abu Ubaidah.
3.                  Khalid bin Al-Walid sebagai komandan bala bantuan, yang menentukan kemenangan.

Dalam keadaan luka parah, Khalid mendekat untuk memanggil rahib di atas rumah: “Hai rahib!.”
Dua kali dipanggil oleh Khalid, namun rahib tak mau nongol, sehingga Khalid memukul-mukul rumahnya. Wajah rahib muncul dari cendela untuk berkata, “Kau mau apa? Demi kebenaran Al-Masih, Penguasa langit biru pasti akan menuntutmu mengenai darah orang-orang yang telah kalian bunuh itu.”
Khalid menggertak, “Bagaimana mungkin akan menuntut kami? Padahal Allah telah perintah agar kami memerangi kalian dan menjanjikan pahala? Demi Allah kalau Rasulillah SAW tidak melarang kami, pasti tempat peribadatanmu telah saya rusak! Dan kau telah saya bunuh dengan cara paling kejam.”
Rahib diam tidak menjawab.

Khalid, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Unais, dan pasukan semuanya, pulang membawa kekayaan, menuju Damaskus. Meski sangat lelah dan merasakan perih, tetapi mereka sangat berbahagia. Tawanan yang paling menarik dalam arak-arakan panjang itu, putri bathriq Tharabulus yang baru saja menjadi pengantin.




In syaa Allah bersambung.



Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia


[1] فتوح الشام (1/ 97)
ثم وثب ضرار وملك جواد عدو الله واستوى في سرجه وكان على الجواد كثيرا من الذهب والفضة والفصوص التي تساوي ثمنا كثيرا.

2015/02/24

PS 76: Pembebasan Syam





Pada Khalid yang dihormat, Abu Ubaidah berkata, “Hai ayah Sulaiman! Bantulah saudara-saudaramu! Semoga Allah memberi kau rahmat.”

Khalid bergerak cepat menakutkan, bagai singa jantan yang marah. Baju perang bekas milik Musailamah Al-Kadzdzab (مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ) penguasa Yamamah, dan helm perang, telah dikenakan. Tak ketinggalan chusam-nya digenggam dengan tangannya. [1] Dia telah duduk tegak di atas kuda, beralas pelana.
Pada pasukan andalan (Jaisyuz-Zahf/جيش الزحف), dia menyeru, “Ayo menyerang pasukan berpedang itu!.”
Sontak pasukan  berdatangan mendekat cepat, bagai kawanan burung garuda. Semua membawa senjata, mendatangi Panggilan Tuhan.
Khalid mengibarkan panji di udara.
Mereka berlarian mengelilingi dari segala penjuru.
Ada pesan yang disampaikan, sebelum berangkat.

Arak-arakan pasukan berkuda berangkat, dengan penunjuk jalan, Abdullah bin Unais. Tokoh penting bernama Rafi’ bin Umairoh, ikut dalam rombongan.
Mereka berlari cepat dengan kuda. Allah mempercepat lari mereka.
Derap kaki arak-arakan mengusir sepi; debu-debu beterbangan.
Matahari tenggelam; mereka sampai tujuan.

Pasukan Romawi bagai kawanan semut, banyak sekali.
Abdullah dan pasukan berjumlah 5.00 tidak tampak, karena di pertengahan kepungan lautan lawan.
Dengan terengah-engah, Khalid bertanya, “Hai putra Unais! Di mana saya harus mencari ‘putra paman Rasulillah?’.”
Abdullah bin Unais menjawab, “Kata dia ‘tempat kumpul mereka’ di bawah rumah kediaman rahib, atau di surga.”
Setelah mengamati dengan teliti, Khalid melihat ‘panji Islam’ berkibar, di sudut jauh.
Abdullah dan pasukannya sangat lelah. Harapan hidup mereka telah menipis. Telah yakin bahwa hidup akan segera berakhir. Ketika luka makin banyak, mereka yakin sepenuhnya bahwa ‘akan segera tewas’, menuju alam baka.

Abdullah perintah, “Lawan dan bertahan! Ketahuilah bahwa ‘Allah telah melihat kita’!” Lalu membaca, “Kam min fiatin qaliilatin ghalabat fiatan katsiiratan bi Idznillaaahi wa Allahu ma’asshaabiriin.
Artinya: Banyak golongan sangat sedikit, telah mengalahkan golongan sangat banyak, karena Idzin Allah. Allah menyertai kaum sabar.
Mereka bergetar saat mendengar Ayat Allah dibaca dengan suara merdu. Khalid dan pasukannya bergerak cepat menyeberangi lautan lawan, mengikuti Abdullah bin Unais dan kawan-kawannya. Dan terkejut, saat melihat Abdullah bin Unais dan kawan-kawannya berdarah, luka parah, oleh goresan senjata tajam. Lalu perintah, “Tumpahkanlah darah kaum jahat ini! Untuk mencoba pedang kalian! Berbahagialah hai kaum yang rajin mendatangi panggilan sholat!.” [2]

Di saat Abdullah bin Ja’far dan teman-temannya telah lemas dan putus harapan, Khalid dan pasukan berkudanya telah semakin dekat. Derap kaki kuda dan hiruk-pikuk mereka menyeruak. 
Awalnya, Abdullah dan kawan-kawan justru menyangka ‘yang datang mendekat’ bala-bantun lawan. Sehingga mata mereka terbelalak dan tubuh mereka lunglai, karena yakin ‘pasti akan segera tewas’.
Pasukan musyrik telah mengepung rapat sekali, pada Abdullah dan kawan-kawannya. Dan serangan mereka justru makin ganas.

Ada suara keras mengejutkan, “Hai ahli Al-Qur’an! Pertolongan dari Rohman telah datang!.”
Ada orang menakutkan, datang cepat sekali, dengan kuda. Tangannya bersinar bagaikan bulan, mulutnya meneriakkan, “Berbahagialah hai ahli Al-Qur’an! Kalain mendapat pertolongan! Sayalah Khalid!.”
Abdullah dan kawan-kawannya meledakkan tahlil dan takbir keras sekali, karena bahagia. Ribuan pasukan Romawi terkejut. Khalid dan pasukan berkudanya melancarkan serangan menggila bertubi-tubi. Pasukan Romawi berguguran banyak sekali. Yang masih hidup lari terbirit-birit ke segala arah. Yang merasa kuat dan pemberani yang masih bertahan melawan.
Khalid telah berdekatan dengan Abdullah yang berlumuran darah karena luka parah.  






Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia



[1] Chusam adalah ‘pedang pilihan’ sangat tajam.
[2] فتوح الشام (1/ 95)
فنظر خالد نحو الدير فشاهد الراية الإسلامية وهي بن عبد الله بن جعفر وما من المسلمين إلا من اصيب بجرح وقد ايسو من الحياة الفانية وطعموا في الحياة السرمدية والروم تناوشهم بالحرب وتكثر الطعن الضرب وعبد الله بن جعفر يقول لأصحابه: دونكم والمشركين واصبروا لقتال المارقين واعلموا إنه قد تجلى عليكم ارحم الراحمين ثم قرأ الاية قوله تعالى: {كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ} [البقرة: 249] فلما نظر خالد رضي الله عنه إلى صبرهم وتجلدهم على القتال اعدائهم لم يطق الصبر دون أن حمل عليهم وهز رايته وقال لأصحابه: دونكم القوم القباح فأرووا من دمائهم السلاح وابشروا بالنجاح يا أهل حي على الفلاح.

Pertimbangan Tuhan



Allah Subhanah juga mempertimbangkan, Bat
Tapi Maha Cepat
Dan berfirman, “Barangsiapa memusui Kekasih Ana
Maka Ana mengumumkan ‘Perang’ padanya
Belum pernah Hamba mendekat Ana
Dengan amalan yang lebih menyenangkan 
Aku (Tuhan)
Daripada mengamalkan yang telah Aku wajibkan
Tak henti-henti Hamba mendekati Ana
Dengan amalan sunnah hingga
Ana cinta dia
Jika Ana telah cinta dia
Ana ‘Pendengaran’ yang dia gunakan mendengarkan
‘Mata’ yang dia gunakan memperhatikan
‘Tangan’ yang dia gunakan berpegangan
Dan ‘Kaki’ yang dia gunakan berjalan
Jika minta; sungguh Ana memberi dia
Jika minta perlindungan; Aku benar-benar melindungi dia
Secara serius, Aku belum bernah mempertimbangkan
Seperti Aku mempertimbangkan ruh orang iman
Dia takut mati; Aku benci dia menderita.”  [1]


[1] صحيح البخاري (8/ 105)
6502 - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ "
__________

[تعليق مصطفى البغا]
6137 (5/2384) -[ش (وليا) هو العالم بدين الله تعالى المواظب على طاعته المخلص في عبادته. (آذنته بالحرب) أعلمته بالهلاك والنكال. (مما افترضت عليه) من الفروض العينية وفروض الكفاية. (كنت سمعه. .) أحفظه كما يحفظ العبد جوارحه من التلف والهلاك وأوفقه لما فيه خيره وصلاحه وأعينه في المواقف وأنصره في الشدائد. (استعاذني) استجار بي مما يخاف
(ما ترددت) كناية عن اللطف والشفقة وعدم الإسراع بقبض روحه
(مساءته) إساءته بفعل ما يكره].

PS 75: Pembebasan Syam





Sejak dulu saya cinta Ja’far dan Abdullah, putranya. Ketika Abu Bakr As-Shiddiq ayah tiri Abdullah RA, wafat; Abdullah telah tumbuh dewasa; Ibu Abdullah berduka-cita.  
Pasukan Muslimiin dari Madinah telah diberangkatkan ke Damaskus, sebelum Abu Bakr wafat.
Abdullah minta agar Umar memberi ‘idzin bergabung’ menuju Damaskus.
Kepadaku, Abdullah berkata, “Hai putra Unais! Saya ingin ditemani oleh 20 pasukan berkuda, untuk berjihad di Syam. Mau ikut?.”  
Saya menjawab, “Tentu.”
Abdullah telah mendapat teman 20 pasukan berkuda. Dia berpamitan pada Ali dan Umar RA, untuk segera berangkat.
Sebelum ke Damaskus, dia pergi ke Tabuk. Dia bertanya, “Hai putra Unais, bukankah kau tahu letak makam ayahku?.”
Saya menjawab, “Tentu.”
Dia berkata, “Saya ingin sekali ziarah ke sana.”
Saya menghantar dia bersama rombongan, menuju makam Ja’far. Sebelumnya, saya juga menunjukkan tempat  berperang dan gugurnya Ja’far.
Di sisi makam yang diberi tanda batu-batuan itulah, Abdullah menangis dan berdoa, agar ayahnya mendapat rahmat. Kami berada di sana selama dua pagi.
Ketika kami meninggalkan tempat; Abdullah menangis dan wajahnya merah bagai parfum Za’faron.
Saya bertanya, “Ada apa?.”
Dia menjawab, “Semalam saya bermimpi bertemu ayah. Dia berbusana dua hullah hijau, bermahkota, dan bersayap. Membawa pedang terhunus berwarna hijau, untuk diserahkan padaku. [2] Dia berpesan ‘hai anakku! Perangilah musuh-musuhmu dengan pedang ini! Kau takkan sampai kesini, kecuali dengan berjihad’.
Dalam mimpi itu, seakan-akan saya berperang, hingga pedang yang saya gunakan, tumpul.

Rombongan kami sampai Damaskus, dan bergabung pada pasukan Abu Ubaidah RA. Di sana Abdullah diutus oleh Abu Ubaidah, agar memimpin Perang Abul-Quds.
Ketika Abdullah tidak tampak, karena dikepung musuh berjumlah banyak; saya memacu kuda secepat-cepatnya, menuju Abu Ubaidah, di Damaskus.

Abu Ubaidah bertanya, “Khabar gembira kan?.”
Saya berkata, “Tolonglah Abdullah bin Ja’far dan pasukannya” Lalu melaporkan kejadian yang ada.
Pada dirinya sendiri, Abu Ubaidan berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaiHi raaji’uun. [3] Masyak rombongan Abdullah bin Ja’far mendapat musibah besar, di awal pemerintahanmu?.”
Pada Khalid, dia menoleh dan berkata, “Hai ayah Sulaiman! Saya minta demi Allah! Susullah Abdullah bin Ja’far! Kau bertugas membereskan urusan ini.”
Khalid berkata, “In syaa Allah saya, yang akan membereskan urusan ini. Sebetulnya saya telah menunggu perintah.”
Abu Ubaidah berkata, “Saya sungkan kau.”
Khalid menjawab, “Demi Allah! Meskipun hanya anak kecil, kalau pimpinan, pasti saya taati. Apa lagi pada kau yang iman dan Islamnya lebih dulu daripada saya. Bahkan kau diberi nama kehormatan (Al-Amiinالأمين//Orang Terpercaya), oleh Rasulullah SAW. Sampai kapanpun saya takkan membandingi kau. Saya persaksikan padamu bahwa ‘diriku’ saya tempatkan di Jalan Allah, dan ‘takkan menentang’ kau, dan ‘takkan merasa pandai’ di depanmu, selama-lamanya.




Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia 


[1] Tulisan ini dan sebelumnya, sebagai jawaban ‘fitnah’ bahwa “Umar dendam” Pada Khalid.   
[2] Hullah seperti pakaian ihrom.
[3] Artinya: sungguh kita milik Allah, dan sungguh kita akan kembali pada-Nya.