SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2014/11/21

Kisah Dalam Surat Yaasiin Ponpes (3)




Terjemahan dari Mafatihul-Ghoib
Dan Al-Kassyaf
In syaa Allah Bersambung

Dalam Mafatihul-Ghoib, dijelaskan, “Pembahasan awal FirmanNya ‘dari ujung kota, datang lelaki dengan bergegas’. Lelaki (rojul) di sini dibuat isim nakiroh, padahal dia di sisi Allah, jelas telah diketahui (makrifat). Karena:
1.     Sebagai pernyataan bahwa lelaki sempurna tersebut orang hebat. Karena membela kebenaran yang disampaikan oleh para Utusan. Dia bernama Habib Annajar, pekerjaannya memahat patung. Namun dia telah beriman pada Nabi Muhammad sebelum lahirnya SAW. Dia tergolong Ulama dalam bidang Kitab Allah. Melalui Kitab, dia tahu sifat-sifat dan setatus Muhammad SAW sebagai Utusan Allah.
2.     Firman ‘yas’aa - dengan bergegas’ sebagai penjelasan dan petunjuk, agar kaum iman mau memberikan nasehat dengan serius. Kami jelaskan faedah dari FirmanNya ‘min aqshol madiinah – dari ujung kota’, yakni ujung kota Anthokiah. Tiga Utusan menyampaikan Risalah hingga ujung kota. [1]

Al-Bagowi menjelaskan, “Habib Annajar penderita lepra ini, bergegas dari ujung kota, karena mendengar berita, ‘tiga Utusan akan dirajam dan disiksa’.” [2]

Dalam Al-Kassyaf, Azzamakhsyari menjelaskan, “Lelaki yang oleh Allah dijelaskan ‘datang dengan bergegas’ Habib bin Israil Annajar. Pekerjaannya memahat patung. Dia tergolong orang yang beriman pada Rasulillah SAW. Padahal jarak antara dia dengan Nabi SAW, 600 tahun. Seperti Tubak Al-Akbar, Waraqah dan lainnya, juga telah beriman pada Nabi SAW sebelum diutus. Padalah umunya orang beriman pada Nabinya, setelah diutus. 
Ada yang berkata ‘tadinya dia sedang beribadah di dalam gua. Setelah mendengar berita tiga Utusan akan dirajam atau disiksa oleh masa, dia datang untuk menjelaskan agamanya, dan membantah kaum kafir’. 
Mereka membentak ‘masyak kau menyelisihi agama kami?!’. 
Mereka mengeroyok untuk membunuh dia.
Ada yang berkata ‘dengan kaki mereka menginjak-injak Habib Annajar. Hingga isi perut keluar dari duburnya’.
Ada yang berkata ‘dia dirajam’ dan berdoa ‘ya Allah! Bimbinglah kaumku!’. 
Makam dia di pasar Anthokiah. Setelah dia gugur, Allah murka hingga mereka dibinasakan melalui ‘teriakan Jibril AS’. [3]



[1] تفسير الرازي = مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير (26/ 263)
الْمَسْأَلَةُ الْأُولَى: قَوْلُهُ: وَجاءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ فِي تَنْكِيرِ الرَّجُلِ مَعَ أَنَّهُ كَانَ مَعْرُوفًا مَعْلُومًا عِنْدَ اللَّهِ فَائِدَتَانِ الْأُولَى: أَنْ يَكُونَ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ أَيْ رَجُلٌ كَامِلٌ فِي الرُّجُولِيَّةِ/ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ مُفِيدًا لِظُهُورِ الْحَقِّ مِنْ جَانِبِ الْمُرْسَلِينَ حَيْثُ آمَنَ رَجُلٌ مِنَ الرِّجَالِ لَا مَعْرِفَةَ لَهُمْ بِهِ فَلَا يقال إنهم تواطؤا، وَالرَّجُلُ هُوَ حَبِيبٌ النَّجَّارُ كَانَ يَنْحِتُ الْأَصْنَامَ وقد آمن بمحمد صلى الله عليه وآله وَسَلَّمَ قَبْلَ وُجُودِهِ حَيْثُ صَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِكِتَابِ اللَّهِ، وَرَأَى فِيهِ نَعْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليه وآله وَسَلَّمَ وَبَعْثَتَهُ.
[2] تفسير البغوي - طيبة (7/ 14)
فَلَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ قَوْمَهُ قَصَدُوا قَتْلَ الرُّسُلِ جاءهم {قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ}.
[3] تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل (4/ 10)
رَجُلٌ يَسْعى هو حبيب بن إسرائيل النجار، وكان ينحت الأصنام، وهو ممن آمن برسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وبينهما ستمائة سنة كما آمن به تبع الأكبر وورقة بن نوفل وغيرهما، ولم يؤمن بنبي أحد إلا بعد ظهوره. وقيل: كان في غار يعبد الله، فلما بلغه خبر الرسل أتاهم وأظهر دينه وقاول الكفرة، فقالوا: أو أنت تخالف ديننا، فوثبوا عليه فقتلوه وقيل: توطئوه بأرجلهم حتى خرج قصبه من دبره. وقيل: رجموه وهو يقول: اللهم اهد قومي، وقبره في سوق أنطاكية، فلما قتل غضب الله عليهم فأهلكوا بصيحة جبريل عليه السلام.

2014/11/19

Kisah Dalam Surat Yaasiin (2)




Terjemahan dari Ibnu Katsir
In syaa Allah Bersambung

Allah berkisah, “(Pada para Utusan), mereka berkata ‘sungguh kami mendapatkan nasib jelek karena kalian! Jika kalian serius tak mau berhenti (berdakwah)! Niscaya kami akan merajam kalian! Atau siksa pedih dari kami akan menyentuh kalian secara nyata!’.
Mereka menjawab ‘nasib jelek kalian bersama kalian. Masyak jika kalian diberi peringatan, (berakibat mendapatkan nasib jelek)? Yang benar justru kalian ini kaum melampaui batas’.
Dari ujung kota, seorang lelaki datang bergegas, untuk berkata ‘hai kaumku! Ikutilah para Utusan ini! Ikutilah orang yang tidak minta upah kalian! Mereka mendapatkan bimbingan’.”

Ibnu Abbas RA, Kaeb Al-Ahbar, dan Waheb bin Munabbih, berkata, “Penduduk desa tersebut akan membunuh tiga Utusan. Tiba-tiba seorang lelaki dari ujung kota datang dengan bergegas, untuk menyelamatkan mereka dari serangan masa.”
Ibnu Abbas RA, Kaeb Al-Ahbar, dan Waheb bin Munabbih, berkata, “Lelaki yang datang tersebut bernama Habib. Dia yang pekerjaannya membuat tali itu, terserang penyakit lepra. Dia ahli shodaqoh, setengah dari penghasilannya dishodaqohkan. Wawasannya cemerlang.”
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas RA juga berkata, “Naman tokoh utama dalam surat Yaasiin, Habib. Dia terserang penyekit lepra.”
Abu Mijlaz melengkapi, “Nama dia Habib bin Maro.”
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas RA melengkapi, “Naman tokoh utama dalam surat Yaasiin, Habib Annajar (tukang kayu). Dia dibunuh oleh kaumnya.”
Assuddi menambahkan, “Pekerjaan dia mencui pakaian.”
Umar bin Al-Hakam menjelaskan, “Pekerjaan dia tukang kayu.
Qatadah berkata, “Pekerjaan dia di sana, beribadah di dalam gua.” [1]


[1] تفسير ابن كثير (6/ 570)
{وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21) وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (24) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25) } .
قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ -فِيمَا بَلَغَهُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَكَعْبِ الْأَحْبَارِ وَوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ-: إِنَّ أَهْلَ الْقَرْيَةِ هَمّوا بِقَتْلِ رُسُلِهِمْ فَجَاءَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى، أَيْ: لِيَنْصُرَهُمْ مِنْ قَوْمِهِ -قَالُوا: وَهُوَ حَبِيبٌ، وَكَانَ يَعْمَلُ الْجَرِيرَ -وَهُوَ الْحِبَالُ-وَكَانَ رَجُلًا سَقِيمًا قَدْ أَسْرَعَ فِيهِ الْجُذَامُ، وَكَانَ كَثِيرَ الصَّدَقَةِ، يَتَصَدَّقُ بِنِصْفِ كَسْبِهِ، مُسْتَقِيمَ النَّظْرَةِ.)
وَقَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ عَنْ رَجُلٍ سَمَّاهُ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مِقْسَم -أَوْ: عَنْ مُجَاهِدٍ-عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: [كَانَ] اسْمُ صاحب يس حبيب، وَكَانَ الْجُذَامُ قَدْ أَسْرَعَ فِيهِ.
وَقَالَ الثَّوْرِيُّ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَبِي مجْلَز: كَانَ اسْمُهُ حَبِيبَ بْنَ مَرَى.
وَقَالَ شَبِيبُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ عِكْرِمَة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ [أَيْضًا] قَالَ: اسْمُ صَاحِبِ يس حَبِيبٌ النَّجَّارُ، فَقَتَلَهُ قَوْمُهُ.
وَقَالَ السُّدِّيُّ: كَانَ قَصَّارا. وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْحَكَمِ: كَانَ إِسْكَافًا. وَقَالَ قَتَادَةُ: كَانَ يتعبد في غار هناك.
{قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ} : يَحُضُّ قَوْمَهُ عَلَى اتِّبَاعِ الرُّسُلِ الَّذِينَ أَتَوْهُمْ، {اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا} أَيْ: عَلَى إِبْلَاغِ الرِّسَالَةِ، {وَهُمْ مُهْتَدُونَ} فِيمَا يَدْعُونَكُمْ إِلَيْهِ، مِنْ عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.

Kisah Dalam Surat Yaasiin (1)




In syaa Allah bersambung


Dalam Surat Yaasiin, Allah berfirman, “Ya Muhammad! Jadikan ‘(Nasib) Penghuni Desa’ sebagai gambaran untuk kaum yang telah mendustakan kau! Ketika itu para Utusan datang pada mereka. (Jelasnya) ketika itu, Kami mengutus dua Utusan pada mereka. Namun didustakan, hingga Kami memperkuat mereka berdua dengan (Utusan) ketiga.
Tiga Utusan berkata ‘sungguh kami kaum yang diutus pada kalian’.
Mereka membantah ‘kalian hanya manusia seperti kami! Allah tidak menurunkan sesuatu pada manusia! Kalian hanya bohong!’.
Tiga Utusan menjawab ‘Tuhan kita tahu, sungguh kami diutus pada kalian. Kewajiban kami menyampaikan dengan jelas’.”

Menurut Ibnu Abbas RA, Kaeb Al-Ahbar, dan Waheb bin Munabbih:
“Sungguh desa tersebut ‘kota Anthokiah’. Di sana ada raja bernama Anthoikhos bin Anthoikhos bin Anthoikhos, penyembah berhala. Pada raja tersebut, Allah mengutus tiga Utusan, yaitu Shodiq, Shoduq, dan Syalum. Namun dia dan umatnya mendustakan mereka bertiga.”
“Demikian diriwayatkan dari Buraidah bin Al-Hushoib, Ikrimah, Qatadah, dan Azzuhri. Namun sebagian dari para Imam, menganggap miskil jika kota tersebut ‘Anthokiah’. In syaa Allah kami akan menjelaskan kelengkapan kisah ini.” 
Syuaib Al-Jubai menjelaskan, “Dua Utusan awal bernama Syamun dan Yuhana, yang ketiga bernama Bulish. Desanya bernama Anthokiah.” 
Qatadah bin Daimah berkata, “Mereka bertiga utusan Al-Masih AS, untuk penduduk Anthokiah. Penduduk membantah ‘kalau kalian Utusan, tentunya kalian ini Malaikat’. [1]


[1] تفسير ابن كثير (6/ 568)
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)

يَقُولُ تَعَالَى: وَاضْرِبْ -يَا مُحَمَّدُ-لِقَوْمِكَ الَّذِينَ كَذَّبُوكَ {مَثَلا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ - فِيمَا بَلَغَهُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَكَعْبِ الْأَحْبَارِ، وَوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ-: إِنَّهَا مَدِينَةُ أَنْطَاكِيَةَ، وَكَانَ بِهَا مَلِكٌ يُقَالُ لَهُ: أَنْطَيْخَسُ بْنُ أَنْطَيْخَسَ بْنِ أَنْطَيْخَسَ، وَكَانَ يَعْبُدُ الْأَصْنَامَ، فَبَعَثَ اللَّهُ إِلَيْهِ ثَلَاثَةً مِنَ الرُّسُلِ، وَهُمْ: صَادِقٌ وَصَدُوقٌ وَشَلُومُ،  فكذبهم وَهَكَذَا رُوي عَنْ بُرَيدة بْنِ الحُصَيب، وعِكْرِمَة، وَقَتَادَةَ، وَالزُّهْرِيِّ: أَنَّهَا أَنْطَاكِيَةُ. وَقَدِ اسْتَشْكَلَ بَعْضُ الْأَئِمَّةِ كونَها أَنْطَاكِيَةَ، بِمَا سَنَذْكُرُهُ بَعْدَ تَمَامِ االْقِصَّةِ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى قَالَ ابْنُ جُرَيْج، عَنْ وَهْبِ بْنِ سُلَيْمَانَ، عَنْ شُعَيْبٍ الْجُبَّائِيِّ قَالَ: كَانَ اسْمُ الرَّسُولَيْنِ الْأَوَّلِينَ شَمْعُونَ وَيُوحَنَّا، وَاسْمُ الثَّالِثِ بُولِصَ، وَالْقَرْيَةُ أَنْطَاكِيَةُ.
{فَقَالُوا} أَيْ: لِأَهْلِ تِلْكَ الْقَرْيَةِ: {إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ} أَيْ: مِنْ رَبِّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ، نَأْمُرُكُمْ بِعِبَادَتِهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. قَالَهُ أَبُو الْعَالِيَةِ. وَزَعَمَ قَتَادَةُ بْنُ دِعَامَةَ: أَنَّهُمْ كَانُوا رُسُلَ الْمَسِيحِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، إِلَى أَهْلِ أَنْطَاكِيَةَ. {قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا} أَيْ: فَكَيْفَ أوحيَ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ بَشَرٌ وَنَحْنُ بَشَرٌ، فَلِمَ لَا أوحيَ إِلَيْنَا مِثْلَكُمْ؟ وَلَوْ كُنْتُمْ رُسُلًا لَكُنْتُمْ مَلَائِكَةً. وَهَذِهِ شِبْهُ  كَثِيرٍ مِنَ الْأُمَمِ الْمُكَذِّبَةِ، كَمَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ فِي قَوْلِهِ: {ذَلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا} [التَّغَابُنِ: 6] ، فَاسْتَعْجَبُوا مِنْ ذَلِكَ وَأَنْكَرُوهُ. وَقَوْلُهُ: {قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ} [إِبْرَاهِيمَ: 10] . وَقَوْلُهُ حِكَايَةٌ عَنْهُمْ فِي قَوْلِهِ: {وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ} [الْمُؤْمِنُونَ: 34] ، {وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولا} ؟ [الْإِسْرَاءِ: 94] . وَلِهَذَا قَالَ هَؤُلَاءِ: {مَا أَنْتُمْ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنزلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا تَكْذِبُونَ * قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ} أَيْ: أَجَابَتْهُمْ رُسُلُهُمُ الثَّلَاثَةُ قَائِلِينَ: اللَّهُ يَعْلَمُ أَنَّا رُسُلُهُ إِلَيْكُمْ، وَلَوْ كُنَّا كَذَبة عَلَيْهِ لَانْتَقَمَ مِنَّا أَشَدَّ الِانْتِقَامِ، وَلَكِنَّهُ سَيُعِزُّنَا وَيَنْصُرُنَا عَلَيْكُمْ، وَسَتَعْلَمُونَ لِمَنْ تَكُونُ عَاقِبَةُ الدَّارِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلْ كَفَى بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [الْعَنْكَبُوتِ: 52] {وَمَا عَلَيْنَا إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ} يَقُولُونَ إِنَّمَا عَلَيْنَا أَنْ نُبَلِّغَكُمْ مَا أُرْسِلْنَا بِهِ إِلَيْكُمْ، فَإِذَا أَطَعْتُمْ كَانَتْ لَكُمُ السَّعَادَةُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَإِنْ لَمْ تُجِيبُوا فَسَتَعْلَمُونَ غِبَّ ذَلِكَ،وَاللَّهُ أَعْلَمُ.


2014/11/18

Hasan RA Diracun




Di tahun itu (49 H), Hasan wafat, karena diracun oleh istrinya, Jadah bintul Asyats bin Qais Al-Kindi. Sebelum wafat, Hasan berpesan, “Agar dimakamkan di sisi nabi SAW. Jika dikhawatirkan timbul fitnah, maka agar dimakamkan di pemakaman Muslimiin.”

Permintaan ijin Husain tentang itu, dikabulkan oleh Aisyah RA. Said bin Ash sebagai penguasa Madinah, juga tidak melarang rencana tersebut. Penghalang rencana itu, mantan penguasa Madinah, Marwan bin Hakam, keluarga besar Umayah, dan pendukung mereka. 

Husain bersikeras akan memakamkan saudaranya di sisi Nabi SAW.
Ada yang berkata pada Husain, “Sungguh saudara tuan almarhum, perpesan ‘jika kalian khawatir adanya fitnah, maka makamkan di pemakaman Muslimiin!’. Ini jelas fitnah!.
Husain mengurungkan rencananya. Dan membiarkan Said bin Ash menyalati jenazah saudaranya. Lalu berkata, “Kalau ini bukan Sunnah, niscaya saya tidak membiarkan kau menyalati dia.” [1]


Ponpes Mulya Abadi Mulungan



ذِكْرُ وَفَاةِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، عَلَيْهِ السَّلَامُ
فِي هَذِهِ السَّنَةِ تُوُفِّيَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، سَمَّتْهُ زَوْجَتُهُ جَعْدَةُ بِنْتُ الْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ الْكِنْدِيِّ، وَوَصَّى أَنْ يُدْفَنَ عِنْدَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَّا أَنْ تُخَافَ فِتْنَةٌ فَيُنْقَلُ إِلَى مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَأْذَنَ الْحُسَيْنُ عَائِشَةَ فَأَذِنَتْ لَهُ، فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَرَادُوا دَفْنَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَلَمْ يَعْرِضْ إِلَيْهِمْ سَعِيدُ بْنُ الْعَاصِ، وَهُوَ الْأَمِيرُ، فَقَامَ مَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ وَجَمَعَ بَنِي أُمَيَّةَ وَشِيعَتَهُمْ وَمَنَعَ عَنْ ذَلِكَ، فَأَرَادَ الْحُسَيْنُ الِامْتِنَاعَ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ أَخَاكَ قَالَ: إِذَا خِفْتُمُ الْفِتْنَةَ فَفِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ، وَهَذِهِ فِتْنَةٌ. فَسَكَتَ، وَصَلَّى عَلَيْهِ سَعِيدُ بْنُ الْعَاصِ، فَقَالَ لَهُ الْحُسَيْنُ: لَوْلَا أَنَّهُ سُنَّةٌ لَمَا تَرَكْتُكَ تُصَلِّي عَلَيْهِ.

2014/11/13

Arti Tuzhaa



Aiman berkata, “Saya pernah masuk rumah Aisyah RA. Saat itu busana yang beliau pakai Diru Qithr, yakni busana yang tergolong murah, senilai lima dirham. Dirham ialah uang dari perak. Beliau RA berkata ‘lihatlah pelayan saya! Amatilah! Dia tuzha (تُزْهَى), yakni sombong. Tidak mau memakai pakaian ini di dalam rumah. Padahal di zaman Rasulillah SAW, saya punya baju seperti ini, bermanfaat untuk orang banyak. Di Madinah, tak seorangpun wanita yang dirias menjadi pengantin, kecuali pasti mengutus orang untuk meminjam pakaian ini pada saya.” [1]


[1] صحيح البخاري (3/ 165)
2628 - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَعَلَيْهَا دِرْعُ قِطْرٍ، ثَمَنُ خَمْسَةِ دَرَاهِمَ، فَقَالَتْ: «ارْفَعْ بَصَرَكَ إِلَى جَارِيَتِي انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهَا تُزْهَى أَنْ تَلْبَسَهُ فِي البَيْتِ، وَقَدْ كَانَ لِي مِنْهُنَّ دِرْعٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ تُقَيَّنُ بِالْمَدِينَةِ إِلَّا أَرْسَلَتْ إِلَيَّ تَسْتَعِيرُهُ»
__________

[تعليق مصطفى البغا]
2485 (2/926) -[ش (أبي) هو أيمن الحبشي المخزومي المكي. (درع) قميص المرأة. (قطر) نوع من غليظ الثياب القطنية فيه بعض الخشونة وفي نسخة (درع قطن) . (تزهى) تأنف وتتكبر. (تقين) تتزين لزفافها].