SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/06/29

KW 87: Berkendaraan Kuda Menuju Lokasi

(Bagian ke-87 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Pasukan Balbek bersembunyi di ceruk-ceruk gunung. Sa’id bin Zaid dan 500 pasukannya mencari mereka dengan berkendaraan kuda.
Ketika Abu Ubaidah menyaksikan kaum Balbek berlari mengikuti Harbis kegunung, berkata, “Hai! jangan ada seorangpun yang mengejar mereka! Agar pasukan kita tidak berpecah! Saya khawatir ini hanya siasat untuk menjebak kalian! Ketika kalian telah bercerai! Mereka menyerang kalian dengan spontan!.”   
Sa’id bin Zaid tidak mendengat larangan itu. Kalau mendengar pasti tidak mengejar mereka. Sa’id bin Zaid mengejar dan berkata, “Kepunglah kaum yang akan dirusak oleh Allah itu! Jangan sampai mereka berani melawan! Sambil kita menunggu pasukan yang di belakang! Kita menindak mereka setelah pimpinan kita memerintahkan.”
Sa’id bin Zaid menunjuk seorang wakil agar memimpin pasukannya, sementara dia ditemani sekitar 20 pasukan berkuda pergi menuju Abu Ubaidah di pertengahan pasukan induk. Ketika Sa’id bin Zaid telah menghadap; Abu Ubaidah bertanya, “Mana pasukanmu dan bagaimana keadaan mereka?.”
Sa’id bin Zaid menjawab, “Berbahagialah wahai pimpinan, pasukan saya dalam keadaan baik-baik dan selamat. Mereka sedang mengepung musuh-musuh Allah di ceruk-ceruk gunung.”
Lalu melaporkan kesemuanya.
Abu Ubaidah RA berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat mereka bercerai-berai meninggalkan tempat tinggal mereka.”
Abu Ubaidah mendekati Sa’id bin Zaid dan Dhirar bin Al-Azwar untuk bertanya, “Kenapa kalian berdua bisa menyelisihi perintah? Semoga Allah menyayang kalian. Bukankah saya telah perintah agar kalian berada di pintu-pintu gerbang kota untuk mengecoh mereka?. Apa yang mendorong kalian datang kemari?. Saya dan orang-orang yang menyertaiku tadi khawatir kalau telah terjadi sesuatu, atau pasukan Balbek telah melancarkan serangan pada kalian dari belakang. Sehingga kami mengurungkan rencana mengejar Harbis dan pasukannya ke gunung.”
Sa’id bin Zaid berkata, “Wahai pimpinan! Demi Allah saya tidak berniat menentang perintahmu sama sekali. Saya telah melaksanakan perintah, namun tiba-tiba saya melihat asap membumbung tinggi sehingga saya berpikir ini pasti ada sesuatu yang serius. Kami pun segera datang kemari.”
Abu Ubaidah berteriak, “Siapa yang telah menyalakan api di atas gunung agar segera kemari untuk memberi keterangan!.”
Sahl bin Shabach bergegas menghadap Abu Ubaidah yang segera bertanya, “Apa yang telah mendorongmu melakukan demikian?.”
Setelah Abu Ubaidah mendengarkan laporan, berkata, “Sungguh Allah telah memberi petunjuk jalan ke surga padamu. Namun setelah ini jangan sekali-kali melakukan yang membahayakan sebelum minta ijin pada pimpinan.”
Pasukan Muslimiin memperhatikan Abu Ubaidah berbicara serius pada Sahl bin Shabach; seorang lelaki datang bergegas dari atas gunung untuk berterik, “Ayo bergegas  hai umat Muhammad! Susullah saudara kalian yang sedang kesulitan karena dikepung kaum Balbek!.”

Harbis panglima perang pasukan Balbek telah siap menggerakkan pasukannya untuk menyerang pasukan Muslimiin. Dia berkata pada pasukannya, “Hai penyembah Al-Masih! Seranglah golongan yang hanya sedikit lagi hina yang menghlang-halangi kalian memasuki kota ini! Kalau kalian berhasil membunuh mereka pasti lainnya akan lari ketakutan meninggalkan kita!.”   
Sa’id bin Zaid menggerakkan pasukan berjumlah kurang dari 500 orang untuk mengepung Harbis dan pasukannya di celah-celah gunung. Sa’id dan pasukannya terkejut oleh munculnya pasukan Balbek dari tempat persembunyian hampir bersamaan. Pasukan Muslimiin berteriak, “Sabar! Sabar,” sebagai sandi antar mereka agar waspada terhadap serangan.

Peperangan berkecamuk dengan sengit dan ribut. Ada terikan dari jauh keras sekali, “Adakah lelaki yang sanggup mengorbankan dirinya untuk Allah dan menolong pasukan Muslimiin?. Musuh telah dekat sekali!.” 
Mush’ab bin Adi melarika kuda untuk mendatangi suara, namun dua pasukan Balbek menghalangi dan menebas hingga dia tewas. Mush’ab memacu kudanya cepat sekali menuju teriakan. Kuda yang kecepatan larinya luar biasa segera sampai pada arah teriakan yang ternyata pasukan Muslimiin.

Di pasukan induk, Abu Ubaidah segera tahu bahwa ada bahaya menimpa pasukan Muslimiin. Dia berteriak pada pasukan berkudanya agar membantu yang sedang kesulitan; 500 pasukan jago-memanah berkumpul untuk mendatangi panggilan dan melaksanakan perintah, di bawah komando Sa’id bin Zaid.
Kepada Sa’id, Abu Ubaidah perintah, “Cepat bantu saudara kita di sana! Sebelum mereka diserbu musuh! Semoga Allah menyayangmu.”
Sa’id menggiring 500 pasukannya berkendaraan kuda menuju lokasi.

Abu Ubaidah memanggil untuk perintah Dhirar dan pasukannya, “Susullah pasukan Sa’id!.”   

2011/06/26

KW 86: Di Puncak Gunung

(Bagian ke-86 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Dhirar menjawab, “Akan saya laksanakan dengan senang dan sebaik-baiknya.”
Tiap rombongan telah berangkat menuju lokasi yang ditentukan. Di pagi yang dingin itu, kaum Balbek membuka semua pintu beteng untuk keluar. Beribu-ribu pasukan yang mengalir keluar itu dipimpin Bathriq Harbis raja mereka yang di bawah kendali Raja Hiraqla. Mereka mendengarkan Harbis berkata, “Ketahuilah hai orang-orang Nashrani, bahwa saudara-saudara kita yang berada di selain wilayah kita tidak mampu melawan kaum Arab.”
Kaumnya sama menjawab, “Yang mulia berbahagialah, dan nasehatilah kami. Sebelumnya kami takut pada kaum Arab, namun ternyata mereka bukan orang yang pemberani dan bukan orang yang gigih dalam berjuang. Banyak di antara mereka yang berpakaian jelek; padahal kita berbaju perang dan berhelm yang diberi pilindung leher. Kita telah diberi kewibawaan oleh Al-Masih."

Abu Ubidah berteriak pada seluruh pasukannya, “Hai kaum Muslimiin! Jangan takut mereka! Agar kewibawaan kalian tidak hilang! Bersabarlah! Sungguh Allah menyertai orang-orang sabar!.”

Namun kebanyakan pasukan Balbek (Balabak/بعلبك) takut karena teringat serangan pasukan Muslimiin sehari sebelumnya, dahsyat sekali. Hal itu membuat serangan mereka pada pasukan Muslimiin sangat ganas berbahaya.

Seorang Muslim bernama Sahl bin Shabach Al-Absi (سهل بن صباح العبسي) menjelaskan, “Saat terjadi peperangan di hari yang kedua itu, serangan kaum Balbek ganas sekali. Saat itu lengan kanan saya tidak bisa digerakkan untuk membawa pedang karena luka seerius. Saya berperang berjalan kaki bersama teman-teman, dan berpikir kalau terjadi peperangan saya tidak bisa berbuat banyak. Saya mendaki ke puncak gunung tinggi yang dingin untuk melihat peperangan, dari belakang batu besar.
Kaum Balbek (Balabak/بعلبك) melancarkan serangan bertubi-tubi; kaum Muslimiin melawan mereka dengan garang. Beberapa pedang berdenting mengeluarkan bunga api; saat membentur helm perang atau pedang.”
Beberapa Muslimiin berharap Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) dan Dhirar bin Al-Azwar (وضرار بن الأزور) mengamuk, untuk meringankan beban perjuangan kaum Muslimiin umunya. Panglima perang mereka bernama Abu Ubidah juga berperang sibuk sekali. Perang makin berkobar-kobar dan korban sama berjatuhan. Sahl bin Shabach yang sedang luka menyaksikan peperangan dari puncak gunung. Di atas itu, dia mematahkan pepohonan untuk ditumpuk dan dibakar. Dia menggoreskan zinad (korek) untuk menyalakan tumpukan kayu-kayu. Setelah menyala, ditambahi lagi kayu-kayu kering dan basah hingga asapnya membanyak dan membumbung tinggi.
Sebelum itu sudah ada kesepakatan di antara kaum Muslimiin: tanda untuk mengumpulkan mereka adalah api dan asap. Api dan asap semakin membesar dan meninggi. Sa’id bin Zaid dan pasukannya dari bawah, melihat asap tebal di puncak gunung; Dhirar bin Al-Azwar dan pasukannya juga melihatnya. Dua komandan itu perintah orang agar menghubungi panglima mengenai adanya tanda untuk berkumpul. Dua golongan bergerak saling mendekat untuk bersatu. Saat itu peperangan sedang sangat gawat karena dua kubu saling menyerang dan melawan, sehingga kaum Muslimiin kesulitan dan susah sekali.
Pasukan Muslimiin dikejutkan orang berteriak, “Hai penganut Al-Qur’an! Pertolongan dari Rohman telah datang pada kalian! Kalian ditolong untuk menaklukkan penyembah Sulban (الصُّلْبَانُ).”[1] 
Di saat pasukan Muslimiin bergerak menjauhi pintu gerbang beteng; pasukan Balbek melancarkan serangan bertubi-tubi dan bergerak meninggalakan ruangan kosong depan pintu gerbang untuk menyerbu dan menyerbu.
Sa’id bin Zaid dan Dhirar mengamuk untuk membunuh musuh dan memberi jalan pasukan mereka berdua, agar memasuki ruangan kosong itu. Pasukan Balbek yang tadinya yakin akan segera menaklukkan kaum Muslimiiin terkejut; saat melihat kenyataan yang diluar dugaan.
Pasukan Balbek bergerak mendekat untuk merebut lagi posisi di dekat pintu gerbang, namun tebasan pedang dan tusukan tombak pasukan Muslimiin menewaskan mereka dengan tragis. Dan amukan pasukan Muslimiin yang menggila menggugurkan mereka; mirip badai menggugurkan dedaunan. Pada sisa-sisa pasukan yang masih hidup itu, panglima perang mereka bernama Harbis berteriak, “Jangan lari menuju pintu gerbang! Karena telah terhalang oleh mereka! Siasat kaum Arab kali ini berhasil!.”
Sisa-sisa pasukan Balbek berkumpul mengelilingi panglima mereka, berjalan menjauh ke depan lalu berbelok ke kiri dan menaiki gunung.
Sa’id bin Zaid dan Dhirar menggerakkan pasukan mereka berdua untuk menyerang sisa-sia pasukan Balbek yang ketinggalan di kiri dan kanan beteng, hingga mereka tewas terkena senjata tajam. Yang lain berlari untuk bergabung pada pasukan induk di bawah komando panglima perang mereka di atas gunung.  


[1] Sulban bahasa Arab, bentuk jamak dari Salib.

2011/06/24

KW 85: Singgasananya

(Bagian ke-85 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Sang bathriq berkata pada Harbis, “Ketika itu barisan kiri dan tengah dari pasukan kita takut pada kau, sehingga mereka tetap saja menyerang pasukan Muslimiin. Tapi akhirnya dua barisan itu berselisih pendapat dan berdebat, hingga akhirnya menjadi dua golongan. Ada yang ingin berdamai; ada yang bertahan untuk melawan kaum Muslimiin, kan?.”

Harbis marah dan merobek surat Abu Ubaidah lalu membuangnya, lalu perintah pelayan-pelayannya agar lelaki penghantar surat itu diturunkan dengan tali agar keluar dari beteng.
Setelah sampai keluar beteng, lelaki itu menjumpai Abu Ubaidah RA, untuk melaporkan jawaban Harbis dan tanggapan para pejabat Balbek. Dia menambahkan, “Wahai pemimpin! Kebanyakan mereka ingin melawan pasukan tuan.”
Abu Ubaidah perintah pada pasukan Muslimiin, “Seranglah mereka! Ketahuilah kota ini berada di pertengahan wilayah kalian. Kalau tidak segera ditaklukkan akan membahayakan, karena bisa menghasud kaum-kaum yang telah kita taklukkan; jalur perjalanan kalian jadi tidak aman.”  
Para sahabat Rasulillah bergerak mempersiapkan peralatan perang untuk bertempur. Mereka bergerak mendekati beteng; penghuni beteng menyerang mereka dengan anak panah dan batu-batuan, dari dalam.
Luka-luka Harbis masih dibalut kain. Dia membawa pedang berbaju perang mengeluarkan singgasananya dari balairung ke sebuah taman yang berada di wilayah Namlah. Dia mengenakan mahkota bersalib dari jauhari, dikelilingi sejumlah bathriq berkalung Salib emas dan jauhari, membawa perisai berlapis emas dan busur serta seikat anak panah.
Pengepungan oleh pasukan Muslimiin diperketat; anak panah yang melesat dari dalam beteng banyak sekali bagaikan hujan. Sejumlah pasukan Muslimiin yang tidak membawa perisai, terkena anak panah.
Sejumlah lelaki berjatuhan dari atas beteng. Di antara mereka ada yang didatangi seorang Muslim untuk dibunuh. Orang yang telah ditangkap itu berkata, “Ampun, ampun.”
Tangkapan itu sama terkejut ketika digertak, “Kalian dijamin selamat! Tapi siapa yang menjatuhkan kalian dari atas beteng?.”
Seorang lelaki itu menjawab dengan bahasa Romawi, sehingga yang menangkap tidak memahami. Amir bin Waheb (عامر ابن وهب) membawa lelaki itu ke tenda Abu Ubaidah untuk memohon, “Ya yang mulia, carikan orang yang bisa berbahasa Romawi. Kaum orang ini saling melempar,”
Abu Ubaidah perintah pada para penerjemah, “Cek dan laporkan pada kami tentang orang ini! Kenapa kaumnya saling melempar?.”
Beberapa penerjemah berkata, “Hai orang celaka! Kami telah menjamin kau selamat! Sekarang jujurlah pada kami! Katakan kenapa sebagian kalian melempar pada sebagian?.”
Dia menjawab, “Sebetulnya bukannya saling melempar, tetapi memang kami adalah penduduk Al-Qura. Kami berlari memasuki beteng untuk berlindung ketika mengetahui kalian datang kemari, karena kami tahu di dalam beteng banyak pasukan. Karena beteng telah penuh, sebagian kami bertempat di beberapa jalan; yang lain di bawah beteng. Ketika kalian menyerang kaum yang di dalam beteng, pasukan tempur mereka maju hingga kami terinjak-injak dan tertabrak oleh mereka. Ketika mereka kualahan melawan serangan kalian; mereka menjatuhkan kami dari atas beteng.”
Abu Ubaidah tersenyum dan berkata, “Saya berharap semoga Allah menjadikan mereka sebagai tawanan kita.”   

Perang berkecamuk dengan sengit, suaranya riuh menggemuruh. Pasukan Muslimiin tidak mampu mendekati beteng karena bebatuan dan anak panah melesat bertubi-tubi. Di hari pertama dari serangan itu, kaum Muslimiin yang terluka berjumlah duabelas orang; pasukan Romawi dan penduduk sipil yang tewas di atas beteng sangat banyak. 
Malam itu pasukan Muslimiin pulang menuju tenda-tenda untuk menyalakan api unggun, karena udara sangat dingin. Yang lain berjaga pada beberapa sudut. Ketika fajar menyingsing; adzan dialunkan di udara; kaum Muslimiin berwudhu untuk melakukan shalat subuh.
Seusai salat subuh, muadzin diperintah oleh Abu Ubaidah agar menyerukan, “Sebelum kita menyerbu kesana diharuskan pulang ke tenda untuk memasak dan makan sarapan! Agar tenaga kaian kuat ketika berperang!.”
Pagi itu tidak seperti biasanya, hari telah siang; pasukan Muslimiin belum juga muncul untuk menyerang. Penghuni beteng Balbek lega dan mengira pasukan Muslimiin telah lelah dan ketakutan menghadapi mereka. Harbis berteriak, “Semua pasukan agar digerakkan untuk menyerang! Semoga kalian dibarokahi oleh Al-Masih!.”
Para komandan menggerakkan pasukan agar mereka keluar dari pintu-pintu gerbang, untuk menyerang pasukan Muslimiin. Pintu-pintu gerbang dibuka dan pasukan Balbek berjejal-jejal keluar untuk menyerbu pasukan Muslimiin. Ribuan pasukan lawan mengalir mendekati tenda-tenda Muslimiin; kaum Muslimiin sedang asyik memasak dan sarapan pagi. Teriakan seorang Muslim mengejutkan, “Hai pasukan Allah! Segeralah menaiki kuda kalian untuk berjihad! Mumpung mereka belum menyerang kalian!.”
Seorang Muslim bernama Chamdan bin Usaid sedang membuat roti untuk dimakan, terkejut oleh teriakan, “Ayo segera berangkat!.”
Chamdan memasukkan roti ke mulut lalu bergegas mengendari kuda yang belum berpelana. Chamdan memacu kuda mengikuti pasukan lainnya melawan musuh yang datang melaut dari beteng Balbek. Chamdan mengamuk dengan pedang hingga orang-orang Balbek berguguran; yang lain berlari menjauh ketakutan.
Di sisi lain, Abu Ubaidah mendirikan panjinya yang kemudian dikepung pasukan Muslimiin. Abu Ubaidah berteriak, “Hari ini hari yang keistimewaannya takkan ada yang membandingi! Ayo serbu terus!.”
Sejumlah pasukan Balbek ada yang serangannya sangat ganas. Abu Ubaidah dan pasukanya mengepung mereka dari segala penjuru. Pasukan elit yang mendampingi Abu Ubaidah: Amer bin Ma’dikarib, Abdur Rohman bin Abi Bakr, Rabi’ah bin Amir, Malik bin Asytar, Dhirar bin Al-Azwar, Dzu Kala (ذو الكلاع). Mereka itulah yang serangannya dahsyat sekali, membuat pasukan Balbek berlarian kalang-kabut, memasuki pintu-pintu gerbang. Pasukan Muslimiin mengejar; namun pintu-pintu gerbang telah ditutup rapat.
Pasukan Muslimiin kembali pada tenda-tenda penginapan, untuk menyalakan api unggun, dan mengubur Muslimiin yang sama gugur sebagai syuhada. Sejumlah tokoh Muslimiin menghadap Abu Ubaidah untuk berkata, “Wahai pimpinan, pandangan dan kebijakan yang telah kau putuskan semoga mendatangkan rahmat.”
Abu Ubaidah menjawab, “Pendapat saya selanjutnya mundurlah dari tempat ini sejauh satu Farsakh! Untuk menyusun siasat dan memastikan keamanan tawanan wanita kita! Sebagai upaya mencari pertolongan dari Allah.”  
Abu Ubaidah memanggil Sa’id bin Zaid bin Amer (سعيد بن زيد بن عمرو) untuk diberi panji, dan disuruh memimpin 500 pasukan berkuda, dan 300 pasukan berjalan kaki. Mereka diperintah agar memerangi kaum Balbek melalui jurang, untuk mengecoh musuh.
Lalu Abu Ubaidah memanggil dan menyerahkan panji, dan perintah pada Dhirar bin Al-Azwar, agar memimpin 500 pasukan berkuda dan 100 pasukan berjalan kaki. Mereka diperintah agar menyerang dari pintu gerbang yang ke arah kota Syam. Dia berpesan, “Hai putra Azwar! Tunjukkan keberanianmu pada pada cucu-cucu Ashfar! (Yakni pasukan Balbek).”           

2011/06/23

KW 84: Mereka Terkejut oleh Bentakan Harbis

(Bagian ke-84 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Harbis menata dan perintah pada barisan pasukan agar maju menyerang. Abu Ubaidah juga perintah pasukannya agar melawan, “Hai semuanya! Semoga Allah menyayang kalian! Ketahuilah bahwa Allah akan menolong kalian hingga kebanyakan kaum ini akan berlari! Kota yang penduduknya kita lawan ini berada di pertengahan kota-kota yang telah kita taklukkan. Penduduknya telah mempersiapkan peperangan ini dengan perbekalan dan memperbanyak pasukan! Kalian jangan grogi! Lawanlah mereka! Seranglah musuh-musuh agama! Dan tolonglah Allah! Agar Allah menolong kalian! Ketahuilah bahwa Allah menyertai kalian.”
Abu Ubidah maju; pasukannya juga maju untuk menyerang. Serangan sengit yang membabi-buta itu membuat Harbis dan pasukannya berlari cepat memasuki beteng. Si bathriq yang lari pulang itu, diikuti kaumnya. Darah bercucuran dari tujuh luka parah yang menimpa Harbis.
Seorang bathriq bertanya, “Mana jarahan perang dari kaum Arab?.” 
Harbis menjawab, “Semoga kau dipermalukan oleh Al-Masih! Kau menghina ya? Pasukanku telah berjuang mati-matian! Saya sendiri luka parah, justru dihina?.”
Sang bathriq menjawab, “Bukankah telah saya katakan ‘kalau berani melawan mereka pasti akan kalah?’.”
Abu Ubaidah menggiring pasukannya menuju kota Balbek (Balabak/ بعلبك).[1] Dari jauh kota itu, kelihatan agung dan megah. Tembok penghalangnya tebal lebar tinggi dan bagus. Pasukan Abu Ubaidah terhlang pintu-pintu gerbang yang ditutup. Penduduk Balbek mengumpulkan harta dan ternak mereka di tengah kota. Beberapa Muslimiin ada yang bisa melihat jumlah binatang ternak mereka sangat banyak. Kota Balbek (Balabak/ بعلبك) itu walau di musim kemarau rasanya tetap dingin.
Abu Ubaidah berkata pada para sahabat nabi, “Bagaimana pendapat kalian?.” Walau awalnya celoteh mereka berbeda tetapi akhirnya sama: mengepung penduduk Balbek. Mu’adz bin Jabal (معاذ بن جبل) RA berkata, “Semuga Allah berbuat baik padamu wahai pimpinan, saya tahu bahwa sungguh di dalam beteng ini penduduk Balbek berjumlah banyak sekali. Mereka tidak nyaman karena berjumlah terlalu banyak, kalau kita kepung terus Allah akan memberi kita kemenangan.”
Abu Ubaidah berkata, “Dari mana kau tahu bahwa beteng itu tidak mampu menampung mereka?.”
Mu’adz bin Jabal (معاذ بن جبل) menjawab, “Saya termasuk yang pertama kali datang kemari. Saya menyaksikan mereka lari terbirit-birit bagai banjir mengalir memasuki beteng melaui semua pintu gerbang. Beteng ini dipenuhi oleh penduduk Sawad, Al-Qura, dan binatang ternak. Dengarkanlah dengan seksama suara mereka di balik beteng menggemuruh bagaikan hujan lebat karena jumlah mereka banyak sekali.”
Abu Ubidah berkata, “Kau benar hai Mu’adz, demi Allah saya telah tahu kau orang yang dibarokahi dan yang pandangannya jitu.”
Malam itu pasukan Muslimiin berjaga-jaga. Paginya Abu Ubaidah mengirim surat untuk penduduk Balbek:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrach pimpinan pasukan Muslimiin di Syam, untuk penduduk Balbek yang membandel. Adapun selanjutnya: Sungguh Allah SWT pemilik segala pujian, telah menjayakan agama dan kekasih-kekasih-Nya yang beriman, untuk menaklukkan orang-orang kafir. Bahkan telah memberikan kota-kota untuk mereka; untuk merendahkan orang-orang yang berbuat kerusakan. Surat saya ini sebagai alasan yang harus disampikan pada orang-orang dewasa maupun anak-anak remaja. Setahu kami; dalam agama kami tidak ada penganiayaan. Kami takkan memerangi kalian sehingga tahu kedaan kalian. Kalau kalian mau memohon damai dan mohon selamat seperti penduduk kota lainnya, kami akan mengabulkan. Naum jika kalian memilih hina dengan membandel, kami akan menindak keras. Kami berdoa semoga Allah menolong kami memerangi kalian. Cepat jawablah suratku! Semoga keselamatan mengayomi orang yang mengikuti petunjuk. {إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى} [طه:48].”[2]

Abu Ubaidah melipat surat untuk deberikan pada seorang Nashrani yang diperintah agar mengirimkannya ke Balbek, dan agar segera kembali membawa jawaban. Lelaki itu menerima surat, lalu pergi untuk mendekati pintu beteng Balbek, untuk berbicara, “Saya diutus orang-orang Arab untuk menyerahkan surat ini pada kalian.”

Tali dari atas beteng diturunkan, untuk mengangkat lelaki pembawa surat. Lelaki itu mengikat dirinya dengan tali agar diangakat ke atas beteng, oleh sejumlah lelaki di atas. Dia lalu pergi menuju Bathriq Harbis penguasa mereka. Harbis mengumpulkan pejabat militer untuk membacakan surat Abu Ubaidah RA. Setelah surat dibaca, mereka terkejut oleh pertanyaan Harbis, “Berilah saya masukan apa yang seharusnya kita lakukan?.”
Seorang bathriq yang akrab dengan Harbis berbicara, “Saya berpendapat sebaiknya jangan memerangi kaum Arab! Kita takkan mampu melawan mereka! Kalau kita berdamai dengan mereka justru kita akan aman sebagaimana penduduk Arakah, Tadmur, Chauran, Bushro, dan Damaskus! Kalau kita membangkang; mereka akan menyerang, untuk membunuh kaum lelaki dan memperbudak, dan menawan wanita kita. Damai lebih baik daripada perang.”
Mereka terkejut oleh bentakan Harbis, “Semoga Al-Masih tidak memberimu rahmat! Sejak dulu kau adalah lelaki paling penakut! Matilah kau! Bagaimana mungkin kita menyerahan kota ini pada kaum Arab? Padahal kau tahu mereka itu musuh yang memerangi kita? Saya belum melawan mereka karena sedang bersiasat. Sepertinya ini waktunya kita akan mendapat kemenangan. Kalau saya telah mengamuk; mereka pasti akan berlari ketakutan!.”


[1] Sebagian riwayat menjelaskan di kota itulah Nabi Nuh AS membuat perahu.
[2] Baca: Innaa qad uuchiya ilainaa annal ‘adzaaba ‘alaa man kadz-dzaba wa tawallaaa.
Artinya: Sungguh telah diwahyukan pada kami bahwa siksaan benar-benat menimpa orang yang mendustakan dan berpaling.