SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/07/27

Berbicara Indah Saat Marah



Berbicara indah ketika marah tidaklah mudah, hanya kaum hebat yang bisa melakukan. Seorang tokoh Islam pernah menyampaikan kajian, "Zaid bin Sanah (زَيْدُ بن سَعْنَةَ)" Dalam Muntakhob min Kanzil-Ummal. Hanya ketika itu penjelasannya sekilas, yakni hanya inti dari dari hikmahnya. Thobaroni yang menjelaskan riwayat itu secara panjang dan gamblang. Intinya bahwa ‘berbicara indah’ ketika marah, amalan kaum yang disertai oleh Tuhan Ar-Rohman. Mereka penakluk lawan, dengan cara mengagumkan: المعجم الكبير للطبراني - (5 / 163)
5002- حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن عَبْدِ الْوَهَّابِ بن نَجْدَةَ الْحَوْطِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبِي ، ح وَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن عَلِيٍّ الأَبَّارُ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن أَبِي السَّرِيُّ الْعَسْقَلانِيُّ ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بن مُسْلِمٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن حَمْزَةَ بن يُوسُفَ بن عَبْدِ اللَّهِ بن سَلامٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن سَلامٍ ، قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَمَّا أَرَادَ هُدَى زَيْدِ بن سَعْنَةَ ، قَالَ زَيْدُ بن سَعْنَةَ : مَا مِنْ عَلامَاتِ النُّبُوَّةِ شَيْءٌ إِلا وَقَدْ عَرَفْتُهَا فِي وَجْهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، حِينَ نَظَرْتُ إِلَيْهِ إِلا اثْنَتَيْنِ لَمْ أَخْبُرْهُمَا مِنْهُ ، يَسْبِقُ حِلْمُهُ جَهْلَهُ وَلا تَزِيدُ شِدَّةُ الْجَهْلِ عَلَيْهِ إِلا حِلْمًا ، فَكُنْتُ أَلْطُفُ لَهُ لأَنْ أُخَالِطَهُ ، فَأَعْرِفَ حِلْمَهُ مِنْ جَهْلِهِ . قَالَ زَيْدُ بن َسَعْنَةَ : فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مِنَ الْحُجُرَاتِ وَمَعَهُ عَلِيُّ بن أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ عَلَى رَاحِلَتِهِ كَالْبَدَوِيِّ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ بُصْرَى قَرْيَةَ بني فُلانٍ قَدْ أَسْلَمُوا ، وَدَخَلُوا فِي الإِسْلامِ ، وَكُنْتُ حَدَّثَتْهُمْ إِنْ أَسْلَمُوا أَتَاهُمُ الرِّزْقُ رَغَدًا ، وَقَدْ أَصَابَتْهُمْ سَنَةٌ وَشِدَّةٌ وقُحُوطٌ مِنَ الْغَيْثِ ، فَأَنَا أَخْشَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ الإِسْلامِ طَمَعًا كَمَا دَخَلُوا فِيهِ طَمَعًا ، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُرْسِلَ إِلَيْهِمْ بِشَيْءٍ تُعِينُهُمْ بِهِ فَعَلْتَ ، فَنَظَرَ إِلَى رَجُلٍ إِلَى جَانِبِهِ أُرَاهُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا بَقِيَ مِنْهُ شَيْءٌ ، قَالَ زَيْدُ بن سَعْنَةَ : فَدَنَوْتُ إِلَيْهِ ، فَقُلْتُ : يَا مُحَمَّدُ ، هَلْ لَكَ أَنْ تَبِيعَنِي تَمْرًا مَعْلُومًا مِنْ حَائِطِ بني فُلانٍ إِلَى أَجْلِ كَذَا وَكَذَا ؟ فَقَالَ : لا يَا يَهُودِيُّ ، وَلَكِنِّي أَبِيعُكَ تَمْرًا مَعْلُومًا إِلَى أَجْلِ كَذَا وَكَذَا ، وَلا تُسَمِّي حَائِطَ بني فُلانٍ ، قُلْتُ : بَلَى ، فَبَايَعَنِي فَأَطْلَقْتُ هِمْيَانِي ، فَأَعْطَيْتُهُ ثَمَانِينَ مِثْقَالا مِنْ ذَهَبٍ فِي تَمْرٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجْلِ كَذَا وَكَذَا ، فَأَعْطَاهَا الرَّجُلَ ، فَقَالَ : اغْدُ عَلَيْهِمْ فَأَعِنْهُمْ بِهَا ، فَقَالَ زَيْدُ بن سَعْنَةَ : فَلَمَّا كَانَ قَبْلَ مَحَلِّ الأَجَلِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلاثٍ ، أَتَيْتُهُ فَأَخَذْتُ بِمَجَامِعِ قَمِيصِهِ وَرِدَائِهِ ، وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ بِوَجْهٍ غَلِيظٍ ، فَقُلْتُ لَهُ : أَلا تَقْضِيَنِي يَا مُحَمَّدُ حَقِّي ؟ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُكُمْ بني عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَمَطْلٌ ، وَلَقَدْ كَانَ لِي بِمُخَالَطَتِكُمْ عَلِمٌ ، وَنَظَرْتُ إِلَى عُمَرَ ، وَإِذَا عَيْنَاهُ تَدُورَانِ فِي وَجْهِهِ كالْفَلَكِ الْمُسْتَدِيرِ ، ثُمَّ رَمَانِي بِبَصَرِهِ ، فَقَالَ : يَا عَدُوَّ اللَّهِ أَتَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَسْمَعُ ، وَتَصْنَعُ بِهِ مَا أَرَى ، فَوَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ لَوْلا مَا أُحَاذِرُ فَوْتَهُ لَضَرَبْتُ بِسَيْفِي رَأْسَكَ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَى عُمَرَ فِي سُكُونٍ وتُؤَدَةٍ ، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ ، أَنَا وَهُوَ كُنَّا أَحْوَجَ إِلَى غَيْرِ هَذَا ، أَنْ تَأْمُرَنِي بِحُسْنِ الأَدَاءِ ، وتَأْمُرَهُ بِحُسْنِ التِّبَاعَةِ ، اذْهَبْ بِهِ يَا عُمَرُ وأَعْطِهِ حَقَّهُ وَزِدْهُ عِشْرِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ مَكَانَ مَا رَوَّعْتَهُ ، قَالَ زَيْدٌ : فَذَهَبَ بِي عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَأَعْطَانِي حَقِّي ، وَزَادَنِي عِشْرِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الزِّيَادَةُ يَا عُمَرُ ؟ فَقَالَ : أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَزِيدَكَ مَكَانَ مَا رَوَّعْتُكَ ، قُلْتُ : وتَعْرِفُنِي يَا عُمَرُ ؟ قَالَ : لا ، مَنْ أَنْتَ ؟ قُلْتُ : أَنَا زَيْدُ بن سَعْنَةَ ، قَالَ : الْحَبْرُ ، قُلْتُ : الْحَبْرُ ، قَالَ : فَمَا دَعَاكَ أَنْ فَعَلْتَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فَعَلْتَ وَقُلْتَ لَهُ مَا قُلْتَ ؟ قُلْتُ : يَا عُمَرُ ، لَمْ تَكُنْ مِنْ عَلامَاتِ النُّبُوَّةِ شَيْءٌ إِلا وَقَدْ عَرَفْتُهُ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ نَظَرْتُ إِلَيْهِ إِلا اثْنَتَيْنِ لَمْ أَخْبُرْهُمَا مِنْهُ ، يَسْبِقُ حِلْمُهُ جَهْلَهُ ، وَلا يَزِيدُهُ الْجَهْلُ عَلَيْهِ إِلا حِلْمًا ، فَقَدْ أُخْبِرْتُهُمَا ، فَأُشْهِدُكَ يَا عُمَرُ أَنِّي قَدْ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا ، وَأُشْهِدُكَ أَنَّ شَطْرَ مَالِي وَإِنِّي أَكْثَرُهَا مَالا صَدَقَةٌ عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ . فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : أَوْ عَلَى بَعْضِهِمْ ، فَإِنَّكَ لا تَسَعُهُمْ . قُلْتُ : أَوْ عَلَى بَعْضِهِمْ ، فَرَجَعَ عُمَرُ وَزَيْدٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ زَيْدٌ : أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَآمَنَ بِهِ وَصَدَّقَهُ وَبَايَعَهُ وَشَهِدَ مَعَهُ مَشَاهِدَ كَثِيرَةً ، ثُمَّ تُوُفِّي زَيْدٌ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ مُقْبِلا غَيْرَ مُدْبِرٍ ، رَحِمَ اللَّهُ زَيْدًا.


Arti (selain isnadnya):
Dari Abdullah bin Salam RA: 
Sungguh ketika Allah telah menghendaki memberi hidayah, Zaid bin Sanah berkata, “Tiada satupun dari tanda-tanda kenabian kecuali benar-benar telah saya saksikan, ketika saya mengamati wajah Rasulillah SAW. Hanya dua tanda kenabian. yang belum saya saksikan dari beliau: 
1.     Kearifannya mengalahkan kebodohannya.
2.     Kebodohan orang yang mestinya membuat murka, justru menambah dia bijaksana. 
Saya telah mengadakan pendekatan agar bisa akrab dengan beliau, agar bisa menyaksikan kearifannya, yang jauh dari kebodohan.”

Zaid bin Sanah melanjutkan, “Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar dari kamarnya, didampingi oleh Ali bin Abi Thalib RA. Tiba-tiba seorang mirip orang pedesaan, datang menghadap, untuk berkata ‘ya Rasulallah, sungguh penduduk bani fulan, yang tinggal di Bushra telah Islam, dan memperdalam Islam’. Pada mereka, saya telah bercerita ‘jika kalian Islam, rizqi yang luas akan datang’. Namun kenyataannya, mereka justru terlanda paceklik. Dan hujan belum juga mengguyur mereka. Saya khawatir, mereka akan keluar dari Islam, karena kecewa tidak mendapatkan yang diharapkan. Jika tuan setuju, silahkan mengirimkan sumbangan untuk mereka’.
Beliau SAW mengamati seorang yang berada di sisinya (setahu saya, dia Ali RA). 
Lelaki itu berkata ‘ya Rasulallah tak ada sedikitpun yang tersisa’. (Mungkin yang dimaksud kas Baitul-Mal).”

Zaid bin Sanah segera mendekati nabi, untuk berkata, “Ya Muhammad, setujukah kau, membeli kurma saya yang sekarang masih di kebun bani fulan? Dengan pembayaran tempo yang dipastikan? Dengan harga sekian dan sekian?.”
Nabi SAW bersabda, “Tidak bisa hai orang Yahudi, mau saya, membeli kurmamu dengan harga tertentu, dengan pembayaran tempo, yaitu begini dan begini (pelunasannya). Yang kamu sebut jangan 'kurma kebun bani fulan' (karena timbangannya belum jelas)!.”   
Zaid bin Sanah berkata, “Ya” Lalu airmatanya berlinang.

Zaid bin Sanah bergerak cepat untuk membelikan kurma, dengan timbangan tertentu, dan tempo pelunasan begini dan begini, seharga 80 mitsqal emas. Lalu diberikan pada nabi SAW.
Nabi menyerahkan kurma itu, pada lelaki di sisi beliau, sambil bersabda, “Meruputlah untuk mengantarkan ini, untuk menyumbang mereka!.”

Zaid berkata, “Ketika tempo pelunasan telah mendekati dua atau tiga hari, saya datang untuk memegang gamis dan selendang nabi SAW. Saya sengaja memandang wajah beliau dengan garang. Dan berkata ‘hai Muhammad! Kenapa hutangku tidak segera kau lunasi? Demi Allah setahu saya ‘kau sebagai keluarga besar Abdul-Mutthalib (عَبْدِ الْمُطَّلِبِ)’, tidak suka menunda pelunasan hutang. Saya tahu itu karena telah sering bergaul dengan kalian’. Setelah saya mengamati, ternyata mata Umar melotot di wajahnya bagaikan bola bulat. Umar melemparkan pandangan bengisnya pada saya, lalu berkata ‘hai musuh Allah! Masyak kamu berani mengatakan tidak senonoh yang saya dengar pada Rasulallah SAW?! Kamu berani melakukan perbuatan demikian di depan mataku?! Demi yang telah mengutus beliau dengan hak! Kalau tidak khawatir disalahkan oleh beliau! Kepalamu telah saya belah dengan pedangku!'
Saat itu Rasulullah SAW diam, mengamati Umar, dengan berwibawa.

Beliau bersabda ‘hai Umar, sejak sebelum ini, kami berdua justu lebih membutuhkan perlakuan: 
1.     Perintahlah saya agar memperindah pelunasan. 
2.     Perintahlah dia agar memperindah penagiahan. Hai Umar, bawalah dia pergi, dan lunasilah piutangnya. Dan tambahilah 20 sok kurma, untuk mengobati ketakutan, karena telah kau gertak’. [1]

Saya bertanya ‘kok ada tambahan ya Umar?’.
Umar menjawab ‘Rasulullah telah perintah, agar saya memberi tambahan padamu, sebagai denda, kau telah saya buat ketakutan dengan gertakan’.   
Zaid bertanya ‘kau kenal saya hai Umar?’.
Dia menjawab ‘tidak, siapa kau?’.
Zaid menjawab ‘Zaid bin Sanah (زَيْدُ بن سَعْنَةَ)’.
Umar bertanya ‘si chaber (الْحَبْرُ) itu?’. (Maksudnya orang alim itu?)’.
Zaid menjawab ‘ya sayalah chaber itu’.
Umar bertanya ‘apa yang mendorong kau? Melakukan dan mengatakan yang tidak senonoh pada Rasulillah SAW?’.
Zaid menjawab ‘ya Umar, tiada satupun dari tanda-tanda kenabian, kecuali pasti telah saya saksikan, ketika saya mengamati wajah Rasulillah SAW. Hanya dua tanda kenabian beliau, yang belum saya saksikan: 
1.     Kearifannya mengalahkan kebodohannya. 
2.     Kebodohan orang yang mestinya membuat murka, justru menambah dia bijaksana. 
Karena kini telah berhasil membuktikan dua hal tersebut, maka saya mempersaksikan padamu ya Umar, bahwa saya benar-benar telah ridho bertuhan Allah, beragama Islam, dan bernabi Muhammad SAW. Saya juga mempersaksikan padamu bahwa, setengah dari hartaku 'saya shodaqohkan untuk umat Muhammad'. Sayalah yang lebih banyak hartanya’.
Umar mengarahkan ‘untuk sebagian mereka saja. Kau tak mungkin menshodaqohi mereka semuanya’.
Zaid setuju ‘ya untuk sebagian mereka’.”

Umar dan Zaid kembali menghadap Rasulallah SAW. 
Zaid bin Sanah berkata, “Asyhadu an laa Ilaaha illaa Allah wa asyhadu anna Muhammadan abdu-Hu wa Rasulu-H SAW.”

Zaid beriman, mempercayai, dan berbai’at pada nabi SAW. Bahkan mengikuti beliau SAW, dalam sejumlah acara-acara penting. Dia wafat dalam Perang Tabuk, dalam keadaan Islam.
Semoga Allah merahmati Zaid bin Sanah.

Dipastikan nabi tersinggung dan marah, oleh ucapan dan perlakuan Zaid. Tetapi beliau justru bersabda indah. Beliau SAW membiasakan berbuat demikian ini, mulai kecil hingga wafat. Oleh karena itu musuh-musuh yang tadinya benci setengah mati, berubah total menjadi cinta-mati-matian. Adakah musuh nabi SAW, yang yang bersikeras 'mempertahankan kebenciannya?' Jawabannya, “Tak satupun, kecuali yang dikodar wafat sebelum menyadari 'akhlaqnya SAW jauh lebih indah, daripada mutiara paling indah'. Yakni sebelum beliau menaklukkan penduduk Makkah tahun 8 Hijriyah.
Dipastikan, jika mutiara terindah didunia dipamerkan,  ribuan orang takkan menangis karena terkesima. Tetapi RASULULLAH telah membuat bangsa Quraisy lebih dari terkesima, oleh ampunan dan akhlaqnya. Beliaulah yang mestinya membanjiri kota Makkah dengan darah penduduknya, yang telah membuat hidupnya tertekan dan menderita selama 21 tahun. Mereka pun sadar, karena akhirnya mereka telah terjebak, oleh kekuatan dahsyat yang bisa mematikan. Ampunan beliau untuk mereka di Fatchu Makkah, membuat seakan-akan mereka membumbung kelangit. Atau bagaikan menghidupkan mereka yang telah tewas oleh tebasan pedang. Makkah yang mestinya banjir darah, ternyata justru banjir ampunan dan anugrahnya SAW. Sehingga penduduknya menumpahkan air mata bahagia."




[1] Kalimat akhir ini diketahui olehnya, setelah diberi tahu oleh Umar.

2011/07/26

KW 103: Perang Yarmuk (اليرموك)


(Bagian ke-103 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Dalam waktu cepat berita pasukan Muslimiin menaklukkan pasukan Chimsh, Rostan, dan Syaizar, sampai pada Raja Hiraqla. Hiraqla juga mendapat laporan bahwa hadiyah yang dikirim pada Harbis, dirampas oleh pasukan Muslimiin, di tengah perjalanan.
Di hari yang menegangkan itu Raja Hiraqla menunggu datangnya bala bantuan dari beberapa kerajaan yang telah disurati. Luar biasa, belum pernah ada pasukan berdatangan melaut berjumlah sebanyak itu: Ujung pasukan berada di Antiokhia (Anthaqiyah/أَنْطَاكِيَة), ekornya berada di kota Romawi (Rumiyatul-Kubra/رومية الكبرى).
Hiraqla mengutus sejumlah pasukan agar pergi ke kota Kaisarea (Qaisariyyah/قَيْسَارِيَّة) untuk mengamankan kota Eka (Akka/عَكَّاءَ) dan Tiberias (Thobariyyah/طَبَرِيَّة). Sejumlah pasukan lainnya diutus agar pergi ke Baitul-Maqdis, untuk menunggu Mahan Al-Armani (ماهان الأرمني) raja Armenia dan pasukannya, yang akan segera datang.
Raja Mahan Al-Armani telah mengumpulkan pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada pasukan Raja Hiraqla.

Beberapa hari kemudian Mahan Al-Armani datang untuk menemui Raja Hiraqla di kerajaan. Ketika Mahan dan pasukannya telah mendekat pada Hirqla, turun dari kuda untuk berjalan kaki dan mengamalkan amalan kufur. Mahan dan rombongannya menangis sambil melaporkan kota-kota besar yang direbut kaum Muslimiin.
Hiraqla berkata, “Hai pemeluk agama Nashrani dan putra air Amudiyah.[1] Sejak dulu kalian sudah saya suruh agar waspada terhadap kekuatan kaum Arab yang mengancam; namun saat itu kalian tidak menerima anjuran saya. Demi kebenaran Al-Masih dan Injil yang shahih dan orang yang menjadi sembelihan kurban, dan tempat penyembelihan yang bernama Al-Amdan (المعمدان), pasukan Arab pasti akan merebut singgasana yang saya duduki ini. Yang pantas menangis saat ini hanyalah kaum wanita. Di dunia, hari ini jumlah kumpulan pasukan yang mendukung kalian tidak ada yang membandingi. Saya sendiri telah mengorbankan kekayaan dan pasukan saya untuk membela kalian, agama kalian, dan harem kalian. Kini bertobatlah pada Al-Masih agar mengampuni dosa kalian. Dan berniat baiklah untuk rakyat kalian. Jangan berbuat aniaya! Bersabarlah di dalam berperang! Jangan berselisih! Jangan merasa hebat maupun dengki! Karena pelakunya justru akan hina! Saya ingin kalian menjawab pertanyaan saya.”
Para pejabat tinggi Romawi dan para raja menjawab, “Bertanyalah, akan kami jawab.”  
Hiraqla berkata, “Kalain semua jumlahnya sangat banyak, dan kekuatan kalian sangat dahsyat; namun kenapa kalian saat ini telah dihinakan oleh kaum Arab?. Padahal kaum Persia dan Turki dan Jaramiqah yang dahsyat ketakutan pada kalian.[2] Mereka semua telah berkali-kali menyerang kalian, namun serangan mereka kalian patahkan hingga mereka pulang dengan menderita kekalahan. Kini justru kaum Arab yang lemah berbusana compang-camping, berperut lapar, berpedang sederhana, mengalahkan kalian, sehingga mereka merebut Bosra (Bushro/بصرى), Horan (Chauran/حوران), Ajnadin (أَجْنَادِين), Damaskus (Dimasqa/دِمَشْقَ), Balbek (Balabak/بَعْلَبَكَّ) dan Homs (Chimsh/حمص)?.”
Semua raja di hadapan Hiraqla diam tidak bisa menjawab. Seorang qisis (alim) besar dalam bidang agama Nashrani berdiri untuk berkata, “Yang mulia tidak tahu kenapa kaum Arab mengalahkan kaum kita?.”
Hiraqla menjawab, “Demi kebenaran Al-Masih saya tidak tahu.”
Dia berkata, “Yang mulia, karena kaum kita merubah agama dan menentang ajakan Al-Masih Isa bin Maryam AS. Banyak orang kita yang tidak peduli kaumnya berbuat aniaya. Tidak ada yang beramar makruf nahi munkar. Keadilan dan ichsan (احسان) tidak ditegakkan. Tidak melakukan ketaatan dan menyia-nyiakan waktu shalat. Makan riba, suka berzina, dan berbuat maksiat. Sementara kaum Arab sangat taat pada Tuhan mereka, memurnikan agama, menjadi rahib (shalat malam) di malam hari, berpuasa di siang hari. Selalu menyebut Tuhan mereka dan mendoakan sholawat untuk nabi mereka. Di dalamnya tidak ada penganiayaan maupun permusuhan. Tidak ada orang yang sombong. Busana luar mereka kebenaran dan busana dalam mereka ibadah. Kalau mereka menyerang kita, pasti menang; kalau kita menyerang mereka, mereka takkan mundur. Karena mereka tahu bahwa dunia akan fana sedangkan akhirat akan baka.”  
Hiraqla dan beberapa orang berkata, “Demi kebenaran Al-Masih kau benar. Ini semua lah yang menyebabkan kaum Arab mengalahkan kaum kita. Kalau kum kita melakukan yang mereka lakukan pasti juga akan menang.”
Hiraqla berkata, “Kalau begitu tak ada gunanya saya berjuang. Semua bala bantuan yang datang kemari akan saya persilahkan pulang. Saya dan keluarga saya akan meninggalkan kota Syria (Suriyah/سورية) menuju Asbuk, yakni Constantinople (Qusthanthiniyah/الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ). Agar di sana saya merasa aman dari serangan bangsa Arab.”
Pasukan berjumlah banyak sekali itu sangat khawatir jika Hirqla melaksanakan ucapannya. Sebagaian mereka bergerak cepat untuk mendekat dan berkata, “Tuan yang mulia, jangan!. Jangan kau biarkan agama Al-Masih dihinakan manusia, karena Al-Masih pasti akan menuntut tuan di hari kiamat nanti. Selain itu para raja akan mencerca tuan yang mulia, akan menila tuan bodoh. Ada lagi tuan: musuh-musuh kita akan bersuka-ria jika tuan meninggalkan surga kota Syam yang akan segera diduduki kaum Arab. Selain pasukan yang jumlahnya banyak bagaikan lautan ini, ada lagi pasukan yang akan membantu tuan. Yang pasti sepanjang sejarah belum pernah ada pasukan yang berjumlah sebanyak ini. Kami berjanji akan berperang dengan penuh semangat melawan kaum Arab, dan berdoa semoga Al-Masih menolong kita mengalahkan mereka. Angkatlah panglima perang yang kau inginkan! Kami akan mentaati untuk memerangi kaum Arab apapun yang terjadi.”


[1] Kaum Romawi meyakini bahwa air Amudiyah adalah suci dan barokah, dan mereka menamakan diri keturunan air Amudiyah.
[2] Kaum Jamariqah adalah kaum non Arab yang tinggal di Mousul.

2011/07/25

Dipastikan Wanita Cemburu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dipastikan Wanita Cemburu


Beberapa wanita menangis karena suaminya sedang, akan, atau telah, berpoligami. Intinya karena cemburuDi antara mereka ada yang bertanya pada Ustadz Saiful Barn yang segera menyampaikan, “Murid saya ada yang bertanya ‘apa betul wanita dimadu' pahalanya besar sekali?” di majlis.
Yu Sane, Dila dan Lana, menimpal, “Memang sekarang banyak yang bertanya begitu.”
Ustadz Liti menjawab, “Apapun yang dikerjakan atau ditahan dengan sabar, demi kebaikan dan kerukunan, pahalanya luar biasa
Thobaroni meriwayatkan Hadits mengenai pertanyaan itu :
9897 - حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بن يَحْيَى السَّاجِيُّ، حَدَّثَنَا مُوسَى بن عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَسْرُوقِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بن الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلاءِ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسًا إِذْ أَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ عُرْيَانَةٌ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَغَمَضَ عَيْنَيْهِ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَأَلْقَى عَلَيْهَا ثَوْبًا، وَضَمَّهَا إِلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَظُنُّهَا امْرَأَتَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَحْسَبُهَا غَيْرَى؟ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ الْغَيْرَةَ عَلَى النِّسَاءِ، وَالْجِهَادَ عَلَى الرِّجَالِ، فَمَنْ صَبَرَ مِنْهُنَّ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا كَانَ لَهَا مِثْلُ أَجْرِ الشُّهَدَاءِ.
Arti ( selain isnad)nya : 
Abdullah berkata, “Kami pernah berada di sisi nabi SAW. Tiba-tiba ada wanita telanjang bulat datang. Membuat nabi SAW sedih dan memejamkan mata. 
Seorang lelaki dari kaum itu berdiri cepat, untuk meletakkan kain. Menutupi dan memeluk wanita itu.
Sebagian sahabat nabi berkata ‘ya Rasulallah saya yakin dia pasti istrinya’. 
Rasulullah SAW bersabda ‘saya yakin wanita itu (dilanda) cemburu. Sungguh Allah azza wa jalla mewajibkan (memastikan) cemburu atas kaum wanita, dan mewajibkan berjihad atas kaum pria. Barang siapa dari para wanita (ketika dilanda cemburu) bersabar dan beriman, dan mengharapkan pahala, maka mendapatkan semisal pahala para Syuhada’.”   

Ibu-ibu bertanya, “Dalil selain itu apa ada?.”
Ustadz Tengah dan Ustadz Liti menjawab, “Innamaa yuwaffasshoobiruuna ajrohum bighoiri chisaab[1]. Artinya: ‘sungguh kaum Sabar akan dilunasi (pahala mereka) dengan tanpa hisaban (hitungan)’.”
Elan, Iti, dan nona-nona lainnya bertanya, “Dalil selain itu apa ada?.”
Joko Bodo dan Kang Sastro menjawab, “Ada:
2153 - حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الدُّورِىُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى أَيُّوبَ حَدَّثَنِى أَبُو مَرْحُومٍ عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِى أَىِّ الْحُورِ شَاءَ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ.
Artinya (isnadnya tidak diartikan):
Dari nabi SAW: “Barang siapa menahan susah padahal dia mampu melangsungkan, di hari kiamat Allah memanggil dia di atas pimpinan-pimpinan makhluq [2], hingga (akhirnya) Dia menyuruh memilih mana bidadari bermata indah yang dia inginkan.”

Tirmidzi berkata, “Ini Hadits hasan shahih.”

Lana berkata, “Kalau wanita yang bersabar tentunya juga diberi pahala lain yang sepadan itu.”


Ponpes Mulya Abadi Mulungan

[1] إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ  [الزمر : 10].
[2] Mengenai hal ini diterangkan di dalam Tuchfatul-Achwadzi: تحفة الأحوذي - (5 / 278)
أَيْ شَهَرَهُ بَيْنَ النَّاسِ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَتَبَاهَى بِهِ وَيُقَالُ فِي حَقِّهِ هَذَا الَّذِي صَدَرَتْ مِنْهُ هَذِهِ الْخَصْلَةُ الْعَظِيمَةُ.
Artinya: Allah membuat Mashur di kalangan manusia, dan menyanjung dia. Mengenai kemampuannya bersabar akan dikatakan, “Inilah yang diperoleh olehnya." Ini merupakan perkara luar biasa.



KW 102: Penduduk Chimsh (حمص) Menyerah


(Bagian ke-102 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Pasukan Muslimiin memacu kuda agar berlari kencang menuju pintu-pintu gerbang kota Chimsh. Dari jalan yang berbeda, pasukan Chimsh lari keluar untuk menjarah harta di dalam barak pengungsian pasukan Muslimiin. Pasukan Muslimiin lainnya menyerbu Harbis dan pasukannya yang sangat sombong. Serangan Muslimiin yang bertubi-tubi ganas sekali menggugurkan pasukan elit pengawal Raja Harbis. Dari 5.000 pasukan Raja Harbis yang masih hidup hanya sekitar 100 orang, lainnya berguguran tewas. 
Pasukan Chimsh yang tewas bertambah terus. Korban berjatuhan paling banyak yang di sekitar pintu-pintu gerbang. Yang masih hidup, kabur untuk menyelamatkan diri. Penduduk Awashim dan lainnya yang mengungsi di kota itu, hanya berada di dalam beteng, karena takut menghadapi serangan Muslimiin. Jumlah korban pasukan Chimsh yang berguguran bertambah terus. 
Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) yang mengikuti peperangan itu berkata, “Jumlah mereka yang berguguran 5.006 orang, yang luka berat dan yang ditawan tidak dihitung.”
Sa’id mendekat untuk berkata pada Abu Ubaidah, “Yang mulia, jumlah musuh yang tewas 5.006 orang, yang tertawan dan menderita luka tidak dihitung.”
Abu Ubaidah berkata, “Ya Sa’id, ini berita menggembirakan. Apa sudah kau cek Bathriq Harbis tewas apa tidak?.”
Sa’id menjawab, “Kalaupun tewas, yang membunuh saya sendiri.”
Abu Ubaidah bertanya, “Betulkah?.”
Sa’id menjawab, “Yang pasti saya telah melihat orang tinggi besar naik kuda berkulit agak merah, membawa pedang berbaju perang, dikawal oleh pasukan berjumlah banyak. Saya mendekat dan berdoa ‘ya Allah, hamba mengajukan kemampun-Mu di depan kemampun hamba. Ya Allah pastikan tewasnya dia di tangan hamba, agar hamba mendapat pahala membunuh dia.”[1]
Abu Ubaidah bertanya, “Apakah lucutan dia telah kau ambil hai Sa’id?.”
Sa’id menjawab, “Belum. Tetapi dia telah saya beri tanda dengan anak panah yang saya tancapkan pada jantungya. Saya juga melumpuhkan kawan-kawan orang yang loncat dari kuda. Lalu dia yang Yahudi itu saya kejar untuk saya tebas dengan pedang. Pedang saya hanya merobek sarungnya, tetapi anak panah saya menembus dadanya.”  
Abu Ubaidah berteriak, “Carilah Harbis! Semoga Allah menyayang kalian. Berikanlah lucutannya pada Sa’id ini!.”
Pasukan Muslimiin mencari jasad Harbis raja Chimsh, lalu memberikan lucutannya pada Sa’id. Peperangan telah berakhir; pasukan Muslimiin mengumpulkan lucutan, perisai, dan kuda. Semua dikumpulkan di hadapan Abu Ubaidah RA. Yang seperlima diberikan pada Baitul-Mal; sisanya dibagi untuk semua pasukan.

Di kota Chimsh banyak sekali orang menangis histeris dan berteriak-berteriak. Kekasih dan keluarga tewas, dan kota mereka dikuasai oleh pasukan Muslimiin. Dengan sedih, orang-orang tua dan tokoh-tokoh kota Chimsh (حمص) berkumpul di biara, untuk membicarakan kebijakan, bersama para ulama (qasus/القَسُوس), dan para rahib (ruhban/الرُّهْبَانُ) Nashrani. Dalam musyawarah itu diputuskan bahwa kota Chimsh akan segera diserahkan pada pasukan Muslimiin.
Rombongan yang terdiri dari ulama dan pejabat tinggi Nashrani mengahadap Abu Ubaidah, untuk meyerahkan kota Chimsh, dan menyatakan sanggup menjadi dzimi (dzimah). Abu Ubaidah menerima kota dan penyerahan-diri penduduk Chimsh. “Tetapi saya tidak mau masuk kota ini sehingga tahu pasti bagaimana keadaan Raja Hiraqla,” kata Abu Ubaidah.

Sejumlah pejabat Chimsh memohon diperkenankan memulikan pasukan Muslimiin di dalam kota; namun Abu Ubaidah melarang mengabulkan permohonan mereka. Tak ada seorang pun dari pasukan Muslimiin yang masuk kota itu kecuali setelah Perang Yarmuk usai. Tujuannya agar persahabatan dengan kaum Romawi di Chimsh berjalan alami, dan agar mereka tahu bahwa 'Islam mengajarkan keadilan', sehingga persahabatan menjadi lebih indah.

An-Najar (النجار) tergolong veteran Perang Chimsh yang bergabung dalam Penaklukan Kota-Kota Syam, menjelaskan, “Setelah raja kota Chims bernama Harbis tewas, dan penduduknya telah menyerahkan kota itu pada pasukan Muslimiin; penduduk Chimsh keluar kota mencari keluarga mereka yang tewas, untuk dikuburkan.
Pasukan Muslimiin kehilangan sejumlah sahabat Rasulillah SAW yang gugur sebagai syuhada. Kaum Muslimiin hanya menemukan 235 mayat dari pasukan Chimyar (حمير) dan Hamdan (همدان). Pasukan dari Makkah yang gugur 30 orang. Di antara mereka yang terpenting:
1.     Tokoh besar mereka: Ikrimah bin Abi Jahl (عكرمة بن أبي جهل).
2.     Shobir bin Jari (وصابر بن جرىء).
3.     Ris bin Uqail (الريس بن عقيل).
4.     Marwan bin Amir (مروان بن عامر).
5.     Minhal bin Amir (المنهال بن عامر).
6.     Anak paman Abbas RA (ابن عم العباس).
7.     Jamch bin Qadim (جمح بن قادم).
8.     Jabir bin Khuwailid (جابر بن خويلد).
Selain delapan dari 30 tokoh yang tertulis ini, adalah pasukan dari Yaman, Hamdan, dan lain-lain.”  


[1] Dalam kitab dijelaskan: فتوح الشام - (1 / 147)
اللهم إني اقدم قدرتك على قدرتي وغلبتك على غلبتي اللهم اجعل قتله على يدي وارزقني اجره