SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Bukhari Ajarkan Dasar Penetuan Fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukhari Ajarkan Dasar Penetuan Fiqih. Tampilkan semua postingan

2016/05/08

Bukhari Ajarkan Fiqih








Bab Nabi SAWMelarang (Umatnya) Mengharamkan” Kecuali yang telah diketahui hukum Mubah (Boleh)nya (agar diketahui bahwa larangan bukan haram). Demikian pula mengenai, “Perintah Beliau SAW.” Contoh Sabda Beliau, “Gauli, sebagian wanita (istri) !” Ketika orang-orang tahalul (lukar dari ihram).
Jabir berkata, “Beliau tidak menegaskan (wajib menggauli istri), tetapi menghalalkan untuk mereka.” Al-Makna yang tidak menggauli istri, hukumnya tidak haram.
Umu Athiah berkata, “Kami telah dilarang mengikuti jenazah, namun tidak ditegaskan (haram) atas kami.”

Dalam Ta’liq Mushthofa Bagha dijelaskan, “Maksudnya Beliau SAW tidak menegaskan larangan. Menunjukkan bahwa amalan (mengikuti jenazah) ini dibenci, bukan diharamkan.” [1]





بَابُ نَهْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى التَّحْرِيمِ إِلَّا مَا تُعْرَفُ إِبَاحَتُهُ، وَكَذَلِكَ أَمْرُهُ نَحْوَ قَوْلِهِ حِينَ أَحَلُّوا: «أَصِيبُوا مِنَ النِّسَاءِ» وَقَالَ جَابِرٌ: «وَلَمْ يَعْزِمْ عَلَيْهِمْ، وَلَكِنْ أَحَلَّهُنَّ لَهُمْ» وَقَالَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ: «نُهِينَا عَنِ اتِّبَاعِ الجَنَازَةِ، وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا»
__________

[تعليق مصطفى البغا]
 [ش (ما تعرف إباحته) بقرينة أو بقيام دليل على ذلك. (وكذلك أمره) أي يجب امتثاله وتحرم مخالفته ما لم تدل قرينة أو يقم دليل على إرادة الندب ونحوه. (ولم يعزم. .) أي لم يشدد علينا في النهي فدل على أنه للكراهة لا للتحريم]
[ر 6933]