Mereka berteriak, “Kamilah pasukan dari Ghasan pembela Salib dan
Rahib!.”
Sebagian mereka bergegas mendekat untuk menyerang dengan pedang.
Sa’id berteriak, “Celaka kalian! Menyerang lelaki dari kaum kalian
sendiri.”
Ada seorang yang berkata, “Berasal dari mana kau?.”
Sa’id menjawab, “Saya berasal dari keluarga Khazraj yang mulia.”
Dia menjawab, “Dia mencari orang Yaman pendukung Muhammad bin Abdillah” Lalu dia perintah, “Ayo ikut kami! Jika membangkang akan kami
paksa!.”
Sa’id bin Amir digiring oleh mereka, untuk bergabung pada
pasukan induk, yang berjumlah lebih banyak lagi.
Panji dan Salib yang dipasang berjajar di depan barak itu
banyak. Sa’id dibawa masuk, menyeberangi kerumunan pasukan, hingga memasuki
tempat mewah yang di dalamnya ada Raja Jabalah. Sosok yang sangat dihormati itu
duduk di atas kursi emas, berbusana sutra Dibaj model Romawi.
Di kepalanya bertengger mahkota gemerlapan oleh taburan mutira lu’lu’ (اللؤلؤ). Yang menggelayut di
kalungnya, mutiara yaqut (الياقوت), gemerlapan indah
menawan.
Pada Sa’id, Raja Jabalah mengangkat wajah untuk bertanya, “Kamu
orang Arab mana?.”
Sa’id menjawab, “Saya keturunan Charitsah, putra Tsa’labah,
putra Amer, putra Amir, putra Charitsah, putra Tsa’labah, putra Imru’ul-Qais,
putra Abdillah, putra Al-Azwar (الأزور), pura Auf, putra
Malik, putra Kahlan, putra Saba’.”
Jabalah bertanya, “Kalau dirunut dari tokoh, kamu dari keluarga
siapa?.”
Jabalah berkata, “Saya termasuk keluarga besarmu dari Ghasan
yang telah keluar dari Islam. Pimpinanmu bernama Umar, tidak mau jika saya ‘membela
agama ini’, kecuali jika saya dikisos karena telah menampar rakyat jelata yang
hina. Saya raja Yaman yang paling dihormat di negeri Ghasan.”
Jabalah bertanya, “Siapa namamu?.”
Sa’id menjawab, “Saya Sa’id bin Amir Al-Ansahri.”
Bagi kaum Ghasan, berdiri di hadapan raja justru sopan. Sa’id
duduk setelah dipersilahkan oleh Jabalah yang lalu bertanya, “Apa kamu mengenal
Chasan bin Tsabit Al-Anshari?.”
Jabalah bertanya, “Telah berapa lama kau berpisah dari dia?.”
Sa’id menjawab, “Dia baru saja mengundang saya untuk
makan-makan. Lalu perintah agar pelayan perempunnya ‘membaca syair’ mengenai
kau:
Yang beruntung golongan yang kau tinggalkan
Di ‘hari Jillaq’ di awal zaman
Berkerumun hingga anjing mereka tak menyalak
Mereka tak bertanya tentang
Ribuan pasukan yang datang
Berwajah putih dari keluarga terpandang
Berhidung mancung menawan
Umatnya yang faqir ‘besatu’ dengan
Jutawan
Peduli pada anak yatim dan janda
Lalu kami pergi ke Syam dan perpisah dengannya. Itulah pertemun
terakhirku dengan dia.”
Jabalah bertanya, “Masyak dia tahu saya, sehingga membuat syair
yang indah ini?.”
Sa’id menjawab, “Betul.”
Raja Jabalah memberikan bungkusan dari kain katan (seperti goni)
berisi perak, sambil berkata, “Pemberianku ini kenakanlah! Jangan kau tolak.”
Lalu bertanya, “Demi benarnya tanggungan kaum Arab! Sebetulnya
apa yang telah kau lakukan? Ketika ditangkap oleh pasukanku?.”
Raja Jabalah berkata, “Ketahuilah bahwa sungguh Raja Hiraqla
telah mengutus saya dan bathriq penguasa kota Amuriyah (عَمُّورِيَّةُ), untuk ‘membantu
Bathriq Luqa’ penguasa kota Qinasrin. Sungguh Bathriq Luqa membuat surat perdamaian
dengan kalian ‘hanya tipu muslihat’. Kami di sini menunggu kedatangan dia.
Sekarang pergilah pada Abu Ubaidah pimpinanmu! Dan takut-takutilah dia dengan
pedang kami! Suruhlah dia agar kembali lagi! Jangan sekali-kali berani
berkeliaran di tanah kekuasaan Raja Hiraqla, yang akan merampas semua kota Syam
yang telah kalian rebut!.”
Sa’id pulang membawa pelayannya dengan kudanya, menuju kaum Muslimiin.
Sejumlah Muslimiin bergegas menyambut kedatangannya, dan
menanyakan, “Selama ini ke mana saja kau? Hai putra Amir (عامر)?.”
Sambil menyeberangi kumpulan kaum, menuju Abu Ubaidah, Sa’id
melaporkan pertemuan dan perbincangannya dengan Jabalah. Abu Ubaidah mendengar
Sa’id menyatakan, ‘telah dilepaskan’ oleh Jabalah, karena menjelaskan tentang
Chasan bin Tsabit Al-Anshari (حسان بن ثابت الأنصاري), yang dikagumi oleh
Jabalah.