SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2014/09/20

Raja Besar Kagum Mughirah


(2)


Air matanya berlinang, saat Iyadh mengamati kepergian mereka. Pipi dan jenggotnya basah. Tampaknya beliau sedang menyadari bahwa Allah Maha Besar. Bacaan Al-Qur’annya dihentikan karena ditanya, “Kenapa tuan menangis?.”
Dengan lembut, beliau menjawab, “Hai Putra Tsabit! Demi Allah, mereka Pahlawan Agama. Jika seorang mereka nanti menjadi korban perang, apa yang akan saya katakan di Hadapan Allah azza wajalla?.”
Jawabannya membuat Zaid bin Tsabit terharu dan menangis.

Semakin mendekati tujuan, Mughirah dan Pasukannya makin terperangah. Karena Pasukan yang mengerumuni Raja Al-Bathlius banyak sekali, seperti memenuhi bumi. Kota tempat berkumpul, bernama Al-Bahnasa (البهنسا). 

Suara derap kaki kuda baghal kendaraan yang dikendarai, tertutup oleh pekikan Mughirah dan Pasukannya, “Laa Ilaaha illaa Allahu Muhammadun Rasulullah” bersaut-sautan. Artinya tiada Tuhan kecuali Allah, Muhammad Utusan Allah.

Langkah mereka berhenti karena jalan digunakan lewat oleh pemimpin Gereja yang disebut Al-Bathriq, yang didampingi oleh orang Arab beragama Nasharani. Dia tampak angkuh, karena membawahi arak-arakan Pasukan berkuda berjumlah 100.000 personil. 
Dengan sombong arak-arakan tersebut mengalir cukup lama, di depan Pasukan Muslimiin. Mendekati pagar batas Tenda Besar Mewah tempat Raja Al-Bathlius.

Raja berbusana mewah gemerlapan itu, duduk di atas tahta. Beberapa pejabat tinggi yang disebut Hajjab (Pembantu raja yang membatasi kaum yang akan menghadap raja), Nawwab (Komisaris), dan Arbabuddaulah (Pembantu raja yang mengurusi tata-tertib), berdiri untuk berkata, “Kalian sudah sampai pada Suradiq (Pagar Batas) raja. Sekarang turun dari kuda kalian! Peraturan selanjutnya, letakkan pedang kalian!” pada Mughirah dan rombongannya.
Dengan hati berdebar, Mughirah menjawab, “Tentang turun dari kuda, bisa kami lakukan. Tapi tentang pedang, takkan kami lepaskan! Karena merupakan senjata agar disegani! Ini sudah menjadi adat kebiasaan kami, membawa senjata!.”
Hajjab pergi untuk melaporkan pada raja, “Mereka menentang baginda.”
Raja perintah, “Biarkan mereka masuk dengan pedang!.”
Dengan suara keras, Hajjab perintah, “Masuk!.”

Para Sahabat Rasulillah SAW (rombongan Mughirah) turun dari kuda, untuk berjalan kaki. Kuda mereka diserahkan pada pelayan-pelayan. 
Dengan percaya diri, mereka berjalan ke dalam. Pedang mereka menjuntai hingga menggores tanah. Mereka berjalan masuk, membelah pasukan yang berkerumun di depan raja. Kerumunan pasukan yang dilewati penuh, hingga singgasana raja.

Yang terpampang mulai depan rombongan Mughirah, hingga arah singgasana raja, hiasan indah berupa sejumlah kain sutra menjuntai dari atas kebawah, tataan bantal-bantal bagus berjajar di atas sejumlah kasur. Di bawahnya dilambari sejumlah permadani. Semuanya serba mewah. Raja tampak duduk di atas singgasana.

Pemandangan yang sangat mewah itu membuat rombongan Mughirah bertakbir dengan suara keras, hingga mengejutkan hadirin. Benci dan heran tampak dari raut muka mereka.
Perintah Hajjab, “Cium bumi untuk menyembah Raja!” dikeraskan mengejutkan.
Tapi Mughirah dan rombongannya tidak menghiraukan. Bahkan dengan lantang, Mughirah menjawab, “Yang boleh disembah dengan sujud, hanya Tuhan yang pantas disembah! Demi umur saya, saya dulu juga melakukan demikian! Namun melalui Utusan, Muhammad SAW, Allah melarang kami melakukan demikian! Sesama manusia tidak boleh menyembah!.”

Dengan terperangah, Hajjab dan lainnya diam. Perhatian hadirin tertuju pada raja yang perintah, agar sejumlah kursi mewah dari emas dan perak, dirapikan untuk menghormat Mughirah dan Rombongan. 
Sejumlah kursi indah telah ditata, namun Mughirah dan Rombongannya tidak mau duduk. Bahkan menyuruh pelayan-pelayan agar menyingkirkan kursi dan permadani mewah yang akan diinjak. Seperti yang telah mereka lakukan saat mulai memasuki ruangan agung tersebut. Semua permadani yang akan diinjak, disingkirkan.
Seorang pemimpin Gereja yang disebut Bathriq membentak, “Kalian tamu tidak sopan! Tidak sujud pada Raja! Tidak mau menginjak permadani dan kasur di depan Raja!.”
Mughirah menjawab, “Kami lebih mementingkan sopan pada Allah, daripada pada kalian! Tanah lebih suci daripada kasur kalian! Rasulullah SAW bersabda ‘bumi dijadikan Masjid Suci, untuk saya’. Bahkan Allah berfirman ‘Kami telah mencipta kalian dari bumi, dan akan mengembalikan kalian ke bumi. Dan akan mengeluarkan kalian dari bumi, diwaktu yang lain ({مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى} [طه:55])’.”

Pembicaraan antara rombongan Mughirah dan Raja Al-Bathlius, berlangsung, tanpa penerjemah. Karena raja sangat mahir berbahasa Arab. 
Raja bertitah, “Silahkan duduk terserah di mana yang kalian sukai.”
Jawaban Mughirah, “Sebaiknya Anda turun dari singgasana untuk duduk di atas tanah bersama kami? Atau kami duduk di atas singgasana bersama Anda? Karena kami juga telah dijadikan kaum Mulia oleh Allah melalui Islam” mengejutkan raja dan semua hadirin.
Dengan benci, Raja mempersilahkan, “Duduklah bersama Saya.”
Tentu saja hadirin terheran-heran. Bahkan banyak sekali yang benci. Kebencian bertambah, saat mereka menyaksikan Mughirah dan rombongannya duduk bersama raja, di atas singgasana. Yang berdekatan dengan raja, Mughirah.

Setelah memandang para tamu semuanya, Raja Al-Bathlius bertitah, “Mana kalian yang akan mewakili berbicara?.”
Semua rombongan menunjuk Mughirah, dan duduk sambil memegang pedang.
Raja memandang Mughirah untuk bertanya, “Siapa namamu?.”
Mughirah menjawab, “Abdullah Mughirah.”
Raja berkata, “Saya sungkan kalau mendahului berbicara.”
Mughirah menjawab, “Berbicarah! Jangan sungkan! Saya juga sudah mempersiapkan untuk pembicaraan ini.”
Al-Bathlius bertitah, “Segala puji hanya untuk Allah yang telah menjadikan Junjungan kami Al-Masih, sebagai Nabi paling utama, kerajaan kami kerajaan paling utama, dan kami sebagai penguasa dunia paling utama.”
Mughirah menghentikan, “Diam dulu!.”
Al-Hajjab dan Annawab membentak, “Kau tidak sopan! Menghentikan Sabda Raja!.”
Mughirah justru berkata lebih keras, “Segala Puji hanya untuk Allah yang telah membimbing kami pada Islam! Telah menjadikan kami kaum Mulia, melalui UtusanNya Muhammad, yang semoga dianugerahi Sholawat dan Salam paling istimewa! Yang telah membimbing kami dari kesesatan! Dan telah menyelamatkan kami dari Kebodohan! Menuju Shirathal-Mustaqiim! Kami sebaik-baik umat yang muncul di bumi! Beriman pada nabi kami dan nabi kalian! Bahkan kami beriman pada semua Nabi AS! Dia telah menjadikan pimpinan kami berkedudukan sama dengan kami! Kalau dia merasa berkuasa dan berani menyeleweng! Kami turunkan jabatannya! Kami hanya memandang hebat, jika dia bertaqwa! Dan yang telah menjadikan kami sebagai kaum yang menganjurkan berbuat baik, dan melarang melakukan kejahatan! Dan agar kami mengakui dosa lalu bertobat! Dan agar hanya menyembah Allah, tidak menduakan! Kalau seorang kami memiliki dosa menjulang seperti gunung, tapi mau bertobat, pasti diterima! Jika sampai wafat tetap Muslim, pasti masuk surga!.”
Wajah Al-Bathlius memucat dan tercengang sejenak. Lalu bertitah, “Segala Puji hanya untuk Allah yang telah menguji kami dengan ujian paling baik. Dan membuat kaya, setelah kami dulu misikin. Dan telah memberi Pertolongan pada kami, mengalahkan kaum zaman dahulu. Kaum kalian yang dulu, datang pada kami, belanja gandum dan bahan makan lainnya, Mereka bersukur, karena kami layani dengan baik. Tiba-tiba kalian datang kemari dengan kelakuan tidak seperti mereka. Sejumlah pria kami kalian bunuh, dan sejumlah wanita kami kalian tawan. Bahkan harta dan kekayaan kami kalian rampas! Sejumlah kota, dan kastil, kalian rebut! Bahkan kalian ingin mengusir kami dari tempat tinggal kami! Padahal dulu kalian ini kaum Paling Miskin! Makanan kalian hanya gandum, dan kalian kumal! Setelah merasakan makanan kami dan merampas harta kami, kalian jadi betah. Padahal kami memiliki pasukan sangat banyak. Senjata kami juga lengkap. Pendukung kami juga banyak. Negeri kami dibentengi dinding tebal dan tinggi. Kami tahu pasti, penyebab kalian berani pada kami, karena kalian telah menguasai negeri-negeri, Syam, Iraq, Yaman, dan Hijaz. Kalian telah berbuat kerusakan besar di negeri kami. Kalian telah merobohkan sejumlah negeri dan kastil kami. Busana kalian sekarang juga sudah mewah. Sejumlah putri raja dan bathriq, kalian jadikan pelayan. Makanan lezat yang dulu belum pernah kalian rasakan, di sini bisa kalian nikmati. Bahkan emas, perak, dan harta kekayaan berharga mahal, telah kalian rampas. Sejumlah mutiara dan berlian juga kalian rampas. Meskipun kalian telah merampas harta milik kami dan kaum kami, namun kami mengikhlaskan untuk kalian. Kami tak akan menuntut kalian. Dan takkan menindak kejahatan kalian, berupa pembunuhan keluarga dan perampasan harta milik kami. Tapi ada saratnya! Kalian harus segera pergi meninggalkan negeri-negeri kami! Kalau kalian mau, kami akan segera membuka simpanan kekayaan kami! Tiap kalian, akan kami beri hadiah uang emas 100 dinar, pakaian dari sutra, dan surban yang dihias emas. Khusus untuk komandan kalian ini, 1.000 dinar uang emas, 10 surban, dan 10 pakaian. Semua komandan yang tidak ada di sini, juga akan diberi hadiah yang sama. Khusus untuk sang Khalifah, 10.000 dinar, 100 pakaian dari sutra, dan 100 surban. Semua ini akan kami berikan, jika kami telah yakin kalian takkan menyerang kami.”
Mugirah diam memperhatikan Al-Bathlius berbicara. Lalu menjawab, “Saya telah mendengarkan ucapan anda. Sekarang dengarkan ucapan saya! Segala Puji hanya untuk Allah yang Maha Esa MahaPemaksa, Maha Tunggal, Maha Segalanya. Mutlak tidak berputra, mutlak tidak diputrakan. Dan mutlak tak ada satu pun yang menyamai Dia.”
Al-Bathlius menyanjung, “Ini ucapanmu yang paling baik.”
Mughirah meneruskan, ”Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah. Dan Muhammad SAW Utusan Allah. Dia Hamba dan Utusan yang diridhoi, dan pilihan.”
Al-Bathlius membantah, “Saya tidak tahu bahwa Muhammad SAW Utusan Allah. Pepatah mengatakan ‘manusia pasti mengagumi tokoh agamanya’.” 
Dia mengamati Mughirah untuk berkata, “Kapan waktu paling utama?.”
Mughirah menjawab, “Ketika seorang tidak maksiat pada Allah.”
Setelah terkejut, Al-Bathlius berkata, “Kau benar! Saya baru sadar bahwa kau pandai! Apa kaummu ada yang pandai dan cerdas seperti kau?.”
Mughirah menjawab, “Jumlah kaum Pandai di kalangan kami, 1.000 orang. Hingga tak perlu lagi mereka minta pertimbangan orang lain. Kaum pandai yang kami tinggal kemari, lebih banyak lagi. Mereka akan segera kemari.”
Setelah terperangah, Al-Bathlius bertnya, “Yang kami ketahui selama ini tidak demikian. Laporan yang masuk pada kami ‘kalian kaum Bodoh’.”
Setelah menahan marah, Mughirah menjawab, “Memang dulu kami demikian. Lalu Allah mengutus Muhammad SAW, agar membimbing dan mengajar kami.”
Al-Bathlius tertegun, karena berita yang masuk, jauh dari kenyataan yang ada. Ternyata Mughirah sangat pandai, dan pemberani. [1]


Pesan penulis, “Makanya jangan langsung percaya, jika mendengar berita. Agar tidak merugikan atau membuat sengsara orang lain.”


[1] فتوح الشام (2/ 257)
قال زياد بن ثابت ولما فارق القوم الأمير عياضا نظرت إليه وعيناه تذرفان بالدموع حتى بلت دموعه لحيته وهو يقرأ القرآن فقلت أنا أيها الأمير ما هذا البكاء فقال لي: يا ابن ثابت هؤلاء والله أنصار الدين فإن أصيب رجل منهم فما يكون عذري عند الله عز وجل قال: وسار المغيرة وأصحابه حتى أشرفوا على عسكر العدو وإذا هو ملء الأرض وهو نازل حول مدينة البهنسا فصاح المغيرة ومن معه يقولون لا إله إلا الله محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم فبينما هم كذلك إذ أقبل إليهم بطريق ومعه رجل من العرب المتنصرة راكب إلى جانبه ومعهما نحو مائة ألف فارس وساروا بين أيديهم حتى وصلوا إلى قريب سرادق الملك ولاح البطليوس وهو جالس على السرير فعند ذلك خرج لهم الحجاب والنواب وأرباب الدولة والصولة وقالوا: قد وصلتم وبلغتم إلى سرادق الملك فانزلوا عن خيولكم وانزعوا سيوفكم فقال المغيرة أما خيولنا فننزل عنها وأما سيوفنا فلا ننزعها فإنها عزنا وما كنا بالذي ينزع عزه الذي يعتز به دهره قال فاخبر الحجاب الملك بذلك فقال دعوهم يدخلون بسيوفهم فنادتهم الحجاب ادخلوا.

0 komentar:

Posting Komentar