SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2012/08/12

Obat Penyakit Hati


Image result for obat


Bermacam-macam penyakit hati, membuat penderitanya kasihan, karena tingkah-perbuatannya menjadi aneh atau jelek. Di antaranya: iri, dengki, dendam, tamak, dan sombong. Yang paling mengerikan syirik atau kufur.
Iri dan dengki bisa dihilangkan dengan menyadari bahwa, “Rizqi atau anugrah, ditentukan oleh yang Maha Kuasa.”
Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [النساء/32].
Artinya:
Jangan mengangan-angan Kefadholan yang Allah berikan sebagian kalian atas sebagian! Kaum Lelaki mendapatkan (anugrah) karena usaha mereka; kaum Wanita mendapatkan (anugrah) karena usaha mereka. Mintalah pada Allah sebagian dari KefadholanNya! Sungguh Allah Maha Alim mengenai segala sesuatu.

Rasulullah SAW juga menyampaikan makalah bermanfaat, sebagai obat iri dan dengkiسنن أبي داود - (ج 13 / ص 56)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ
Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, “Sungguh Nabi SAW bersabda ‘jauhilah oleh kalian, akan dengki! Sebab dengki makan kebaikan-kebaikan, seperti api makan kayu-bakar’, atau, ‘rumput kering’."

Bahkan Bukhari meriwayatkan dengan isnad muttashilصحيح البخاري - (ج 19 / ص 8)
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.

Artinya:
Dari Nabi SAW: “Jauhilah persangkaan (jelek)! Sebab sungguh persangkaan (jelek), cerita lebih bohong. Jangan mengoreksi (kekurangan orang lain) dengan telinga! Jangan mengoreksi (kekurangan orang lain, dengan mata)! Jangan mendengki! Jangan membelakangi (meremehkan)! Jangan saling memarahi! Jadilah Hamba-Hamba Allah bersaudara!.”

Dendam juga merupakan penyakit hati yang jelek. Nabi SAW pernah ditegur oleh Allah, karena dendam pada kaum Musyrikiin yang telah membunuh dan memutilasi para sahabat RA, di dalam Perang Uhud:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ [آل عمران/128].
Artinya:
Sedikitpun kau tak memiliki hak dari perkara tersebut; Allah akan memberi tobat mereka? Ataukan akan mengadzab mereka? Sungguh mereka orang-orang Aniaya.

Abu Bakr RA juga pernah dendam pada Mishthach yang telah disantuni dalam waktu lama, namun justru memfitnah Aisyah RA. Karena terpengaruh orang munafiq bernama Abdullah bin Ubai bin Salul. Setelah Allah menyatakan, “Aisyah bersih dan bebas. Tidak melakukan berbuatan keji bersama Shafwan” Abu Bakr bersumpah ‘saya tidak akan memberi nafkah lagi pada Mishthach, untuk selamanya. Allah mengakui kehebatan Abu Bakr RA, lalu menganjurkan:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ [النور/22].

Artinya:
Dan kaum yang memiliki kefadholan dan keluasan (rizqi) dari kalian, jangan meng-ilak (merenggangkan cinta kasih)! Tidak mau memberi (santunan) pada pemilik kerabat, kaum Miskin, dan kaum Hijrah di Jalan-Allah! Hendaklah memaafkan! Hendaklah berbuat baik! Bukankah kalian senang jika Allah mengampuni kalian? Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Dampak dari Ajaran Allah melalui Al-Qur’an tersebut, Nabi SAW menjadi orang pemaaf nomer satu di dunia, sepanjang sejarah. Bangsa Quraisy yang dosa dan kesalahan mereka sangat banyak, yang mestinya dimutilasi di dalam Perang Fathu-Makkah. Ternyata justru ditumpahi hujan ampunan, hingga mereka lebih daripada takjub. Mereka menangis bahagia dan terharu, karena diberi ampunan besar dan diberi kesempatan hidup. Pantaslah kiranya jika Allah telah memamerkan Nabi SAW pada dunia, setahun lebih dari sebelum meledaknya Fathu-Makkah, melalui Firman yang artinya:

Sungguh Kami telah memberi Kemenangan untukmu, dengan Kemenangan nyata. Agar Allah mengampuni dosamu yang telah berlalu dan berakhir. Untuk menyempurnakan NikmatNya atasmu, dan menunjukkan kau, pada Jalan Lurus. Agar Allah menolong kau dengan Pertolongan Dahsyat. Dia yang telah menurunkan Sakinah (Ketenangan) di dalam hati orang-orang Iman, agar mereka bertambah imannya, bersamaan iman mereka (yang ada). Tentara-tentara beberapa langit dan bumi, milik Allah. Sejak dulu Allah Maha Alim Maha Berhikmat. Sebagai upaya (Allah) memasukkan orang-orang Iman pada Surga-Surga yang dari bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan melebur kesalahan-kesalahan mereka untuk mereka. Dan demikian itu Keuntungan Besar di sisi Allah. Dan akan menyiksa kaum Munafiq dan kaum Musyrik, lelaki maupun perempuan, yang menyangka jelek pada Allah. Putaran jelek (akan menimpa) atas mereka; Allah murka dan melaknat mereka. Dan menyediakan Jahannam untuk mereka, sejelek-jelek tempat kembali. Tentara-tentara beberapa langit dan bumi milik Allah. Allah telah nyata Maha Dahsyat Maha Berhikmat. Sungguh Kami telah mengutus kau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan menakut-nakuti. Agar kalian:
1.     Beriman pada Allah dan RasulNya.
2.     Mendukung, dan mengagungkan padanya.
3.     Dan bertasbih di pagi dan petang padaNya. [1]

Dalam Hadits Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menahan marah (atau dendam), padahal mampu melangsungkan kemarahan (dendam)nya, di hari kiamat nanti, Allah azza wajalla mengundang dia di atas pimpinan-pimpinan makhluq. Hingga Allah menyuruh dia memilih mana bidadari-bidadari bermata indah yang dia kehendaki.” [2]

Anas RA berkata, “Sutu hari Rasulullah SAW duduk. Tiba-tiba kami melihat beliau tersenyum, hingga gigi depannya tampak. Menanggapi hal itu, Umar RA berkata ‘apa yang membuat baginda tersenyum, ya Rasulallah? Baginda dengan ayah dan ibu saya’.
Baginda bersabda ‘dua lelaki dari umatku bersimpuh di hadirat Tuhan Kejayaan.
Satunya berkata ‘ya Tuhan saya, balaskan untuk saya teraniaya saya oleh saudara saya ini’.
Pada penuntut peradilan, Allah Tabaraka wa Taala berfirman ‘bagaimana mungkin kau tega menuntut saudaramu, padahal kebaikan-kebaikan dia mutlak (habis) tak tersisa sedikitpun?’.
Dia berdoa ‘ya Tuhan, kalau begitu hendaklah dia menanggung sebagian dosa-dosa saya’.”

Anas RA berkata, “Dua mata Rasulullah SAW berlinang karena menangis, lalu bersabda ‘sungguh demikian itu, akan terjadi di hari yang sangat dahsyat. Manusia sangat membutuhkan sebagian dosa-dosa mereka dibebaskan’ untuk (meringankan beban-dosa).”
Pada penuntut, Allah berfirman, “Angkatlah pandanganmu, untuk memandang Surga-Surga itu!.”
Sontak ia menengadahkan kepalanya, lalu berdoa ‘ya Tuhan, saya melihat kota-kota dan gedung-gedung dari emas yang dihias dengan mutiara. Milik Nabi siapakah ini, atau milik seorang Shiddiq siapakah ini, atau milik Syuhadak siapakah ini?’. [3]
Dia berdoa ‘ya Rabbi, lantas siapa yang mampu membeli?’.
Allah berfirman ‘kau mampu membeli’.
Dia berdoa ‘dengan apa?’.
Allah menjawab ‘dengan mengampuni saudaramu’.
Dia berdoa ‘ya Rabbi, saya telah mengampuni padanya’.
Allah azza wajalla berfirman ‘peganglah tangan saudaramu, lalu bawalah masuk ke surga!’.”
Saat itulah, Rasulullah SAW bersabda, “Maka takutlah Allah, dan pastikan damai antar kalian. Karena sungguh AllahTaala juga akan mendamaikan antar Muslimiin (hingga yang teraniaya puas seperti itu).” [4]


Hadits ini Shahih, namun Bukhari dan Muslim tidak memunculkan dalam kitab mereka berdua.





Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia



[1] إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا  [الفتح/1-9].
[2] سنن أبي داود - (ج 12 / ص 397)
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ.

[3] Shiddiq orang sangat benar atau sangat jujur. Surga orang shiddiq di atas orang yang mati syahid.

8869 - حدثنا أبو منصور محمد بن القاسم العتكي ، ثنا أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أنس القرشي ، ثنا عبد الله بن بكر السهمي ، أنبأ عباد بن شيبة الحبطي ، عن سعيد بن أنس ، عن أنس بن مالك رضي الله عنه ، قال : بينا رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس إذ رأيناه ضحك حتى بدت ثناياه ، فقال له عمر : ما أضحكك يا رسول الله بأبي أنت وأمي ؟ قال : « رجلان من أمتي جثيا بين يدي رب العزة ، فقال أحدهما : يا رب خذ لي مظلمتي من أخي ، فقال الله تبارك وتعالى للطالب : فكيف تصنع بأخيك ولم يبق من حسناته شيء ؟ قال : يا رب فليحمل من أوزاري » قال : وفاضت عينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بالبكاء ، ثم قال : « إن ذاك اليوم عظيم يحتاج الناس أن يحمل عنهم من أوزارهم ، فقال الله تعالى للطالب : » ارفع بصرك فانظر في الجنان فرفع رأسه ، فقال : يا رب أرى مدائن من ذهب وقصورا من ذهب مكللة باللؤلؤ لأي نبي هذا أو لأي صديق هذا أو لأي شهيد هذا ؟ قال : هذا لمن أعطى الثمن ، قال : يا رب ومن يملك ذلك ؟ قال : أنت تملكه ، قال : بماذا ؟ قال : بعفوك عن أخيك ، قال : يا رب فإني قد عفوت عنه ، قال الله عز وجل : فخذ بيد أخيك فأدخله الجنة « فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عند ذلك : » اتقوا الله وأصلحوا ذات بينكم فإن الله تعالى يصلح بين المسلمين « » هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه «.
  

2012/08/09

Giat Beramal dengan Akhlaq Mulia



Giat Amalkan Akhlaq Mulia



Watilkal-ayyamu Nudawiluhaa bainannaas (وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ [آل عمران/140]). Artinya: Dan itu hari-hari, Kami putarkan di antara manusia. Maksudnya hari, bulan dan tahun, bergulir terus mengikuti kehendak yang Maha Kuasa, hingga titik waktu yang disebut Kiamat.

Sekitar tahun 12 Hijriah, bangsa terkuat sejagad, bangsa Romawi Timur yang rajanya bernama Kaisar Hiraqla atau Hiraklius atau Hirekles. Karena musuh besarnya yaitu bangsa Persia yang rajanya bernama Abarwiz bin Hurmuz bin Anusyurwan (أَبَرْوِيز بْن هُرْمُز بْن أَنُوشُرْوَان), telah dikalahkan dalam perang akbar selama sekitar 8 sampai 9 tahun.
Tetapi sekitar 4 atau 5 tahun, setelah berpesta-pora merayakan kemenangan akbar tersebut, bangsa Romawi terkejut oleh datangnya pasukan Arab di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid yang mengamuk, karena ajakan mereka untuk menyembah Allah yang Maha Esa ditolak, bahkan dilawan. Dalam waktu singkat negeri Arakah wilayah bagian Romawi Timur tersebut direbut oleh pasukan Khalid.
Pasukan Khalid mengajak penduduk lima kota-besar tetangga Arakah, agar menyembah Allah yang Maha Esa. Karena ajakannya ditolak bahkan dilawan, Khalid dan pasukanya mengamuk lagi hingga lima kota-besar itu dipenuhi mayat yang tewas, dan kotanya direbut. Pejabat-pejabat kerajaan enam kota besar tersebut lebih daripada tercengang. Dengan sedih mereka memohon melalui surat, agar Raja Hiraqla mengirim pasukan dari kerajaan yang terlatih di dalam perang.
Perang gila-gilaan digelar lagi di dekat kota Damaskus (Dimasyqa). Hiraqla mengirim pasukan kerajaan berjumlah 5.000 orang, dengan berkuda. Raja bawahan Hiraqla untuk Damaskus juga turun-tangan mengerahkan pasukannya, membantu pasukan kerajaan. Peperangan yang tidak seimbang berkecamuk lagi dengan sengit dan menggila. Panglima kerajaan bernama Bathriq Kalus diringkus oleh Khalid, setelah dikalahkan dalam perang tanding dengan garang. Azazir raja bawahan Hiraqla untuk Damaskus lari ketakutan, setelah melihat ketangkasan Khalid di dalam main pedang.

Jika kisah ini dilanjutkan untuk menulis kejadian yang berlangsung selama 30 tahun, maka kita akan tahu bahwa akhirnya wilayah kerajaan Romawi Timur yang sangat luas, wilayah kerajaan Persia, dan wilayah kerajaan Turki, dikuasai sepenuhnya oleh kaum Arab. Singkat cerita bahwa Kalimat Allah melambung Maha Tinggi, dan Panji Islam berkibar di langit kejayaan.
Karena saat itu Sekularisasi dan Capitalism belum dikibarkan, maka orang menjadi dokter yang dulu bernama Thabib, tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Ingin menjadi insinyur bangunan, juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Hanya dulu, namanya belum Insinyur. Tetapi kehandalan ilmu orang zaman dahulu tidak kalah dengan orang zaman sekarang. Karena sudah menjadi rumusan abadi bahwa: “Innamal-ilmu bittaallum (إِنَّمَا الْعِلْم بِالتَّعَلُّمِ). Artinya: Sungguh ilmu bisa didapatkan karena belajar. Kalau seorang sudah mendapatkan suatu ilmu, maka ilmu itu akan matang dan berkembang jika dia mau belajar terus.

Kita sebagai kaum Muslimiin dilahirkan ke dunia, bukan untuk mengikuti arus zaman atau arus kodar.[1] Tetapi diperintah agar menjadi kaum yang berakhlaq mulia dan giat melakukan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri pada Allah, keluarga, dan manusia. Tetapi harus mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah SAW. Di dalam Al-Quran, Allah berkali-kali memaparkan Petunjuk Ajaib atau Indah. Intinya agar kita cerdas dan teliti. Karena sepandai apapun manusia, masih bisa dijebak atau ditipu oleh syaitan dan pasukanya.


[1] Arus kodar harus dilawan dengan cara berusaha pada yang lebih baik dan bermanfaat. Jika tidak mampu melakukannya karena sesuatu, berarti kodar tersebut, “Kehendak yang Maha Kuasa.”

2012/08/02

BI 15 : Bedah Ibnu Katsir


وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ].

Artinya:
Dan tanyakan pada mereka tentang (penduduk) desa yang konon berada di sisi lautan! Ketika mereka melakukan Pelanggaran di Hari Sabtu. Ketika itu, ikan-ikan mereka datang pada mereka di Hari Sabtuan mereka, dengan mengapung. Namun di hari mereka tidak bersabtuan; (ikan-ikan tersebut) tidak datang pada mereka.
Seperti itulah, Kami memberi Cobaan mereka, karena mereka telah fasiq. Ketika itu umat dari mereka berkata, “Kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?!.”
Mereka menjawab, “Sebagai alasan pada Tuhan kalian, dan agar mereka (yang tidak bersabtuan) bertaqwa.”
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka; orang-orang yang menahan kejelekan, Kami selamatkan. Dan Siksaan Berat Kami timpakan orang-orang yang telah lalim, karena telah fasiq. Ketika mereka telah melanggar yang telah dilarang; Kami berfirman pada mereka, “Jadilah kera-kera hina!.”

Ibnu Katsir telah menjelaskan kisah di dalam Al-Qur’an di atas dengan jelas, melalui dua sumber. Lalu menjelaskan lagi melalui Riwayat Muhammad bin Ischaq, bahwa kaum yang diam ketika melihat kemaksiatan, mendapat Siksaan dari Allah. Tetapi akhirnya Ibnu Katsir berpandangan penjelasan yang lebih berhak dianut, ‘kaum yang diam tetapi ingkar pada pelanggaran tersebut, selamat dari adzab’: تفسير ابن كثير - (ج 3 / ص 496)

القول الثاني: أن الساكتين كانوا من الهالكين.
قال محمد بن إسحاق، عن داود بن الحصين، عن عكرمة، عن ابن عباس؛ أنه قال: ابتدعوا السبت فابتلوا فيه، فحرمت عليهم فيه الحيتان، فكانوا إذا كان يوم السبت، شرعت لهم الحيتان ينظرون إليها في البحر. فإذا انقضى السبت، ذهبت فلم تر حتى السبت المقبل، فإذا جاء السبت جاءت شرعا، فمكثوا ما شاء الله أن يمكثوا كذلك، ثم إن رجلا منهم أخذ حوتًا فخزم أنفه ثم، ضرب له وتدًا في الساحل، وربطه وتركه في الماء. فلما كان الغد، أخذه فشواه فأكله، ففعل ذلك وهم ينظرون ولا ينكرون، ولا ينهاه منهم أحد، إلا عصبة منهم نهوه، حتى ظهر ذلك في الأسواق، ففعل علانية. قال : فقالت طائفة للذين ينهونهم: { لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ } فقالوا: سخط أعمالهم { وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ * فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ } إلى قوله: { قِرَدَةً خَاسِئِينَ } قال ابن عباس: كانوا أثلاثًا: ثلث نهوا، وثلث قالوا: { لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ } وثلث أصحاب الخطيئة، فما نجا إلا الذين نهوا وهلك سائرهم. وهذا إسناد جيد عن ابن عباس، ولكن رجوعه إلى قول عكرمة في نجاة الساكتين، أولى من القول بهذا؛ لأنه تبين حالهم بعد ذلك، والله أعلم. وقوله تعالى: { وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ } فيه دلالة بالمفهوم على أن الذين بقوا نجوا. و { بَئِيسٍ } فيه قراءات كثيرة، ومعناه في قول مجاهد: "الشديد"، وفي رواية: "أليم". وقال قتادة: موجع. والكل متقارب، والله أعلم.


Arti (selain isnad)nya:

Pendapat kedua "Sungguh yang diam ketika melihat kaum berbuat maksiat, tergolong kaum yang dirusak."

Ibnu Abbas berkata, “Mereka telah melakukan Bidah berbentuk mencari ikan di hari Sabtu. (Dikatakan bidah karena amalan tersebut pembaharuan Syariat). Maka mereka diberi cobaan di hari Sabtu. Mereka diharamkan mencari ikan di hari itu. Mereka menyaksikan ikan–ikan di laut, bermunculan pada hari Sabtu.
Jika hari Sabtu telah berlalu, ikan-ikan tersebut pergi, tak mau kembali hingga Sabtu depan.
Hari Sabtu ikan-ikan datang lagi dengan mengapung. Kejadian seperti itu berlangsung hingga maa syaa Allah (sepanjang waktu yang dikehendaki oleh Allah).
Seorang lelaki mengaitkan tali pada insang ikan. Untuk diikatkan pada pasak di pantai, lalu ditinggalkan di dalam air.
Paginya diambil dan dibakar untuk dimakan. Kaum yang menyaksikannya hanya diam saja. Hanya sekelompok orang yang mengingatkan pelanggaran tersebut.
Akhirnya di pasar-pasar banyak yang menjual ikan tangkapan hari Sabtu. Karena sudah banyak yang berani terang-terangan melakukan pelanggaran. Mereka yang membela kaum yang melakukan pelanggaran, berkata ‘kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak? Atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?’.
Mereka menjawab ‘sebagai alasan di sisi Tuhan kalian yang Murka pada pelanggaran tersebut. Dan agar mereka bertaqwa’.
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka; kaum yang menahan dari kejelekan, Kami selamatkan; siksa yang jelek menimpa kaum yang telah lalim, karena mereka telah fasiq.
Ketika mereka telah melanggar yang telah dilarang; Kami berfirman ‘jadilah kera-kera hina!’ pada mereka.”

Ibnu Abbas berkata, “Mereka terbagi menjadi tiga:
1.     Ada yang nasehat pada yang melakukan pelanggaran.
2.     Ada yang justru berkata ‘kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan adzab yang berat oleh Allah?’.
3.     Ada yang justru terpengaruh melakukan pelanggaran.
Tidak ada yang selamat dari siksaan tersebut, kecuali yang melarang melakukan pelanggaran. Selain mereka rusak semuanya.”
Isnad dari Ibnu Abbas ini baik, tetapi merujuk ucapan Ikrimah, “Kaum yang diam tetapi ingkar, selamat” Lebih utama daripada uraian barusan. Karena lalu Allah menjelaskan keadaan mereka setelah itu. Allah lah yang lebih tahu. Firman Allah Taala (yang artinya), “Dan Siksaan Berat, Kami timpakan pada kaum yang telah lalim” Mengandung dalil Mafhum bahwa, selain yang berbuat pelanggaran, selamat.
1.     Menurut Mujahid maknanya ‘dahsyat’.
2.     Dalam suatu riwayat artinya ‘sangat pedih’.
3.     Qatadah mengartikan ‘menyakitkan’.

Semua makna atau arti tersebut, hampir sama. Allah lebih tahu.

Ponpes Mulya Abadi Mulungan