SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjkarta Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjkarta Indonesia. Tampilkan semua postingan

2015/02/10

PS 51: Pembebasan Syam






Di beberapa tempat di luar benteng, para sahabat Rasulillah SAW bertempat. Sambil membaca tahlil, takbir, dan sholawat, untuk Rasulillah SAW
Suara mereka menggemuruh bagai hujan lebat, turun ke bumi.
Khalid berada di kampung kecil bersama sejumlah pasukan, berjauhan dari kelompok lainnya. Di situlah para wanita, keluarga, harta, dan rampasan perang, berada.

Rafi’ bin Umairoh bersama sejumlah pasukan, di dekat Pintu GerbangTimur.
Semua pasukan di beberapa tempat itu ‘berjaga’, hingga sinar fajar menyingsing dari ufuk timur.
Setiap pemimpin, mengimami sholat pasukannya.

Agar menyerang, Abu Ubaidah menggerakkan pasukan, “Jangan berhenti! Kendarailah kuda kalian!.”

Qois yang mengikuti peperangan tersebut, menjelaskan pada putranya:
“Semua pasukan hanya berjalan kaki, kecuali sekitar 2.000 orang, yang dipimpin oleh Dhirar. Dia dan pasukan berkudanya mengelilingi kota. 
Setiap berhenti di dekat pintu gerbang, dia memberi semangat perang, pada pasukan yang berada di situ. ‘Sabar! Menghadapi Musuh Allah harus sabar!’.”

Tuma menantu Raja Hiraqla, keluar dari rumah kediaman, menuju pintu Gerbang-Tuma. Nama pintu gerbang itu, diambil dari namanya. Di pertengahan kerumunan kaum yang hiruk-pikuk, ada seorang rahib rajin beridah. Dialah orang musyrik yang paling rajin beribadah, dan sangat fanatik dalam agama Nashrani. 
Di Romawi Timur, dia sangat diagung-agungkan.  

Hari itu Tuma dibawakan Salib sangat besar, menaiki sudut benteng. Dia minta, agar sejumlah bathriq mengelilingi dirinya. Sejumlah orang arif berkumpul membawakan Injil, didekatkan pada Salib. Di pertengahan hiruk-pikuk pasukan, Tuma menyentuh tulisan dalam Injil. Dan berdoa, “Ya Allah, jika agama kami benar, maka berilah kami kemenangan. Jangan Kau serahkan kami pada musuh-musuh kami. Mana di antara kami yang ‘aniaya’, maka rendahkanlah. Engkaulah yang tahu tentang itu. Ya Allah, kami mendekatkan diri pada-Mu dengan Salib ini, dan dengan ‘Orang’ yang dulu disalib, karena membela agamaNya. Dia menunjukkan sejumlah Tanda ‘bahwa Dia Tuhan’ yang harus disembah. Tolonglah kami ‘menaklukkan kaum aniaya ini’.” [1]
Semuanya mengamini, hingga suara menggemuruh. Doa dibaca dengan bahasa Romawi.

Syurachbil bin Chasanah berkata, “Yang menterjemahkan untaian doa itu,  untuk kita, Rumas mantan penguasa Bushro.”

Kaum Muslimiin menyebut Rumas, ‘Abdul-Malik’.
Abdul-Malik sudah masuk Islam, dan bergabung dalam pasukan Syurachbil, berperang dari arah Pintu Gerbang Tuma. Syurachbil dan pasukannya mendobrak pintu gerbang. Lalu membentak Tuma, “Hai orang laknat! Kamu bohong! Sungguh gambaran ‘Isa AS di sisi Allah, bagaikan Adam AS, dicipta dari tanah! Allah menghidupkan ‘Isa AS di waktu menghendaki, dan mengangkat ke langit, pada waktu menghendaki!.”

Dengan gigih, Abdul-Malik mendekati dan memerangi Tuma. 
Pasukan Romawi melemparkan batu-batu dan meluncurkan anak-panah bertubi-tubi. Beberapa lelaki Muslimiin terluka, bahkan Aban bin Sa’id bin Al-Ash terkena panah beracun[2] Luka dia berat, sehingga terpaksa mundur lemas, dan diusung oleh saudara-saudaranya, menuju tempat yang aman.
Walau begitu dia bersikeras akan ‘maju’ lagi, untuk berperang.
Teman-temannya ingin melepas surban pengikat lukanya, tapi dia menolak.
Dengan lemas, dia berkata pelan, “Kalau kalian melepas surban, ruhku akan melayang! Demi Allah sungguh Allah telah memberi saya anugrah ‘yang telah saya angan-angan’ sebelumnya.”

Beberapa saat, Aban tak berbicara lagi. Teman-temannya membuka surban penutup lukanya. Ternyata dia sedang sakarat, matanya melihat ke langit, sambil isarah dengan jarinya. Dan berkata, “Laa Ilaah illaa Allaah Muhammad Rasulullah. Inilah yang telah dijanjikan oleh Rahman, berarti para rasul telah benar.” [3]







[1] فتوح الشام (1/ 65)
وكان عندهم عابدا راهبا ولم يكن في بلاد الشرك أعبد منه ولا أزهد في دينهم وكان معظما عند الروم فخرج ذلك اليوم من قصره والصليب الأعظم على رأسه وعلا به فوق البرج وأوقف البطارقة حوله والإنجيل تحمله ذوو المعرفة قال: ونصبوه بالقرب من الصليب ورفع القوم أصواتهم وتقدم توما ووضع يده على أسطر من الإنجيل وقال اللهم أن كنا على الحق فانصرنا ولا تسلمنا لاعدائنا واخذل الظالم منا فانك به عليم اللهم اننا نتقرب إليك بالصليب ومن صلب على دينه وأظهر الايات الربانية والأفعال اللاهوتية انصرنا على هؤلاء الظالمين.
[2] فتوح الشام (1/ 65)
وكان ممن جرح أبان بن سعيد بن العاص أصابته نشابة وكانت مسمومة.
[3] فتوح الشام (1/ 65)
 فلم يسمعوا قوله وحلوا عمامته فلما حلوها شخص إلى السماء وصار يشير باصبعيه أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون فما استتمها حتى توفي إلى رحمة الله تعالى.

2015/02/07

PS 45: Pembebasan Syam







Dengan ketakutan, Dawud kembali lagi menghadap Khalid, untuk berkata, “Wahai pemimpin. Sebetulnya ada rahasia yang belum saya buka. Karena negeri ini akan segera tuan kuasai, maka saya akan berterus terang. Sungguh Wardan telah merencanakan tipu-muslihat.”
Khalid bertanya, “Bagaimana maksudmu?!.”
Dengan gemetar, dia menjawab, “Dalam pertemuan tuan dan dia nanti, waspadalah! Jangan lengah! Dia telah merencanakan muslihat untuk membunuh tuan.”
Lalu menceritakan yang dia ketahui dengan sejelas-jelasnya. Dan menambahkan, “Terus terang saya mohon, agar saya dan keluarga saya ‘dijamin aman’.”
Khalid menjawab, “Kau, keluargamu, dan anak-anakmu, saya jamin aman, dengan syarat merahasiakan pembicaraan kita ini, pada mereka.”
Dawud menjawab, “Kalau saya ingin berkhianat, pasti tidak mungkin membocorkan rahasia mereka ini, pada tuan.”
Khalid bertanya, “Di mana mereka akan bersembunyi?.”
Dia menjawab, “Di sisi gunung pasir, kanan ‘pasukan Romawi’.”

Dawud bergegas pulang untuk menemui Wardan. Untuk melaporkan ‘Pertemuan dan Pembicaraan’ dia dengan Khalid. “Semua sudah saya katakan padanya” kata Dawud.

Dengan berbahagia, Wardan berkata, “Sekarang saya yakin, bahwa sang Salib benar-benar akan menolong saya.”
Wardan mengundang, untuk memberitahukan rencananya, pada sepuluh pasukan elit. Lalu perintah, “Pergilah ke sana dengan berjalan kaki, secara diam-diam!.”


Khalid masuk ke barak, ditemui oleh Abu Ubaidah yang sangat berwibawa, karena Sabda Nabi SAW, “Abu Ubaidah ‘Kepercayaan’ ini umat.”
Khalid tersenyum dan disapa oleh Abu Ubaidah, “Hai Aba Sulaiman, semoga Allah membuatmu tertawa. Ada berita apa?.”

Dua tokoh besar itu berbicara serius mengenai ‘Rencana Tipu-Muslihat Wardan’ yang harus imbangi.  
Abu Ubaidah bertanya, “Lalu apa rencana kau?.”
Khalid menjawab, “Saya akan menghadapi dia sendirian.”
Abu Ubaidah mengingatkan, “Demi umurmu! Kau sendiri bisa mengatasi! Tapi Allah melarang bunuh diri! Bahkan berfirman ‘persiapkan kekuatan dan ikatan kuda semampu kalian! Untuk menghadapi mereka! Dengan itulah, kalian membuat Musuh Allah dan musuh kalian takut’. Allah akan memberi kau sepuluh pasukan pengawal. Ditambah Allah sendiri yang kesebelasnya. Saya khawatir jika orang terkutuk itu menyerang kau tiba-tiba. Pastikan! Kau membawa sepuluh pasukan ‘sama seperti mereka’. Perintahlah agar pasukanmu bersembunyi di dekat mereka. Jika Wardan memanggil pasukannya! Panggillah pasukanmu agar datang. Kami di sini akan bersiap-siap, jika kau telah merampungkan urusanmu, kami akan menyerang kaum Romawi semuanya. Saya yakin saat itulah, Allah menolong kita mengalahkan mereka.”
Khalid memanggil sepuluh pasukan elit: 
1.     Rafi’ bin Umairah. 
2.     Mu’adz bin Jabal. 
3.     Dhirar bin Al-Azwar. 
4.     Sa’id bin Zaid. 
5.     Qois bin Hubairoh. 
6.     Maisaroh bin Masruq. 
7.     Adi bin Chatim (عدي بن حاتم).
8.     Dan lainnya. 
Mereka diberi tahu bahwa ‘Wardan dan sepuluh pasukan elitnya’ merencanakan tipu-muslihat. Dan Khalid akan mengimbangi mereka.
Khalid perintah, “Berangkatlah berjalan kaki secara diam-diam! Menuju gunung pasir, sebelah kanan mereka! Carilah tempat persembunyian di sana! Jika saya berteriak! Segeralah datang untuk menyerang mereka! Tiap seorang bertugas menyerang seorang! Yang menghadapi Wardan Musuh Allah, saya sendiri. In syaa Allah saya bisa mengatasi dia.”
Dhirar berkata, “Wahai pimpinan! Saya khawatir jika yang akan menyerang kau ternyata banyak. Terus terang saya mengkhawatirkan kau. Saya justru merencanakan untuk ini:
‘Sekarang juga kami bersepuluh, akan mendatangi tempat persembunyian mereka. Kalau mereka tidur, kami bunuh. Sebelum subuh, kami usahakan pekerjaan ini selesai. Selanjutnya tempat itu, akan kami gunakan bersembunyi. Di waktu kau mengadakan pertemuan khusus dengan Musuh Allah itu, kami bisa muncul sewaktu-waktu’.”
Khalid perintah, “Laksanakan rencanamu jika kau mampu! Ajaklah pasukan elit yang telah kutunjuk tadi untuk kau pimpin! Saya yakin Allah akan membuat kau berhasil melaksanakan!.”

Di malam kelam itulah, Dhirar dan sembilan temannya berangkat, menuju gunung pasir (Al-Katsib الكثيب), dengan membawa senjata. Saat itu, sepertiga malam telah berlalu. Ketika hampir sampai di tempat, Dhirar perintah, “Berhenti! Akan saya cek dulu keadaannya.”

Ketika Dhirar semakin mendekat, untuk melihat keadaan, sepuluh pasukan elit Romawi itu, telah tidur mendengkur. Setelah didekati, ternyata di sisi mereka, ada wadah minuman keras. Mereka tidur nyenyak karena terlalu capek, sehingga bisa didekati dengan aman.
Dhirar berkata dalam hati, “Jika saya meneriaki teman-teman, mereka ini bisa bangun.”
Dhirar bergegas menuju teman-temannya untuk mengatakan, “Berbahagialah, Allah akan segera mewujudkan rencana kalian, dan telah menghilangkan yang kalian khawatirkan. Hunuslah pedang kalian! Dan datangi mereka yang sedang tidur pulas itu! Bunuhlah terserah bagaimana caranya!.”
Sepuluh pasukan elit tidur pulas, menyanding pedang di atas kepala. Tak lama kemudian hidup mereka berakhir, oleh tebasan pedang sepuluh Muslimiin.
Pedang, perbekalan, dan harta mereka, diambil. Dhirar berkata, “Berbahagialah! Ini awal pertolongan in syaa Allah.

Dhirar dan teman-temannya melakukan sholat dan berdoa, agar Allah menolong memberi kemenangan besar. Semua mengamalkan sholat dengan khusu’, hingga fajar menyingsing, dari ufuk timur.
Setelah selesai sholat subuh, teman-teman Dhirar mengenakan pakaian mayat-mayat yang berserakan. Mayat-mayat disembunyikan, agar jika utusan Wardan datang mengecek, tidak ditemukan.  

Di subuh yang indah itu, langit dan bumi bertasbih pada Allah. Ribuan malaikat turun ke bumi. Khalid mengimami mereka, sholat subuh.
Khalid menata barisan laskar, untuk persiapan perang akbar. Tiba-tiba seorang berkuda datang mendekat untuk berkata, “Hendaklah pimpinan kalian keluar menemui tuan Wardan pimpinan kami! Untuk melaksanakan perundingan! Agar pertumpahan darah segera berakhir!.”
Khalid bergegas menaiki kuda. 
Lelaki Romawi itu berpesan, “Tuan nanti jangan marah dulu, sehingga memahami maksud tuan saya!.”
Khalid menjawab, “Saya mendengar dan akan melaksanakan! Sekarang pulanglah! Dan beri tahu dia, bahwa saya akan segera mendatangi tempat yang telah ditentukan!.”

Wardan keluar dari barak, mengenakan kalung dari Jauhar  yang indah, dan mahkota gemerlapan.
Ketika melihat mahkota dan kalung Wardan, Khalid bergumam, “Ini akan menjadi milik Muslimiin in syaa Allah.”
Ketika melihat Khalid, Wardan turun dari kudanya.
Khalid juga turun dari kudanya, untuk duduk bersanding dengan Wardan, yang duduk sambil memangku pedang.
Khalid berkata, “Katakan apa maumu dan jujurlah! Laluilah jalan yang benar! Kau duduk di sisi lelaki Arab yang tak mengenal siasat perang. Katakan apa maumu!.”
Dengan bahasa Arab, Wardan berkata, “Hai Khalid! Sebetulnya apa? Yang sangat kau inginkan selama ini? Katakan apa permintaanmu! Kami pasti akan mengabulkan.”
Wardan terlalu sombong, sehingga ucapannya tak terkontrol: “Kami semua tahu bahwa, negeri kalian kering, kekurangan makanan. Bangsa kalian banyak yang mati kelaparan, sehingga pemberian kami sedikit saja, pasti akan banyak menurut kalian. Setelah kami beri, segera pergilah!.”
Wardan terkejut, saat mendengar Khalid berkata, “Hai anjing Romawi! Sungguh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung telah memberi kami kecukupan, hingga tak lagi membutuhkan harta maupun belas kasihan kalian! Allah akan menjadikan harta, perempuan, dan anak kalian, sebagai rampasan kami. Kecuali jika:
1.     Kalian berkata ‘laa Ilaah illaa Allah, Muhammad Rasul Allah!' 
2.     Jika tak mau mengucapkan, berarti kita harus berperang.
3.     Atau kau membayar pajak pada kami dengan hina.
Demi Allah, saya bersumpah ‘sesungguhnya saya lebih senang berperang’ daripada berdamai dengan kalian! Hai Musuh Allah! Mengenai penilaianmu ‘kami umat yang lemah’. Kami pun juga menganggap kalian ini sederajat anjing-anjing. Ketahuilah bahwa karena Pertolongan Allah, seorang dari kami sanggup melawan serubu orang kalian. Dan ucapanmu yang tidak senonoh, tidak pantas diutarakan untuk mengupayakan perdamaian. Kalau kau ingin kita bertemu berduaan! Ayo lakukanlah apa maumu!.”
Kemarahan Wardan meluap-luap, hingga tak mampu lagi mengendalikan diri. Dia bergerak cepat, meninggalkan pedangnya, untuk menangkap Khalid. Mereka berdua bergulat dan saling memukul. Wardan memeluk erat agar Khalid tak bisa berlari. Khalid memeluk erat agar Wardan tak mengambil pedangnya. Wardan berteriak kesakitan oleh pelukan Khalid yang terlalu erat: “Kemarikan Salibku karena saya disekap oleh pimpinan Arab!.”
Wardan akan berteriak lagi. Tapi pasukan elit Muslimiin telah bergerak dengan gagah, mengenakan pakaian pasukan elit kaum Wardan. Kecuali Dhirar, dia telanjang dada bercelana panjang. Mereka meninggalkan busur, dan membawa pedang terhunus.
Dhirar datang, mendahului teman-temannya, dan menggeram bagai singa jantan. Yang lain datang setelah itu.
Sebelumnya, Wardan yakin ‘yang berdatangan’ pasukan elitnya. Setelah terkejut oleh geraman Dhirar, dan datangnya pasukan Muslimiin, Wardan memohon dengan suara serak, “Saya minta demi benarnya Tuhan yang kau sembah, kau saja yang membunuhku! Jangan syaitan ini” Pada Khalid.
Khalid menjawab, “Justru dia yang akan membunuh kau.”
Khalid mempererat pelukannya, agar Wardan tidak bisa kabur. Dhirar mengayunkan pedang sambil berkata, “Hai Musuh Allah! Tipuanmu pada para sahabat Rasulillah tidak berhasil.”
Khalid melarang, “Hai Dhirar bersabarlah! Jangan kau bunuh sebelum saya perintah!.”
Para sahabat Rasulillah mengerumuni, sambil menodongkan pedang ke wajah Wardan. Wardan merebah ke tanah dan menyerah, sambil mengangkat tangan kedepan. Dengan bergetar, dia memohon agar diselamatkan. Namun Khalid berkata, “Hai Musuh Allah! Yang kami beri jaminan selamat, hanya yang pantas diberi jaminan selamat. Sedangkan kau telah bermakar atas kami secara nyata. Namun Allah lah sebaik-baik yang sama melancarkan tipu-muslihat.
Secepat kilat, Dhirar menusukkan pedang pada pundak Wardan. Setelah menembus pundak, ujung pedang tampak berkilau. Wardan rebah bersimbah darah.

Dhirar melepas mahkota dari kepala Wardan, sambil berkata, “Yang duluan menguasai lah yang berhak mengambil.”

Dengan marah, sembilan sahabat Dhirar menebas dan memotong-motong anggota tubuh Wardan. Karena penjahat perang ini telah menyusun rencana membunuh dan memotong-motong Khalid. 
Lalu mereka bergegas mengambil pedangnya.  


2013/07/10

Sengaja Bunuh Orang Iman





Di awal nabi SAW hijrah ke Madinah, terjadi tragedi berdarah yang menggegerkan masyarakat Islam. Seorang muslim membunuh orang yang tidak diketahui Islamnya. Kaum Muslimiin makin tercengang, karena Allah menurunkan Pelajaran Hukum pada mereka berkenaan tragedi tersebut. Inilah Ayat tersebut:

‘{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا} [النساء: 92]’.


Artinya:
1.     (Sejak dulu) orang iman tidak berhak membunuh orang iman, kecuali karena keliru.
2.     Barangsiapa membunuh orang iman karena keliru, maka (kafarahnya) memerdekakan budak iman dan (membayar) denda, diserahkan pada ahlinya. Kecuali jika mereka menyodakoh (mengikhlas)kan.
3.     Jika dia (yang terbunuh) berasal dari kaum musuh bagi kalian, namun dia beriman, maka (kafarahnya) memerdekakan budak iman.
4.     Jika dia berasal dari kaum (dzimmi) yang (ada) ikatan perjanjian (damai) antara kalian dan mereka, maka (kafarahnya membayar) tebusan, diserahkan pada ahlinya, dan memerdekakan budak iman.
5.     Barangsiapa tidak menjumpai (kemampuan), maka berpuasa dua bulan berturut-turut, sebagai tobat dari Allah. Sejak dulu Allah Maha Alim Maha Kaya Hikmah.

Ibnu Katsir menjelaskan Sabab Annuzul Ayat yang memuat lima pasal di atas, namun penjelasan yang lebih jelas dari Azzamakhsyari: تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل (1/ 548)
وروى أنّ عياش بن أبى ربيعة- وكان أخا أبى جهل لأمّه- أسلم وهاجر خوفا من قومه إلى المدينة، وذلك قبل هجرة رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم، فأقسمت أمه لا تأكل ولا تشرب ولا يؤويها سقف حتى يرجع. فخرج أبو جهل ومعه الحارث بن زيد بن أبى أنيسة فأتياه وهو في أطم فقتل منه أبو جهل في الذروة والغارب، وقال: أليس محمد يحثك على صلة الرحم، انصرف وبرّ أمك وأنت على دينك، حتى نزل وذهب معهما، فلما فسحا عن المدينة كتفاه، وجلده كل واحد مائة جلدة، فقال للحارث: هذا أخى، فمن أنت يا حارث؟ للَّه علىّ إن وجدتك خاليا أن أقتلك، وقدما به على أمه، فحلفت لا يحل كتافه أو يرتد، ففعل ثم هاجر بعد ذلك وأسلم، وأسلم الحارث وهاجر، فلقيه عياش بظهر قباء- ولم يشعر بإسلامه- فأنحى عليه فقتله، ثم أخبر بإسلامه فأتى رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم فقال: قتلته ولم أشعر بإسلامه  ، فنزلت فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فعليه تحرير رقبة.


Artinya:
Telah diriwayatkan, “Sesungguhnya Ayasy bin Abi Rabiah saudara seibu Abu Jahl, telah Islam dan telah hijrah ke Madinah, karena takut kaumnya. Ini terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Ibu Ayasy bersumpah ‘takkan makan, takan minum, dan takkan berteduh pada atap, kecuali jika Ayasy kembali’. 
Karena itulah, Abu Jahl bersama Al-Charits bin Zaid bin Abi Unaisah, pergi untuk menemui dia, yang saat itu berada di rumah panggung.
Abu Jahl mencaci-maki pada dia, dan berkata, ‘bukankah Muhammad menganjurkan agar kau silaturohim? Pulang! Berbaktilah pada ibumu! Kau diperbolehkan menetapi agamamu’. 
Ayasy turun dari (rumah panggung), dan pulang bersama mereka berdua.

Ketika telah jauh dari Madinah, mereka berdua mengikat erat dua tangan hingga belikat Ayasy. Mereka berdua memukul Ayasy 100 X.
(Dengan marah), Ayasy berkata pada Al-Charits, ‘ini saudara saya! Kau ini siapa ? (Kok berani memukul saya) hai Al-Charits ?! Demi Allah kalau kau sedang sendirian, akan saya bunuh!.”

Mereka berdua mendatangkan Ayasy pada ibunya.
(Di Makkah), ibunya bersumpah ‘ikatan tangan Ayasy tidak boleh dilepas, kecuali jika mau murtad’.
Ayasy (murtad) menuruti kemauan mereka. Lalu setelah itu hijrah dan Islam lagi (di Madinah).

Al-Charits juga Islam dan hijrah ke Madinah. 
Di kota Quba, Ayasy melihat Al-Charits yang dikira belum Islam. Dia menggelandang untuk membunuh Al-Charits. 
Dia mendapat khabar bahwa sebetulnya Al-Charits telah Islam.
Dia segera datang pada Rasulallah SAW untuk melaporkan, ‘saya telah membunuh, karena tidak tahu bahwa dia telah Islam’.

Maka kalimat Ayat, ‘Fatachriiru raqabah (فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ)’ turun untuk Ayasy (secara khusus). Artinya ‘maka (kafarahnya) memerdekakan budak’.

Berdasarkan kalimat Ayat itu, Ayasy berkewajiban memerdekakan budak iman (karena Al-Charits yang dibunuh, Islam, baru datang dari Makkah, belum bermukim di Madinah (kalangan Muslimiin)). 

Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia