SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2012/02/20

KW 190: Yuqana Bersiasat



Ketika telah membaca surat tentang, Amer dan Pasukannya Selamat” Abu Ubaidah berbahagia. Lalu menulis surat jawaban:
“Jika suratku telah kau baca, segeralah kembali ke Qaisariyah! Saya akan segera memberangkatkan pasukan untuk menggempur kaum Shaur (صور), Akka (عَكّاءَ), Tharabulus (طرابُلُس), dan Qaisariyah (قَيْسارِيَةَ), yang tidak taat Allah.”

Abu Ubaidah perintah agar pasukannya bersiap berangkat ke Sachil (Pantai). Abdullah Yuqana raja Chalab (Aleppo) berdiri untuk berkata, “Yang mulia, Allah telah menggulingkan kekufuran dan menjayakan Ketauhidan. Saya ingin berangkat mendahului menuju kesana, dengan tujuan bisa mendahului berperang.”
Abu Ubaidah menjawab, “Ya Abdallah! Kalau memang tujuanmu mendekat pada Allah, Allah juga akan mendekati kamu! Silahkan!.”

Abdullah Yuqana bergegas menyiapkan pasukan yang terdiri dari kaum Chalab, berjumlah 4.000 pasukan berkuda. Derap kaki kuda mereka membahana; debu-debu beterbangan. Mereka pergi sebelum Abu Ubaidah dan pasukannya.


Di antara pasukan Abu Ubaidah yang dibawa oleh Abdullah Yuqana, ada 3.000 bathriq yang telah Islam, di bawah pimpinan Jirfas. Mereka telah menyadari bahwa agama Islam, kelanjutan dari agama Isa bin Maryam AS. Dan telah sadar bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan yang harus disembah yang mutlak tidak berputra dan diputrakan.


Setelah kabur dari Jabiyah menuju kerajaan Qaisariyah, Raja Filasthin didampingi 80.000 pasukan, perintah agar 3.000 pasukan berkuda dari kota Tharabulus datang, untuk memperkuat pertahanan kerajaan. 
Arak-arakan pasukan berkuda dari Tharabulus berbondong-bondong mendatangi undangan Filasthin. Dalam perjalanan panjang itu, mereka istirahat di hutan dan mengikat kuda.

Tiba-tiba Raja Yuqana dan pasukannya muncul. Di dalam pasukan Yuqana, raja Romawi bernama Filanthinus.
Tadinya Filanthinus bertemu di jalan lalu bergabung pada pasukan Yuqana.

Jirfas memacu kuda untuk mendekati pasukan dari Tharabulus, lalu mengucapkan salam dan bertanya, “Siapa kalian?.”
Mereka menjawab, “Kami kaum yang telah berlindung pada kaum Arab. Tadinya, kami menyangka baik, ternyata mereka jahat dan agama mereka jelek. Kami kaum Chalab (Aleppo), Qinasrin, Izaz, Darim, dan Anthakiyah, yang akan menghadap pada Raja Hiraqla.”

Jirfas lega ketika mendengar jawaban mereka. Lalu dengan lembut, dia berkata, “Istirahatlah di sisi kami sejenak, untuk menghilangkan lelah. Kalian pasti khawatir pada serangan kaum Arab.”
Jirfas yakin mereka tidak curiga bahwa dirinya telah Islam.
Pada mereka, Yuqana bertanya, “Kalian akan diutus kemana?.”
Mereka menjawab, “Raja Filasthin perintah agar kami ke Tharabulus.”
Yuqana berpesan, “Hati-hati! Setahu kami, Abu Ubaidah berencana pergi ke Sachil.”
Jirfas berkata, “Kekuasaan kita telah hilang dan hari-hari indah kita tinggal kenangan. Ternyata Salib yang kita sembah tidak bisa menolong kita.”

Arak-arakan kaum Romawi itu mau istirahat di sisi pasukanYuqana. Setelah rasa capek hilang, dan telah diberi makanan, mereka pergi meneruskan perjalanan. Jirfas hampir mengikuti, tetapi dihalang-halangi, “Jangan! Suruhlah pasukanmu agar mengenakan busana terbaik! Agar kalian berwibawa” oleh Yuqana.

Setelah rencana muslihatnya matang, Yuqana membawa pasukannya menuju Sachil (pantai), untuk menangkap sejumlah orang di bawah pimpinan Al-Charits bin Sulaim. Tangan mereka diikat erat hingga belikat. 
Ketika malam tiba, Al-Charits bin Sulaim dan kaumnya dikumpulkan untuk diberi tahu, “Maaf saudara sekalian! Ini hanya siasat. Saya tidak murtad dari Islam, dan takkan mencelakai kalian. Ini siasat agar kaum Romawi menyangka saya telah menyerbu dan menangkap kalian kaum Arab” oleh Yuqana.

Setelah tahu maksud Yuqana, Al-Charits dan kaumnya merasa tenang. Mereka berkata, “Kalau tujuan kau bersiasat untuk menegakkan Agama Allah, maka Allah akan menolong kau mengalahkan lawan.”
Beberapa pria disuruh oleh Yuqana, agar berpura-pura membawa harta rampasan. Jirfas merasa tenang pada Yuqana, karena ternyata kaumnya dan binatang mereka hanya dikumpulkan, tidak dirampas.


2012/02/14

Khaulah Wanita Hebat




Wanita Shalihat, simpanan kekayaan paling berharga bagi suami. Dialah wanita yang berpengaruh hingga anak dan suami menjadi orang hebat. Perhatikanlah! Tiap ada lelaki hebat, pasti di sisinya ada wanita hebat yang berpengaruh dalam hidupannya. Itulah yang dimaksud. Dan orang hebat seperti para Nabi SAW, Maryam, Bukhari dan lainnya, juga anak wanita hebat.

Wanita yang telah taat namun diacuhkan oleh suami, pasti dikasihani oleh Allah Taala. Zaman Nabi SAW, ada wanita shalihat bernama Khaulah binti Tsalabah (خَوْلَة بِنْت ثَعْلَبَة) yang dianiaya oleh suami (Aus bin Asshamit / أَوْسُ بْنُ الصَّامِتِ), sehingga melaporkan pada nabi SAW dan pada Allah. Allah mendengarkan Laporannya dan berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ  [المجادلة/1].
Artinya:
Sungguh Allah telah mendengar wanita yang melaporkan padamu mengenai suaminya, dan mengadukan pada Allah. Allah mendengar Perbincangan kalian berdua. Sungguh Allah Maha Dengar Maha Lihat.
Tentu saja Firman itu membuat para sahabat kagum pada Khaulah adik ipar sahabat dekat Nabi SAW (Ubadah bin Asshamit / عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ). Di antara kekaguman mereka pada Khaulah yang pantas ditulis, Umar bin Al-Khatthab dan Aisyah (عَائِشَةُ) RA:
1.     Umar bersama rombongan pernah naik himar, bertemu Khaulah. Khaulah minta agar Umar berhenti untuk mendengar nasehatnya dalam waktu cukup lama. Perkataan Khaulah di antaranya: “Hai Umar, ketika kau masih kecil panggilanmu ‘Umar Kecil’. Setelah dewasa dipanggil ‘Umar’. Setelah dibaiat dipanggil ‘Amiral Mukminiin’. Kini bertaqwalah pada Allah ya Umar! Orang yang yakin akan mati, pasti rajin beribadah. Orang yang tahu bahwa amalannya akan dihisab, pasti takut disiksa.” Umar RA berhenti lama untuk mendengarkan nasehatnya. Ada orang bertanya, “Ya Amiral Mukminiin, masyak tuan mau berhenti lama hanya untuk mendengarkan wanita tua ini?.” Mereka mendengarkan dan heran pada jawaban Umar RA, “Demi Allah! kalau dia menahan saya mulai pagi hingga sore untuk nasehat, pasti saya berhenti dan mendengarkan terus. Saya akan pergi hanya untuk shalat wajib. Tak tahukah kalian ? Siapa wanita tua ini ? Dialah Khaulah binti Tsalabah yang ucapannya didengarkan oleh Allah. Masyak Tuhan seluruh alam mendengarkan ucapan dia; Umar tak mau mendengarkan ?.”

2.     Aisyah (عَائِشَةُ) RA, istri nabi SAW juga kagum pada Khaulah. Dia berkisah, “Maha Barakah zat yang PendengaranNya menangkap segala sesuatu. Sungguh saya mendengar sebagian ucapan Khalah binti Tsalabah, dan tidak mampu mendengar sebagian. Saat itu dia melaporkan suaminya pada Rasulallah SAW: ‘ya Rasulallah, dia telah menghabiskan masa mudaku. Rahim saya telah melahirkan anak-anaknya. Setelah saya tua dan tidak melahirkan lagi, dia justru menzhihar saya. [1] Ya Allah, saya laporan padaMu. Dia berdoa demikian terus hingga Jibril AS menurunkan Ayat ini: قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ  [المجادلة/1]. Artinya: Sungguh Allah telah mendengar wanita yang melaporkan padamu mengenai suaminya, dan melaporkan pada Allah. Allah mendengar Perbincangan kalian berdua. Sungguh Allah Maha Dengar Maha Lihat.

Kesimpulan: Khaulah dan wanita yang senasib dia, pasti diperhatikan, dan doanya dikabulkan oleh Allah. Dan wanita dinikah untuk dicintai dan disayang. Rasulullah SAW bersabda, “Nasehatlah pada wanita secara baik-baik! Sebab mereka, tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berwenang kecuali sebatas itu, kecuali jika mereka melakukan penyelewengan yang nyata.”

KW 189: Raja Filasthin dan Pasukannya Kabur


 (Bagian ke-189 dari seri tulisan Khalid bin Walid)


Tewasnya Bathriq Qidamun membuat Filasthin dan pasukannya shock dan lemas, karena dia ahli perang andalan mereka.
Hujan lebat mengguyur bumi; dua kubu menarik pasukan mereka masing-masing untuk berteduh. 

Arak-arakan 80.000 pasukan Filasthin memacu kuda secepat-cepatnya menuju Jabiyah untuk berteduh. Termasuk yang perasaannya paling kacau dan ketakutan adalah Filasthin raja mereka.
Filasthin menganjurkan, “Sebaiknya kita kembali ke kerajaan. Kalian tahu sendiri pasukan kita di Yarmuk dan Anthakiyah jauh lebih banyak daripada pasukan ini. Ternyata disapu oleh pasukan Arab hingga kebanyakan mereka tewas. Ayah kabur menuju Qusthanthiniyah (القسطنطينية/Costantinople) hingga kaum Arab menguasai seluruh negri Syam, yang tersisa hanya kota ini. Saya takut jika mereka mengalahkan kita lalu merebut negri ini. Lebih baik kita pergi daripada harus berperang dengan kaum Arab.” Pasukan Filasthin semua setuju.

Di malam yang mendebarkan itu arak-arakan 80.000 pasukan berkuda menembus hujan lebat meninggalkan negri Jabiyah. Empat hari hujan lebat itu baru berhenti.

Di pagi yang indah itu mentari bersinar terang benderang menghangati bumi. Burung-burung di hutan berkicau bersaut-sautan seakan-akan mengucapkan syukur dan bertasbih pada penguasa alam semesta.

Amer menulis surat untuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrach:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dari amer bin Al-Ash untuk panglima pasukan Muslimiin, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrach.
سلام عليك ورحمة الله وبركاته
Amma bakd: Wahai sahabat Rasulillah SAW, sungguh Filasthin putra Hiraqla telah mengerahkan 80.000 pasukan berkuda untuk menyerang kami. Kami bertemu mereka di daerah Nakhl (نخل). Syurachbil berkelahi melawan tokoh besar mereka bernama Qidamun putra bibi Hiraqla. Syurachbil telah ditindih untuk disembelih oleh Qidamun; namun Thalchah datang untuk menyerang Qidamun.
Qidamun bergerak cepat untuk menghindari serangan Thalchah; namun Syurachbil berhasil meloloskan diri dari tindihannya dan bergerak cepat sekali menebaskan pedang hingga leher Qidamun putus dan kepalanya terlempar.
Kini Thalchah saya perintah mengantar surat pada Umar RA. Dan semua pasukan Filasthin telah kabur jauh pulang ke kerajaan. Kini saya menunggu jawaban kau.
والسلام عليك وعلى من معك من المسلمين ورحمة الله وبركاته

Yang diperintah mengantar surat pada Abu Ubaidah, Jabir bin Said Al-Chadhrami. 
Jabir memacu kuda secepat-cepatnya menyusuri jalan panjang dan berliku.