SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/11/27

KW 154: Dakwah ke Negeri Izaz



 (Bagian ke-154 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Lawan mendekat dan duduk di depan Yuqana, untuk berkata, “Paman, saya berniat melepaskan kau dan semua pasukan kau. Saya telah mementingkan kau mengalahkan keluaga, ayah saya, dan tahta, yang akan saya waris. Mestinya kau sadar bahwa melakukan demikian ini merupakan pengorbanan yang berat, walau saya sadar bahwa agama Islam ini benar. Kau akan saya lepas dengan syarat kau menikahkan saya dengan putri kau. Maskawinnya adalah 'kau dan pasukan kau, saya lepaskan dengan cuma-cuma'. Mestinya kau dan mereka ini menjadi budakku.” 
Dengan senang, Yuqana menjawab, “Nak, kau tak mungkin menikahi putriku. Karena Islammu hanya bertujuan mendapatkan keduniaan. Yang benar kalau mau masuk Islam, harus dengan hati tulus karena Allah, dengan harapan, Allah memberi pahala atas amalanmu. Cukup dengan niat itu in syaa Allah kita akan mendapatkan balasan dunia dan akhirat.” 

Lawan membaca syahadat, “Asyhadu an laa Ilaaha illaa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulu Allah,” Lalu melepaskan dan memberi pedang pada Yuqana. 
Lalu melepaskan dan memberi pedang pada semua pasukan Yuqana.

Pada mereka, Lawan berkata, “Waspadalah! Saya yang akan membunuh ayah saya yang sedang mabuk. Kalian agar melakukan amalan yang membuat Allah ridha, agar mendapat barakah.” 
Pada pasukannya, Yuqana berkata, “Saksikan bahwa saya menikahkan Lawan dengan putriku, dengan maskawin berbentuk 'kita semua' dilepas, dan dimerdekakan dari perbudakan.” 
Lawan terperangah lalu berkata, “Saya menyetujui pernikahan antara saya dan putri Paman Yuqana, “ Lalu bergerak cepat memasuki rumah ayahnya. Lawan terkejut saat melihat ayahnya tewas berlumuran darah, di tengah kerumunan para saudara Lawan dari lain ibu. 

Lawan bertanya, “Siapa yang membunuh ayah?.” 
Para saudaranya menjawab, “Kami.” 
Lawan bertanya, “Kenapa?.” 
Mereka menjawab, “Mencari Perhatian Allah. Kami mendengar kau bercakap-cakap dengan Yuqana dan pasukannya. Kami takut ayah tahu rencana 'kau akan membunuh' dia, dan kau akan dikalahkan oleh Pasukan ayah. Mumpung kau belum dibunuh, beliau kami bunuh.”
Dengan bahagia, Lawan bergegas mendatangi Yuqana dan pasukannya, untuk melaporakan bahwa ayahnya telah tewas. 
Yuqana dan pasukannya berbahagia, dan keluar menuju petengahan benteng, sambil memekikkan tahlil, takbir, dan shalawat, atas nabi SAW. 

Pasukan Izaz terkejut dan berteriak, untuk menghadapi serangan pasukan Yuqana. 
Lonceng Gereja dipukul sekeras-kerasnya, pertanda ada bahaya. Saat itulah Thariq dan kemenakan Malik, berada di bibir jurang dekat benteng kerajaan Izaz.

Thariq dan kemenakan Malik bergegas mendatangi Malik, untuk melaporkan keadaan. 
Pada pasukannya, Malik perintah, "Ayo saudara kita, kita bantu!.” 
Pasukan Malik bergegas mengendarai kuda, berlari menuju benteng Izaz
Yang ditinggalkan untuk menjaga 500 tawanan terikat, pasukan berjumlah 100 orang.

Pada Lawan, Yuqana berkata, “Sungguh pasukan Muslimiin akan datang, membantu kita.” 
Tak lama kemudian, Lawan menyaksikan pasukan Muslimiin, di bawah pimpinan Malik, berdatangan, berkendaraan kuda. Pintu gerbang dibukakan, dan mereka memasuki benteng. 
Malik dan Pasukannya berteriak, “Allahu akbar! Allah akan menolong kami untuk menghinakan kaum Kufar!.”

Pasukan negeri Izaz melemparkan tombak dan pedang ke tanah, sebagai tanda menyerah. Mereka berkata, “Ampun! Selamatkan kami!” Berkali-kali. 
Mereka ditangkap dan ditawan. 

Malik dan Pasukannya mengucapkan syukur pada Yuqana dan Pasukannya
Yuqana berkisah mengenai jasa Lawan, melepaskan Yuqana dan 100 pasukannya. Dan bahwa 'para saudara Lawan' yang membunuh Raja Daris. 
Malik terperangah dan berkata, “Jika Allah meneghendaki sesuatu, maka membuatkan jalannya.”

Pertanyaan ayah Jubair dan jawaban Abu Lubabah bin Al-Mundzir (أبو لبابة بن المنذر) veteran Perang Futuchussyam, mengenai Gugurnya Raja Daris:
“Bagaimana kisah sebenarnya mengenai penaklukan negeri Izaz dan terbunuhnya Raja Daris? Saya masih ragu-ragu dengan kebenaran kisah itu, dan ingin mendengar kisah yang benar?.”
“Ketika Penaklukan Kerajaan Izaz telah selesai, Malik mengumpulkan para tawanan, rampasan perang: busana, emas, perak, wadah-wadah antik, dan lain-lain. Semua dikelurkan dari benteng. Yang memimpin mengurusi itu semua, Qais bin Saed, yang saat itu matanya luka oleh anak panah, dalam peperangan itu juga. 

Malik memasuki benteng, mencari Daris di istana, ternyata telah tewas. 
Malik terperangah dan bertanya ‘siapa yang telah membunuh orang laknat ini?’. 
Lawan menjawab ‘kakak saya bernama Luqa (لوقا)’. 
Malik perintah agar Luqa didatangkan untuk ditanya ‘kenapa kau membunuh ayahmu sendiri? Kami baru tahu bahwa ada orang Romawi yang tega membunuh ayahnya sendiri?’. 
Luqa menjawab ‘saya membunuh dia karena cinta agama kalian. Di dalam benteng ini ada biara yang dihuni oleh seorang alim. Kami sering membaca Injil di hadapan dia yang sering mengajar kami mengenai seluk-beluk negeri Romawi. Saya dengan dia yang bernama Abul-Mundzir pernah berduaan di dalam biara. 
Saya bertanya padanya ‘kenapa negeri-negeri Syam bisa direbut oleh kaum Arab? Dan kenapa pasukan raja besar Romawi ditaklukkan? Padahal setahu kami kaum Arab adalah kaum yang sangat lemah? Itu berarti Allah yang menolong mereka, kan?. Apa kau pernah membaca kitab-kitab Romawi atau Yunani yang menjelaskan tentang itu?’.
Abul-Mundzir berkata ‘Nak, betul!. Saya pernah membaca’. Bahkan Raja Hiraqla pernah berkata sebelum terjadinya ini semua, di hadapan para raja, uskup, bathriq, dan para pejabat tinggi lainnya: ‘Kaum Arab pasti akan merebut tahta yang saya duduki ini’. 
Saya juga mendengar khabar nabi mereka SAW pernah bersabda ‘bumi pernah diperkecil untukku, hingga saya bisa melihat Timur dan Baratnya. Dan kerajaan umatku akan melebar ke wilayah yang telah dilipatkan untukku’.
Pada Abul-Mundzir, saya bertanya, ‘menurut kau? Nabi kaum itu benar atau palsu?’. 
Dia menjawab ‘Nak, di dalam kitab kita tertulis bahwa Allah Taala akan mengutus seorang yang berada dari Chijaz (Makkah) sebagai nabi. Isa bin Maryam juga pernah memberitakan pada kita tentang itu. Saya tidak tahu tentang pertanyaan yang ini, dia nabi atau bukan’.
Saya tahu bahwa Abul-Mundzir merahasiakan tentang kenabian karena khawatir saya melaporkan dia. 
Ketika saya melihat Yuqana dan pasukannya tertawan, saya berkata ‘Yuqana yang telah membunuh adiknya bernama Yuchana dan telah memerangi kaum Arab saja telah masuk Islam. Tentunya karena dia tahu bahwa Islam agama yang benar’. 
Saya juga berkata di dalam hati ‘bunuhlah ayahmu! Untuk menyelamatkan Yuqana dan pasukannya! Ikutilah agama mereka yang pasti benar!’.
Ketika ayah saya mabuk dan tidur pulas, saya datang untuk membunuhnya, untuk menyelamatkan Yuqana dan pasukannya. Ternyata Yuqana dan pasukannya telah dilepaskan oleh Lawan, adik saya. 

Malik bertanya pada Lawan ‘kenapa kau berbuat begitu?’. 
Lawan menjawab ‘karena cinta agama kalian. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah, dan sungguh Muhammad SAW Utusan Allah’.
Malik berdoa ‘semoga Allah menerima amalanmu dan memberimu Taufiq’. 
Lalu keluar dari benteng dan menunjuk Said bin Amer, agar mengatur 100 pasukan Yuqana, untuk mengurusi dan memerintah kerajaan Izaz.

Raja Rawandat dan pasukannya yang diikat dihadirkan, untuk diperintah memasuki Islam.
Namun mereka menolak. Tak lama kemudian mereka tewas oleh Siksaan Tuhan melalui pedang yang ditebaskan oleh kaum Muslimiin atas leher mereka.”

Bersambung.

KW 153: Dakwah ke Negeri Izaz



(Bagian ke-153 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Beruntung sekali mata-mata bernama Ishmah tidak menjelaskan di dalam suratnya pada raja negeri Izaz, bahwa ada pasukan Arab di bawah pimpinan Malik Al-Asytar akan menyerang. 
Di dalam persembunyian, Malik mengikat tawanannya bernama Thariq, lalu menunggu kedatangan raja negeri Rawandat dan 500 pasukannya. 

Ketika malam telah kelam, derap kaki kuda mengusir sepi. Malik dan pasukannya menyergap dan mengikat raja dan 500 pasukannya.
Malik menawarkan pada Thariq, “Maukah kau masuk Agama Allah dan Rasul-Nya? Agar dosa yang telah kau lakukan lebur? Dan agar kau menjadi saudara kami?.” 
Thariq berkata, “Sebetulnya saya pernah menyatakan Islam pada Umar, tetapi Muhammad SAW pernah bersabda ‘barang siapa murtad, maka bunuhlah!’.”
Malik berkata, “Tetapi hukum dalam Hadits itu disalin dengan perkataan ‘laa Ilaaha illaa Allah’ berdasarkan firman Allah ‘illaa man taaba wa aamana wa amila shaalichan faulaaaika yubaddilu Allahu sayyiaatihim chasanaat’ yang artinya: Kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal shalih. Maka Allah menggantikan kejelekan mereka pada kebaikan.[1] Oleh karena itu Rasulullah menerima tobat Wachsyi yang telah membunuh pamannya bernama Chamzah. Dan Allah juga menurunkan ayat mengenai itu.”
Thariq menyimak penjelasan Malik dengan senang lalu berkata, Asyhadu an laa Ilaaha illaa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Abdu-Hu wa Rasulu-H. Sekarang hatiku senang dan kebingungaku telah hilang. Semoga Allah menyelamatkan kau di hari kiamat.” 
Malik senang dan berkata, “Semoga Allah memberi kau petunjuk dan menetapkan keimananmu.” Lalu berkata, “Ya Hamba Allah, saya ingin dosa yang telah kau lakukan lebur.” 
Thariq bertanya, “Maksud kau bagaimana?.” 
Malik berkata, “Pergilah menuju raja negeri Izaz! Untuk memberi tahu bahwa raja negeri Rawandat akan datang untuk menolong.” 
Thariq menjawab, “In syaa Allah akan saya lakukan. Kalau meragukan kejujuranku, silahkan kau menyuruh orang kepercayaanmu agar mengawasi aku. Malam telah larut; sementara yang berjaga di benteng berpintu gerbang dikunci rapat itu 'sangat banyak'. Untuk itu saya hanya bisa berteriak dari bibir jurang.” 

Malik perintah agar kemenakannya mendampingi Thariq, pergi ke benteng kerajaan Izaz, dan agar selalu waspada. Mereka berdua segera pergi menuju benteng yang dijaga ketat oleh pasukan bersenjata. Beberapa orang terkejut oleh suara lonceng berdentang keras sekali. Dan ada keributan di dalam benteng. 
Thariq berkata pada kemenakan Malik, “Ini jelas ada peperangan atau pembunuhan di dalam benteng.” Mereka berdua menyimak kegaduhan dan teriakan dari dalam benteng.

Telah terjadi pembunuhan atas Raja Daris di dalam benteng oleh Lawan putranya sendiri. 
Lawan adalah lelaki pemberani yang pernah diutus oleh ayahnya, agar mengirimkan hadiah pada Raja Yuqana yang masih kerabatnya. Di sana, Lawan ditempatkan pada rumah mewah agar senang. 
Dalam waktu beberapa bulan itu Lawan sering memasuki istana Yuqana. 
Dia pernah terkejut saat melihat puri Yuqana yang cantik jelita dikelilingi sejumlah pelayan dan kasim (pelayan rendahan). [2] Lawan jatuh cinta pada putri itu dan pulang, untuk memberitahukan isi hatinya pada ibunya di Izaz

Ibunya berkata, “Akan saya laporkan agar ayahmu mengutus utusan, untuk melamar dan menikahkan dia denganmu. Berapa maskawin yang diminta akan kami berikan.” 
Di saat Lawan sedih karena dilanda rindu terhadap putri itu; Raja Yuqana dan 100 pasukan Arab datang ke kerajaan Izaz, dan ditawan oleh ayahnya. 

Raja Yuqana dan 100 pasukan Arab dipenjara di dekat rumah mewah Lawan. 
Ayah Lawan berpesan, “Jagalah!.” 
Lawan berpikir, “Sungguh Raja Yuqana putra paman saya ini, lebih tahu mengenai segala agama. Kalau Islam tidak benar, tentu Raja Yuqana tidak Islam. Karena sebelumnya Raja Yuqana memerangi kaum Arab dengan mati-matian. Saya juga heran kenapa pasukan Yuqana bisa ditaklukkan oleh kaum Arab yang lemah? Karena Allah menolong mereka. Saya sangat mencintai putri dia. Mereka akan saya lepas dan saya akan mengikuti agama mereka, dengan syarat Yuqana menikahkan saya dengan putrinya. Saya akan memeluk agama yang benar, dan akan segera menyunting putrinya.”

Bersambung.


[1] إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  [الفرقان/70].
[2] Kasim berasal dari bahasa Arab: حَشيمٌ. Artinya: pelayan rendahan yang sering dibentak-bentak. Dasar pengartian ini: الصحاح في اللغة - (ج 1 / ص 131)
.ورجلٌ حَشيمٌ، أي مُحْتَشِمٌ. وحَشْمُ الرجل: خَدَمُهُ ومَن يغضب له، سُمَّوا بذلك لأنهم يغضبون له

2011/11/26

Cita-Cita Terbengkelai


Termasuk gagasan agung yang patut diacungi jempol adalah UB yang artinya usaha bersama. Yang punya gagasan pertama kali KH Nur Hasan, hanya ketika itu baru dipraktikkan di kalangan keluarga dengan dinamai syarikah. KH Abdul-Dlohir lah yang pertama kali meluncurkan ijtihad UB dengan harapan membanguh ekonomi jamaah. Saat itu beliau berharap, “UB ini nantinya akan lebih besar daripada IMF.”
Liti berkata, “Yang pertama kali punya gagasan mengenai UB Allah, hanya saat itu tidak diistilahkan UB. Firman di dalam surat Al-Baqarah ayat 282-284 mengandung pelajaran usaha bersama secara nyata, karena ayat itu diturunkan ketika para sahabat melakukan usaha bersama yang disebut Assalam atau Assalaf. Pada dasarnya semua jual-beli adalah usaha bersama dalam tingkatan sederhana.”
Yu Sane bertanya, “Berarti cita-cita KH Abdul-Dlohir yang luhur terbengkelai? Padahal sudah didanai banyak sekali dan diperjuangkan dengan gigih oleh semua kalangan?.” Dila mengingatkan, “Kalau istirjak Allah memberi shalawat, rahmat dan hidayat, yakni memberi ganti yang lebih baik.”
Lana, Tini dan Tengah bertanya, “Sebetulnya apa yang perlu dibenahi dalam UB?.” Semua diam, hanya Kang Sastro yang berkata, “Allahu a’lam. Hanya mestinya kekuatan usaha bersama dibagi menjadi dua untuk keseimbangan dan penjagaan aktif. Dalilnya kan juga begitu:
أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا. Aku (Allah) ketiganya dua syarikah selama yang satu tidak mengkhianati sahabatnya. Namun ketika dia telah mengkhianatinya; Aku keluar dari antara keduanya.”
Bento bertanya, “Sampean keminter, Kang Sastro. Yang menangani UB orang-orang pandai lho.” Sastro bersumpah, “Demi Allah saya tidak keminter, tetapi merujuk dua dalil di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah dan Hadits Abu Dawud di atas.”
Elan dan Iti membenarkan, “Kang Sastro benar! Karena dia hanya menjawab pertanyaan sesuai pengetahuan yang dia miliki. Coba kita perhatikan ‘Hadits di atas kan menjelaskan bahwa usaha bersama yang disertai Allah yang terbagi menjadi dua kubu atau dua syarikah tho?. Sementara dalam usaha bersama kita tidak dibagi menjadi dua kubu bahkan kekuatan tertinggi adalah MPPS yang berarti satu kubu. Kalau dua kubu maka ada keseimbangan, dan pengawasannya pun ada dengan sendirinya, karena masing-masing kubu saling mengawasi dan memberi masukan. Jangan salah paham, ini bukan menyalahkan ijtihad adanya MPPS, tetapi agar fungsi dari MPPS disempurnakan, yakni membentuk dua kubu yang di Hadits disebut syarikain.”
Kang Sastro, Elan dan Iti diserbu pertanyaan oleh Bento dan teman-temannya: “Kenapa tidak kita temukan dalil yang menunjukkan sekelompok orang Islam zaman dulu yang usaha bersamanya berhasil?.” Sastro menjawab, “Ada saja. Tetapi dalil kias, lihatlah berapa kali Allah berfirman, “Aliim (عَلِيمٌ) yang artinya Maha Alim, ketika mengajarkan usaha bersama di dalam dua ayat di atas? Dua kali kan, bahkan Allah berfirman ‘Aliim (عَلِيمٌ)’ dua kali setelah berfirman ‘wayu’allimukumullaah (وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ)’ yang artinya: Allah mengajarkan (ini semua) pada kalian.”
Elan dan Iti berkata, “Sebetulnya Hadits dari Abu Dawud di atas dalil kias bahwa jika dua kubu yang bersyarikah amanat pasti berhasil, karena ada Allah di situ.”
Beberapa orang bertanya, “Bukan yang itu yang kami maksud. Kisah mengenai dua golongan bersyarikah atau usaha bersama yang berhasil?.” Liti menjawab, “Nabi Muhammad SAW dulu ikut usaha bersama di perniagaan Khadijah di Syam. Keuntungan perniagaan Khadijah melimpah ruah mengalahkan sebelum nabi bekerja di situ. Maisarah sampai terheran-heran pada kenyataan. Rahasianya karena nabi amanat dan baik hati. Kitab yang menjelaskan mengenai ini banyak. Yang perlu diketahui bahwa Islam ini dulu berjaya karena mengamalkan jihad. Pada masa Utsman bin Affan menjadi khalifah, di dunia ini tidak ada kerajaan yang berani melawan Islam karena semua kerajaan raksasa telah ditumbangkan. Mereka mengalami kemakmuran yang berlebih. Setelah mereka tenggelam dalam anugrah yang melimpah, mereka tidak rukun sehingga diperangi kaum Salibis hingga tumbang. Semakin hari semakin memprihatinkan. Jika ada tokoh Islam zaman sekarang kok peduli dengan ekonomi Islam, berarti dia orang hebat. Apa lagi beliau telah meluncurkannya menjadi ijtihad. Yang perlu dibenahi dalam UB tinggal satu: SISTEM agar amanat. Dan itu sudah ada dalam uraian ini, tinggal disempurnakan agar makin baik. Maaf jika salah mohon diluruskan. Tulisan ini bukan mengkritik ijtihad tetapi peduli ijtihad. Wallahu a’lamu wa archam.”

2011/11/25

KW 152: Dakwah ke Negeri Izaz



 (Bagian ke-152 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Amir bin Zaid (عَامِرُ بْنُ زَيْدٍ) veteran Perang Futuchussyam (فتوح الشام) berkisah:
“Saya termasuk veteran Perang Futuchssyam. Saya juga ikut merebut kota Qinasrin dan Chalab (Aleppo) di bawah pimpinan Abu Ubaidah. Banyak sekali kaum Romawi yang akhirnya masuk Islam. Hanya di antara mereka yang masuk Islam yang berjihadnya paling semangat dan niatnya paling tulus hanya Yuqana. Dia benar-benar telah berjuang demi kaum Muslimiin, untuk mencari Keridhoan Rabbul-aalamiin. Banyak orang bersaksi tentang jihadnya yang sangat gigih.”

Abu Ubaidah menyerahkan 100 pasukan berkuda berbusana medel Romawi pada Yuqana. Tiap sepuluh orang dari mereka diberi satu komandan yang dari kabilah mereka. 
Yang dari Thayi dikomandani oleh Khazal bin Ashim (خزعل بن عاصم). 
Yang dari Fihr dikomandani oleh Fihr bin Muzachim (فهر بن مزاحم). 
Yang dari Khuzaah dikomandani oleh Salim bin Adi (سالم بن عدي). 
Yang dari Sanis dikomandani oleh Masruq bin Sinan (مسروق ابن سنان). 
Yang dari Numair dikomandani oleh Asad bin Chazim (أسد بن حازم). 
Yang dari Al-Chadharamah (الحَضَارِمَة) dikomandani oleh Majid bin Umairah (ماجد بن عميرة). 
Yang dari Chimyar dikomandani oleh raja Chimyar bernama Dzul-Kala Al-Chimyari (ذو الكلاع الحميري). 
Yang dari Bahilah dikomandani oleh Saif bin Qadich (سيف بن قادح). 
Yang dari Tamim dikomandani oleh Saed bin Chasan (سعد بن حسن). 
Yang dari Murad dikomandani oleh Malik bin Fayyaad (مالك بن فياض)."
Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah menyayang kalian. Ketahuilah bahwa sepuluh komandan ini saya perintah agar mentaati Yuqana, yang telah menyerahkan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Selama dia berniat mencari Keridhoan Allah, maka taatilah!.”

Yuqa dan 100 pasukan berkuda berkemas-kemas. Setelah mereka berjalan sejauh satu farsakh, 1.000 pasukan berkuda di bawah pimpinan Malik Al-Asytar Annakhai, dipersiapkan untuk menyusul. 
Kepada Malik, Abu Ubaidah berkata, “Bawalah pasukanmu! Mengikuti jejak Yuqana dan pasukannya! Jika kau telah mendekati benteng negeri Izaz! Bersembunyilah! Hingga waktu sahur. Tugasmu menggerakkan pasukanmu agar menyerbu kaum di dalam benteng di waktu sahur.”
Malik dan pasukannya berjalan mengendarai kuda, menyusuri jalan panjang hingga malam. Mereka berhenti di kampung dekat benteng untuk menunggu fajar menyingsing. 
Kampung tempat persembunyian mereka sepi dan penduduknya jarang. 

Saat itu Yuqana telah berjalan menuju benteng, setelah menyusuri jalan yang berbeda dari yang dilewati oleh Malik dan pasukannya.  

Khazal bin Ashim veteran Perang Chalab (Aleppo) berkisah, “Saat itu saya menjadi prajurit Yuqana berjumlah 100 pasukan berkuda. Yuqana berkata pada kami 'hai para pemuda! Kita telah sampai tujuan. Semuanya supaya diam, karena bahasa kalian berbeda dengan mereka'. Sayalah yang akan menerjemahkan bahasa mereka untuk kalian. Dan waspadalah jangan sembrono. Jika saya telah memukul raja mereka, kalian agar segera menyerang dengan garang! Semoga qodar baik tidak memihak dia.”

Akwa bin Abbad Al-Mazini (الأكوع بن عباد المازني) termasuk veteran Perang Izaz, sebagai prajurit Malik yang berjumlah 1.000 orang; berada di belakang Yuqana penguasa Chalab (Aleppo). 

Dia berkisah, "Kami memasuki kampung di dekat benteng Izaz, sambil menunggu fajar menyingsing. Kami terkejut oleh datangnya pasukan dari belakang kami, tepatnya dari sebelah barat. 
Malik pergi meninggalkan kami sejenak, lalu kembali dengan membawa lelaki Arab Nashrani." 
Malik berkata, “Hai para pemuda! Dengarkan perkataan lelaki ini!.” 
Kami menjawab, “Dia akan mengatakan apa?.” 
Malik perintah, “Tanyalah! Dia akan menjawab!.” 
Kami bertanya, “Kau berasal dari mana?.” 
Lelaki tawanan menjawab, “Dari Ghassan.” 
Malik bertanya, “Namamu siapa?.” 
Dia menjawab, “Thariq bin Syaiban.” 
Malik memanggil, “Hai Thariq! Demi hak dziminya kaum Arab, kamu jangan merahasaiakan pada kami! Yang kau ketahui tentang musuh kami!.” 
Dia menjawab, “Demi Allah saya takkan merahasiakan yang saya ketahui. Tetapi kalian agar bersiap sebelum musuh kalian datang.” 
Malik bertanya, “Bagaimana maksudmu?.” 
Dia menjawab, “Semalam kami kedatangan mata-mata bernama Ishmah bin Arfajah (عصمة بن عرفجة) yang telah memata-matai kalian. Ketika kalian dan Yuqana merencanakan makar, dia mendengarkan. Apa yang kalian rencanakan, ditulis pada lembaran, lalu diikatkan pada burung, agar diantar pada raja Izaz. Raja Izaz membaca lalu perintah agar saya menghubungi dan minta bala-bantuan pada Raja Luqa, dari negeri Rawandat. 
Raja Luqa telah pergi kemari membawa 500 pasukan berkuda. Bersiaplah menghadapi mereka. Sepertinya mereka hampir datang kemari.”

Ketika Yuqana sampai, Raja Daris telah menunggu di luar benteng, dengan 3.000 pasukan berkuda dari Romawi, dan 1.000 pasukan berkuda dari Arab Nashrani, dan sejumlah pasukan lainnya yang disuruh bersembunyi. Tali kendali kuda Yuqana dipotong oleh Daris lalu Yuqana jatuh, kepalanya membentur tanah. 
Pasukan berkuda Daris berjumlah 4.000 mengepung, menangkap dan mengikat pasukan Yuqana yang terdiri dari sahabat Rasulillah SAW. 
Daris meludahi wajah dan membentak Yuqana, “Sungguh Al-Masih dan Salib pasti akan memurkai kau! Karena kau murtad dari agamamu! Untuk memasuki agama musuhmu. Demi Al-Masih! Kau akan saya hadapkan pada Raja Hiraqla yang mulia! Agar kau disalib di pintu gerbang negeri Anthakiyah! Setelah orang-orangmu saya penggal kepala mereka.” 
Daris bergegas masuk kedalam benteng.

Bersambung.