SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2017/01/03

PS 193: Pembebasan Syam



 


“Jika suratku telah kau baca, segeralah kembali ke Qaisariyah! Saya akan segera memberangkatkan pasukan untuk menggempur kaum Shaur (صور), Akka (عَكّاءَ), Tharabulus (طرابُلُس), dan Qaisariyah (قَيْسارِيَةَ). Yang tidak taat Allah.”

Abu Ubaidah perintah agar pasukannya bersiap berangkat ke Sachil (Pantai). Abdullah Yuqana raja Chalab (Aleppo) berdiri untuk berkata, “Yang mulia, Allah telah menggulingkan Kekufuran dan menjayakan Ketauhidan. Saya ingin berangkat mendahului menuju kesana, dengan tujuan bisa mendahului berperang.”
Abu Ubaidah menjawab, “Ya Abdallah! Kalau memang tujuanmu mendekat pada Allah, Allah juga akan mendekati kamu! Silahkan!.”

Abdullah Yuqana bergegas menyiapkan pasukan yang terdiri dari kaum Chalab, berjumlah 4.000 pasukan berkuda. Derap kaki kuda mereka membahana; debu-debu beterbangan. Mereka pergi sebelum Abu Ubaidah dan pasukannya.


Di antara pasukan Abu Ubaidah yang dibawa oleh Abdullah Yuqana, ada 3.000 bathriq yang telah Islam, di bawah pimpinan Jirfas (
جرفاس). Mereka telah menyadari bahwa Islam, kelanjutan dari agama Isa bin Maryam AS. Dan telah sadar bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang harus disembah, yang mutlak tidak berputra dan diputrakan.


Setelah kabur dari Jabiyah menuju kerajaan Qaisariyah, Raja Filasthin didampingi oleh 80.000 pasukan, perintah agar 3.000 pasukan berkuda dari kota Tharabulus (Tripoli) datang. Untuk memperkuat pertahanan kerajaan. 
Arak-arakan pasukan berkuda dari Tharabulus berbondong-bondong mendatangi undangannya. Dalam perjalanan panjang itu, mereka istirahat di hutan dan mengikat kuda.

Tiba-tiba 
Raja Yuqana dan pasukannya muncul. Di dalam pasukan Yuqana, ada Raja Romawi bernama Filanthinus.
Tadinya Filanthinus bertemu di jalan lalu bergabung pada pasukan Yuqana.

Jirfas memacu kuda untuk mendekati pasukan dari Tharabulus, lalu mengucapkan salam dan bertanya, “Siapa kalian?.”
Mereka menjawab, “Kami kaum yang telah berlindung pada kaum Arab. Tadinya, kami menyangka baik, ternyata mereka jahat dan agama mereka jelek. Kami kaum Chalab (Aleppo), Qinasrin, Izaz, Darim, dan Anthakiyah, yang akan menghadap pada Raja Hiraqla.”
Ketika mendengar jawaban mereka, Jirfas lega. Lalu dengan lembut, dia berkata, “Istirahatlah di sisi kami sejenak, untuk menghilangkan lelah. Kalian telah melakukan perjalanan berhari-hari, dan pasti khawatir pada serangan kaum Arab.”
Pada mereka, Yuqana bertanya, “Kalian akan pergi ke mana?.”
Mereka menjawab, “Raja Filasthin perintah agar kami datang ke Tharabulus.”
Yuqana berpesan, “Hati-hati! Setahu kami, Abu Ubaidah berencana pergi ke Sachil.”
Jirfas berkata, “Apa gunanya khawatir mereka. Masa kekuasaan kita telah hilang, dan hari-hari indah kita tinggal kenangan. Ternyata Salib yang kita sembah tidak bisa menolong kita.”

Arak-arakan kaum itu, mau istirahat di sisi pasukan Yuqana. Setelah rasa capek hilang, dan telah diberi makanan, mereka pergi meneruskan perjalanan. Jirfas hampir mengikuti, tetapi dihalang-halangi, “Jangan! Suruhlah agar pasukanmu mengenakan busana terbaik! Agar kalian berwibawa” oleh Yuqana.


Setelah rencana muslihatnya matang, Yuqana membawa pasukannya menuju Sachil (pantai), untuk menangkap ribuan orang yang terdiri dari 200 keluarga, di bawah pimpinan Al-Charits bin Sulaim. Tangan mereka diikat erat hingga belikat, dan digiring.
Ketika malam tiba, Al-Charits dan tawanan lainnya dikumpulkan, untuk diberi tahu, “Maaf saudara sekalian! Ini hanya siasat. Saya tidak murtad dari Islam, dan takkan mencelakai kalian. Ini siasat agar kaum Romawi menyangka saya telah menyerbu dan menangkap kalian kaum Arab” oleh Yuqana.

Setelah tahu maksud Yuqana, Al-Charits dan kaumnya merasa tenang. Mereka berkata, “Kalau tujuan anda bersiasat untuk menegakkan Agama Allah, maka Allah akan menolong anda mengalahkan lawan.”
Beberapa pria disuruh oleh Yuqana, agar berpura-pura membawa harta rampasan.
Jirfas merasa tenang, karena Al-Charits, dan kaumnya, tidak dilukai. Dan binatang mereka, hanya dikumpulkan, tidak dirampas oleh Yuqana.



2017/01/02

PS 192: Pembebasan Syam






Arak-arakan 80.000 pasukan Filasthin memacu kuda secepat-cepatnya, menuju Jabiyah, untuk berteduh. Termasuk yang perasaannya paling kacau dan ketakutan, Filasthin raja mereka.
Dia menganjurkan, “Sebaiknya kita kembali ke kerajaan. Kalian tahu sendiri pasukan kita di Yarmuk dan Anthakiyah jauh lebih banyak daripada pasukan ini. Ternyata disapu oleh pasukan Arab hingga kebanyakan gugur. Ayah kabur menuju Qusthanthiniyah (القسطنطينية/Costantinople), hingga kaum Arab menguasai seluruh negeri Syam, yang tersisa hanya kota ini. Saya takut jika mereka mengalahkan kita, lalu merebut negeri ini. Lebih baik kita pergi daripada harus berperang melawan kaum Arab.” Pasukan Filasthin semua setuju.

Di malam yang mendebarkan itu
, arak-arakan 80.000 pasukan berkuda, menembus hujan lebat, meninggalkan negeri Jabiyah. Empat hari hujan lebat, lalu berhenti.

Di pagi yang indah itu
, mentari bersinar terang benderang menghangati bumi. Burung-burung di hutan berkicau bersaut-sautan, seakan-akan mengucapkan syukur dan bertasbih pada Penguasa Alam Semesta.

Amer menulis surat untuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrach:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dari amer bin Al-Ash untuk panglima pasukan Muslimiin, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrach.
سلام عليك ورحمة الله وبركاته
Amma bakd: Wahai sahabat Rasulillah SAW, sungguh Filasthin putra Hiraqla telah mengerahkan 80.000 pasukan berkuda, untuk menyerang kami. Kami bertemu mereka di daerah Nakhl (نخل). Syurachbil berkelahi melawan tokoh besar mereka, Qidamun putra bibi Hiraqla. Syurachbil telah ditindih untuk disembelih; namun Thalchah datang untuk menyerang Qidamun.
Qidamun bergerak cepat, menghindari serangan Thalchah. Syurachbil berhasil meloloskan diri dari tindihannya. Dan tiba-tiba Thalchah bergerak cepat menebaskan pedang, hingga leher Qidamun putus dan kepalanya terlempar.
Kini Thalchah saya perintah mengantar surat pada Umar RA. Dan semua pasukan Filasthin telah kabur jauh pulang ke kerajaan. Kini saya menunggu jawaban anda.
والسلام عليك وعلى من معك من المسلمين ورحمة الله وبركاته

Yang diperintah mengantar surat, Jabir bin Said Al-Chadhrami.
Jabir memacu kuda secepat-cepatnya menyusuri jalan panjang dan berliku.



2016/12/30

PS 191: Pembebasan Syam





Sahabat Thalchah bernama Musailamah yang mengaku nabi, dan pasukannya, tewas dalam peperangan itu. 
Al-Aswad Al-Absi yang mengaku nabi juga tewas, bersama pasukannya, oleh pasukan Khalid yang sangat kuat.
Thalchah kabur bersama istrinya menuju Syam, untuk minta perlindungan pada lelaki dari keturunan Kaleb. Lelaki itu mengabulkan permohonan dan mempersilahkan
Dia dan istrinya menginap di rumahnya. Beberapa hari setelah itu Thalchah ditanya tentang kenapa kabur dan ketakutan?
Setelah Thalchah menjelaskan dirinya mengaku sebagai nabi hingga diperangi oleh Khalid dan pasukannya
, lelaki itu marah dan mengusir, “Pergi! Saya tak sudi melindungi kau di sini!.”

Thalchah dan istrinya pergi ke Syam dan bertobat pada Allah.
Ketika berita Abu Bakr
Wafat sampai padanya, dia berkata, “Lelaki yang menegakkan jihad itu telah wafat. Siapakah yang menggantikan dia?.” 
Beberapa orang menjawab, “Umar!.”
Thalchah terkejut dan berkata, “Dia sangat tegas dan ganas.”
Dan takut menghadap Umar untuk menyatakan telah bertobat. Rasa takut bertemu Khalid yang terlalu ganas
, juga selalu menghantui dirinya. Dia takut Khalid tahu bahwa dirinya tinggal di Syam.

Thalchah berpinah ke Qaisariyah (Caesarea) untuk bersembunyi di suatu Jazirah. Ketika arak-arakan pasukan Filasthin datang, dia berkata, “Saya akan menyelinap pada pasukan ini
, untuk berupaya menebus dosa, dan mendekat pada Allah, dan pada Muslimiin.” 

Ketika Syurachbil hampir disembelih oleh Bathriq Qidamun, Thalchah memacu kuda secepat-cepatnya
, untuk menyerang Bathriq tersebut. Ternyata Syurachbil bergerak cepat untuk meloloskan diri dari tindihan yang merenggang. Thalchah mengayunkan pedang sekuat tenaga, hingga leher Bathriq Qidamun putus dan darahnya tumpah, terguyur air hujan.

Ketika Amer bin Al-Ash menyatakan, “Semoga tobatmu diterima oleh Allah tangisan Thalchah meledak lagi karena suka-cita.
Dengan mata berlinang Thalchah berkata, “Tapi saya takut Khalid, ya Amer. Dia akan membunuh saya.”
Dengan berwibawa namun sejuk, Amer berkata, “Saya akan melakukan sesuatu, agar kau selamat di dunia dan akhirat.” Lagi-lagi airmata Thalchah meleleh karena terhibur. Lalu bibirnya melafalkan, “Apa yang kau maksud?.”
Amer berkata, “Saya akan menulis surat untuk Umar, mengenai jasa dan kebaikanmu, dan bahwa pasukan Muslimiin telah menyaksikan hal itu. Antarkanlah surat itu nanti, pada Umar bin Al-Khatthab RA. Katakan pada beliau ‘saya benar-benar telah bertobat!Pasti dia akan menerimamu, in syaa Allah. Saya yakin beliau akan mengutus, agar kau bergabung pada pasukan Muslimiin di medan perang, agar dosamu yang telah kau lakukan terhapus.”

Thalchah mengirup nafas panjang dan merasa lega. Dan berkata, “Saya akan segera mengantar surat yang kau maksud pada Umar RA.” 

Amer menulis surat untuk Umar RA. Surat diberikan pada Thalchah yang segera membawanya menuju Madinah
, untuk diberikan pada Umar RA. 

Di Madinah, tidak ada Umar RA
, karena sedang pergi ke Makkah. Thalchah menyusul dan menjumpai beliau, sedang menggelayut pada selambu Ka’bah. Thalchah menirukan menggelayut dan berkata, “Ya Amiral Mukminiin, saya telah bertobat pada Allah azza wajalla.” 
Umar bertanya, “Siapa kau?.” 
Dia menjawab, “Saya Thalchah bin Khuwailid.” 
Umar terkejut lalu mengindar dan berlari cepat sambil berkata, “Saya akan celaka jika memaafkanmu. Saya akan berkata apa besok disisi Allah azza wajalla. Karena kaulah yang telah membunuh Ukasyah bin Michshan Al-Asadi.”
Thalchah menangis dan mengejar, sambil berdoa, “Ya Amiral Mukminiin, Ukasyah gugur karena seranganku, hingga Allah memuliakan dia, dan saya jadi celaka. Saya telah beramal baik karena berharap Allah mengampuni saya.”
Umar iba melihat Thalchah menangis. Lalu bertanya, “Amalan baik apa yang telah kau lakukan?.”
Thalchah memberikan surat Amer pada Umar RA yang segera membuka dan membacanya. 
Wajah Umar menjadi cerah setelah memahami isinya. Perkataan Umar, “Berbahagialah! Sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang,” membuat dia bahagia.
Umar perintah, “Kau di sini saja, hingga saya pulang ke Madinah!.

Beberapa hari kemudian Thalchah pergi ke Madinah
, mengikuti Umar RA. 
Di Madinah, Umar perintah agar Thalchah pergi ke medan perang di Persia.



PS 190: Pembebasan Syam



Setelah perintah agar putranya bernama Filasthin pergi ke Qaisariyah (Caesarea), Hiraqla perintah agar seorang bathriq agung bernama Qidamun (قيدمون) mendampingi. Qidamun termasuk tokoh Romawi yang firasatnya selalu tepat. Ada yang bilang, “Dia paman Filasthin dari jalur ibu, veteran Perang Persia, Turki dan Jaramiqah, yang menguasai berbagai bahasa.”
                          
Dengan busana dan perhiasan gemerlapan, 
Qidamun tingggi besar muncul, menantang berperang. 
Beberapa pasukan Muslimiin bergerak untuk mengabulkan tantangannya. Mereka membaca, Laa Ilaaha illaa Allah” bersaut-sautan. 

Pengepung
 Qidamun mendengar Amer berteriak, “Pahala Allah jauh lebih baik, daripada busana dan perhiasan yang dia kenakan. Yang memerangi dia, jangan hanya karena ingin rampasan! Saya pernah mendengar Rasulallah SAW bersabda ‘Barang siapa hijrahnya menuju Allah dan RasulNya, maka akan sampai pada Allah dan RasulNya. Barang siapa hijrahnya karena dunia maka akan mendapatkan dunia. Kalau bertujuan mendapatkan wanita, maka akan menikahi wanita. Orang akan sampai pada tujuannya’.” 

Seorang pemuda dari Yaman maju, untuk 
melayani tantangan Qidamun. Dialah lelaki yang datang ke Syam, bersama ibu dan sudara perempuannya.
Saudara perempuan berkata, “Hai Putra Ibu! Ayo perjalanan ini kita percepat! Agar kita segera menikmati rizqi di Syam!.”
Dia menjawab, “Saya datang kemari, mencari Ridho Allah azza wajalla. Saya pernah mendengar Muadz bin Jabal berkata ‘sungguh kaum Syuhada, mendapat rizqi di sisi Tuhan’.”
Saudara perempuan membantah, “Bagaimana mungkin, mayat-mayat mendapat rizqi?.”
Dia menjawab, “Muadz berkata ‘sungguh Allah Taala memasukkan ruh para Syuhada, di dalam tubuh burung-burung surga. Menikmati buah-buahan dan air surga. Itulah Rizqi Allah untuk mereka’.”

Pada ibu dan saudara perempuannya, dia berpamitan, “Saya akan menghadap Allah, dengan jalan berperang membela AgamaNya. Saya akan menunggu kalian berdua di telaga Rasulillah SAW.”
Ibu dan saudara perempuan menangis. Air mata membasahi pipi.

Dengan berdebar, lelaki itu bergerak melangkahkan kaki, pergi ke medan perang. 
Ibu dan sudaranya ditinggalkan dalam keadaan menangis dan berdoa.
Air mata mereka berdua, tumpah semakin banyak, ketika pemuda itu memacu kuda dengan memegang tombak. 

Pemuda itulah yang menusuk dengan tombak ke dada Bathriq Qidamun. Dia kesulitan melepaskan tombak yang menancap. Dan terkejut oleh tebasan pedang Qidamun yang tahu-tahu mematahkan tombaknya. Bahkan lalu bergerak cepat membelah kepalanya. 
Atas Rahmat Allah, pemuda itu gugur dengan kepala terbelah.

Qidamun menginjak mayat dan menantang berkelahi, pada lainnya. 
Ibnu Qutsam datang untuk melawan. Tetapi pedang Qidamun menebas hingga dia gugur sebagai Syuhada kedua.
Qidamun membusungkan dada, semakin sombong.

Syurachbil memaki dirinya sendiri, “Kenapa kau membiarkan penjahat itu membunuh dua orang Muslimiin?” Lalu keluar dari barisan. Menyerang dengan membawa panji pemberian Abu Bakr Asshiddiq RA. 
Amer menegur, “Hai Hamba Allah! Tancapkan panjimu di tanah! Agar tidak mengganggu berperang!.”
Syurachbil menancapkan panji panjang ke celah bebatuan. Dia yakin bahwa dirinya akan mampu manaklukkan lawan, karena Pertolongan Tuhan.

Ketika 
Syurachbil berlari dengan kuda, mendekati Qidamun yang juga berkuda, pasukan Muslimiin berdoa agar Syurachbil menang.
Qidamun laknat berperawakan tinggi besar, menertawakan dia yang lebih kecil dan kerempeng, yang rajin berpuasa dan shalat malam.

Pedang dan perisai mereka berdua berbenturan dan berdenting. 
Pedang Syurachbil berkali-kali memukul, tetapi tak melukai kulit dia yang dilindungi dengan baju perang. Dan tak mampu membelah helm perangnya. Bahkan Syurachbil terkejut, oleh sambaran pedang yang menggores kulit. Meskipun telah menghindar cepat. 

Di atas kuda, mereka berdua berkelahi semakin seru.
Hujan deras mengguyur bumi. Tempat berperang makin becek, hingga mereka berdua turun dari kuda, dan bergulat di lumpur.
Syurachbil dipukul hingga masuk ke dalam lumpur, dan diangkat untuk dilemparkan. Dadanya diduduki. Tangan Qidamun bergerak mengambil belati, untuk menyembelih Syurachbil yang hatinya berdebar hinggaberdoa, “Ya Penolong kaum Pemohon pertolongan!.”
Sebelum doa yang dia baca selesai, muncul lelaki berkuda dari pasukan Romawi. 
Qidamun terkejut senang, dan menyangka lelaki berkuda itu akan menyerahkan kuda dan akan menolong dirinya. 
Qidamun bergerak, tak sadar bahwa Syurachbil di bawahnya tahu-tahu lolos dan bangkit. 

Lelaki itu menghunus dan mengayunkan pedang sekuat tenaga, hingga leher putus, dan darah Qidamun tumpah.
Pada Syurachbil, lelaki itu perintah, “Ya Abdallah! Rampaslah yang dia miliki!” 
Syurachbil bertanya, “Demi Allah, menurutku tak ada yang lebih menakjubkan dari pada ini. Kenapa kau muncul dari pasukan Romawi?.”
Syurachbil terperangah oleh jawabannya, “Saya orang keparat yang dibenci oleh kaum Muslimiin. Nama saya Thalchah bin Khuwailid (طلحة بن خويلد) yang pernah mengaku sebagai nabi setelah Rasulallah SAW. Yang pernah berdusta dengan mengatas namakan Allah. Yang pernah mengaku mendapatkan Wahuyu dari langit.”

Syurachbil berkata, “Saudara! Sungguh Rahmat Allah dekat pada kaum Ihsan. Sungguh RahmatNya memuat segala sesuatu. Barang siapa bertobat, pasti Allah menerima tobat dan mengampuni. Nabi juga bersabda ‘tobat melebur dosa sebelumnya’. Tak tahukah kau bahwa:
Ketika Allah menurunkan Firmanوَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍDan RahmatKu memuat segala sesuatu, [1] segala sesuatu hingga Iblis pun, berharap mendapatkan Rahmat. Ketika Allah menurunkan Firman ‘فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ’, Maka Rahmat itu akan Aku pastikan untuk kaum yang bertaqwa dan menunaikan zakat, [2] kaum Yahudi berkata ‘kami bertaqwa dan menunaikan zakat’. Ketika Allah menurunkan Firman ‘وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَDan kaum yang beriman pada Ayat-Ayat Kami, [3] kaum Yahudi berkata ‘kami beriman pada yang Allah turunkan di dalam Shuchuf dan Taurat’. Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Firman itu, Umat Muhammad SAW secara khusus: ‘الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَYaitu kaum yang mengikuti Rasul Nabi Ummi yang mereka jumpai, tertulis di sisi mereka, di dalam Taurat dan Injil. Yang:
1.     Perintah agar mereka melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
2.     Menghalalkan kebaikan-kebaikan pada mereka.
3.     Mengharamkan kejelekan-kejelekan.
4.     Dan membebaskan dosa dan belenggu yang telah membelenggu mereka. Kaum yang telah beriman padanya, dan mengikuti Nur yang diturunkan bersamanya, mereka kaum Beruntung.” [4]

Air mata Thalchah berderai, karena terharu oleh penjelasan Surachbil. Tetapi lalu berkata, “Tidak! Saya sudah malu jika memasuki agama Islam lagi!.” 
Kakinya diayunkan untuk berlari. Tetapi Suhrachbil menahan dia dan berkata, “Thalchah! Saya takkan membiarkan kau! Kau harus bergabung dengan pasukanku!.”
Thalchah berkata, “Terus terang saya takut dimarahi dan dibunuh oleh Khalid bin Al-Walid yang pendek itu.”
Syurachbil menghibur, “Sudahlah! Beliau tidak ada di dalam pasukan kami. Yang memimpin pasukan ini, Amer bin Al-Ash.”
Thalchah mengikuti Syurachbil, bergabung pada pasukan Muslimiiin. 

Dengan bahagia, 
Syurachbil disambut, “Hai Syurachbil! Siapa yang telah menolong kau ini?” oleh pasukan Muslimiin.
Thalchah sengaja menutupi wajahnya dengan sebagian kain surbannya.
Lalu menjawab, “Inilah Thalchah bin Khuwailid yang pernah mengaku sebagai nabi.” 
Mereka berkata, “Apa telah bertobat pada Allah?.”
Thalchah berkata, “Saya telah bertobat pada Allah.” 

Syurachbil membawa Thalchah menuju Amer bin Al-Ash.
Pada Amer, Thalchah mengucapkan, “Assalamu alaikum, selamat beremu lagi.”






[1]  وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ [الأعراف/156].
[2]  فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ [الأعراف/156].
[3]  وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156].
[4] الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الأعراف/157].