SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

Tampilkan postingan dengan label Surat untuk Umar RA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat untuk Umar RA. Tampilkan semua postingan

2016/12/13

PS 183: Pembebasan Syam





Image title


Khalid memegang panji dan memacu kuda secepat-cepatnya ke arah Maisarah yang sedang ditangkap oleh seorang bathriq. Gema takbir pasukan Muslimiin meledak, membuat pasukan Romawi bergetar ketakutan. 
Tiba-tiba tangan bathriq yang memegangi tangan Maisarah, lemas, karena terkejut dan takut. Bathriq ingin mengangkat Maisarah dari kudanya namun tak mampu, dia diikat dengan beberapa tali pada pelana dan kudanya. Bathriq menarik dia sekuat tenaga, namun tak mampu.

Khalid mendekat dengan menebaskan pedang sekuat tenaga, untuk memotong tangan kanan. Tetapi bathriq bergerak menyamping sehingga tangan kirinya tertebas pedang dan putus. Maisarah melepaskan diri dari bathriq. 
Bathriq melarikan kudanya menuju pasukannya dengan mengaduh kesakitan. Sejumlah opsir Romawi berlari cepat untuk menolong dan mengobati tangannya yang putus.

Khalid dan Maisarah bersalaman lalu bebicara, mengenai serangan pasukan Romawi yang ganas. Pembicaraan berlanjut hingga mengenai Abdullah bin Chudzafah Assahmi ditangkap untuk dihadapkan pada Hiraqla. 
Khalid terkejut dan bersedih, ketika mendengar khabar Abdullah ditangkap dihadapkan pada Hiraqla. Dia bersumpah, “Demi Allah, in syaa Allah saya akan memerangi mereka hingga kapanpun, hingga mereka melepaskan Abdullah.”
Kedatangan Khalid dan 3.000 pasukannya membuat tenang pada Maisarah dan pasukannya. 
Pasukan Romawi sangat ketakutan pada Khalid, yang datang bersama 3.000 pasukan berkuda. Saat itu nama Khalid di negeri Romawi sangat terkenal. Bahkan saking terkenalnya, Addhachak yang wajah dan gayanya mirip Khalid, pernah menjadi tontonan lautan kaum Romawi di Anthakiyah. Saat itu Addhachak berperang melawan pengawal Hiraqla, lalu ada yang berteriak, “Kurang ajar! Dialah Khalid yang telah mengobrak-abrik tentara kita! Mampuslah kau! Ayo lawanlah jagoan kami yang ini!.” 
Ucapan itu membuat kaum berlarian, ingin memandang Khalid dari jarak dekat. Semakin lama semakin banyak, hingga mereka seperti lautan insan. Bahkan tenda utama yang tinggi besar, roboh karena terlalu banyak penonton yang memanjat atap dan tiang-tiangnya. Anehnya banyak yang tak peduli terhadap orang-orang yang tewas tertimpa reruntuhan tenda utama itu, karena terlalu asyik menonton, dan berharap orang yang disangka Khalid itu tewas, oleh serangan pahlawan mereka.


Pasukan Muslimiin istirahat dari perang hingga pagi. Di pagi yang indah itu, seorang lelaki tua berpakaian warna hitam sangat sederhana, muncul dari celah pasukan Romawi, untuk menghadap pada Khalid RA. Dengan tubuh bergetar dia bergerak untuk sujud, tetapi Khalid melarang, “Jangan bersujud padaku!. Apa ujuanmu datang kemari?.” 
Lelaki itu menjawab, “Panglima perang kami mengajukan permohonan damai pada kalian, dan sanggup mengembalikan orang kalian yang ditawan. Beliau juga berjanji akan memberi yang kalian minta.”
Jawaban Khalid RA, “Kami takkan pulang kecuali peperangan telah berakhir! Kalau kalian tidak mau melepaskan orang kami yang kalian tawan, kalian akan kami perangi agar melepaskan dia!” mengejutkan dia.
Dengan bergetar lelaki itu bertanya, “Apakah yang mulia pimpinan mereka ini?.” 
Khalid menjawab, “Betul!.” 
Dengan bergetar, lelaki itu bertanya, “Maukah yang mulia mengundurkan peperangan ini selama sehari-semalam? Agar kami bisa mempersiapkan semuanya? Dan agar Bathriq yang mulia sembuh dari sakitnya? Kita akan berperang setelah itu.” 
Khalid menjawab, “Silahkan!.”

Lelaki itu kembali menghadap panglima perangnya. Pada seluruh pasukannya, sang panglima berkata, “Mereka telah menyetujui usulan kita bahwa peperangan sudah berakhir. Mari kita pulang!.” 
Mereka menyalakan obor-obor dan berkemas untuk pulang. Arak-arakan panjang sekali itu berduyun-duyun pulang, dengan mematikan obor agar tidak kelihatan.

Di pagi yang menegangkan itu, arak-arakan pasukan Muslimiin telah bergerak mendekati perkemahan pasukan Romawi. Tetapi mereka terkejut karena tenda-tenda dan penghuninya yang dicari telah tiada, tinggal barang-barang yang tidak bisa dibawa dan sampah berjumlah sangat banyak. Puluhan ribu pasukan Romawi telah kabur semalam. 
Khalid marah karena rencana akan menyalamatkan Abdullah menemui jalan buntu, dan merasa tertipu. Dia telah menggerakkan tali kendali agar kudanya berlari, tetapi Maisarah berteriak, “Jangan dikejar! Medannya terlalu sulit! Kita kembali saja.”
Barang-barang bermanfaat yang ditinggalkan oleh pasukan Romawi, menjadi jarahan. Arak-arakan panjang pasukan berkuda Muslimiin, pulang ke Chalab (Aleppo). Derap kaki kuda mereka membahana, membuat ayam-ayam berlarian sambil berkokok dan berkotek. Dan orang-orang yang melihat, terpukau dan ketakutan. 
Khalid dan teman-teman di pertengahan arak-arakan pasukan, pulang dengan perasaan sedih. Memikirkan nasib Abdullah bin Chudzafah yang ditawan.

Abu Ubaidah dan pasukannya di Chalab, menyambut kedangan mereka, dengar sangat berbahagia. Maisarah dikerumuni oleh orang banyak, ditanya mengenai kejadian di dalam 
Perang Qabail. Ketika Maisarah berkisah tentang Abdullah bin Chudzafah ditawan oleh lawan, Abu Ubaidah dan kaum Muslimiin sedih sekali. 
Abu Ubaidah berdoa, “Ya Allah, buatkanlah dia Jalan Keluar, dari kesulitannya, agar bisa lolos.”

Abu Ubaidah menulis surat untuk Umar RA, memberitakan bahwa pasukannya telah melaksanakan perintah, agar ke Addurub (Gunung-Gunung). Perjalanan dilanjutkan ke Qabail hingga terjadi peperangan dan menang. Sayang, Abdullah ditawan.

2016/11/28

PS 160: Pembebasan Syam






Mereka bersiap-siap melakukan serangan. Ternyata pasukan yang akan diserbu meneriakkan, “Hidup Isa bin Maryam! Hidup Salib Agung! Siapa kalian?.” 
Yuqana menjawab, “Kalian juga siapa?.” 
Mereka menjawab, “Kami pasukan Raja Jabalah bin Aiham!.” 
Yuqana turun dari kuda untuk mengucapkan salam pada mereka.
Mereka juga mengucapkan salam pada Yuqana dan pasukanya.
Jabalah bertanya, “Kalian dari mana?.” 
Yuqana menjawab, “Dari Marasy membawa putri Raja Hiraqla. Kalian dari mana?.” 
Jabalah menjawab, “Dari Umaq (العُمَق) mencari bahan makan, namun di tengah perjalanan pulang, kami bertemu lebih 200 pasukan berkuda Arab. Pasukan kami berjumlah 2.000 kuwalahan menghadapi serangan mereka. Serangan kami yang menggila dipatahkan oleh mereka, bahkan beberapa pasukan kami berguguran. Beberapa orang mereka mampu membunuh dua atau tiga orang dari pasukan kami, tapi akhirnya kami bisa menawan mereka. Pimpinan mereka di belakang, kami kejar dan kudanya kami panah hingga tewas. Lalu dia kami tawan. Ternyata dia sahabat Muhammad SAW bernama Dhirar bin Al-Azwar. Dia dan pasukannya akan akami hadapkan pada Raja Hiraqla, agar ditanya.”
Agar dikira bahagia, Yuqana tersenyum dan berkata, “Demi benarnya agama ini! Kau telah beruntung, bisa menawan orang hebat dan pasukannya. Saya sendiri telah mendengar berita mengenai keberanian dan ketangkasan dia di dalam berperang, hingga banyak pahlawan kita yang gugur di tangannya.”
Yuqana dan Jabalah memimpin arak-arakan pasukan menuju Anthakiyah.


Negeri Izaz telah dianugrahkan oleh Allah pada pasukan Muslimiin. Malik menunjuk Said bin Amer Al-Ghanawi (سعيد بن عمرو الغنوي) agar memerintah negeri itu.
Malik dan Al-Fadhl diikuti arak-arakan pasukan Muslimiin, pulang menuju Chalab untuk menyerahkan rampasan perang pada Abu Ubaidah.
Abu Ubaidah berbahagia dan bersyukur atas kemenangan Muslimiin di negeri Izaz dan rampasan perang yang melimpah. Dia bertanya, “Dia pergi ke Anthakiyah untuk menjumpai dan memakar atas raja Romawi terbesar. Dia belum bisa menghadap kemari” pada Malik, tentang Yuqana. Dan dijawab dengan berbisik.
Abu Ubaidah berdoa, “Semoga Allah memberi Pertolongan, Kemenangan dan Ampunan.” 
Lalu menulis surat untuk Umar bin Al-Khatthab RA:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dari Abu Ubaidah Amir bin Al-jarrach pada Amirul-Mukminiin Umar bin Al-Khatthab RA
سلام عليك
Saya memuji pada Allah satu-satunya Tuhan yang harus disembah, dan mendoakan shalawat pada Nabi-Nya SAW, ammaa bakd:
Sungguh Allah Penebar Segala Anugrah, menuntun kami agar bersyukur. Benteng sesulit apapun di Syam, telah kami rebut karena Anugrah-Nya. Raja-raja Syam dipaksa oleh Allah agar tunduk pada kami. Dan tanah mereka diberikan pada kami. Bahkan oleh Allah, negeri Chalab juga telah diberikan pada kami. Negeri Izaz juga kami taklukkan berkat Pertolongan Allah. Raja Chalab bernama Yuqana telah masuk Islam dengan baik, bahkan telah mewajibkan diri, berjuang demi Muslimiin. Berkat perjuangan Yuqana, kaum Muslimiin merasakan manfaatnya; dan kaum Kafir menderita. Kini dia menemui Hiraqla untuk bermakar dengan keberania membahayakan, karena taat Allah dan Rasul-Nya. Saya menulis surat ini ketika sedang bersiap menuju Anthakiyah, untuk memberi pelajaran pada Raja Hiraqla. Kini benteng-benteng kerajaan di Syam telah kami renggut. Kami berharap semoga bisa segera menangkap Hiraqla, menduduki singgasana, dan mengambil harta kekayaannya. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah menjanjikan pada kita. Berilah kami bekal doamu yang akan beranfaat besar, dan agar kaum Kafir segera rusak.”
والسلام عليك وعلى من معك عن المسلمين ورحمة الله وبركاته


Abu Ubaidah mengambil 1/5 dari rampasan perang, diserahkan pada Rabach bin Ghanim Al-Yasykari (رباح بن غانم اليشكري), yang diserahi membawa 200 pasukan berkuda.
Rabach dan pasukannya ditugaskan mengantar 1/5 dari rampasan perang pada Umar di Madinah. Di antara mereka yang terpenting: 
1.     Qatadah.
2.     Salamah bin Al-Akwa (سلمة بن الأكوع).
3.     Abdullah bin Basyar.
4.     Jabir bin Abdillah RA, dan lainnya. 
Abu Ubaidah juga menugaskan agar Dhirar bin Al-Azwar membawa 200 pasukan berkuda, untuk mengawal mereka.
Safinah mantan budak Rasulillah SAW berada di dalam pasukan Dhirar, bertugas menjadi mata-mata.
Dhirar membawa sejumlah lelaki taklukan agar menunjukkan jalan. 
Pasukan berjumlah 400 itu berarak-arak menyusuri jalan. Ketika waktu sahur, mereka memasuki hutan Dabiq. Para menunjuk jalan berteriak, “Hai! Awas! Kasihanilah kuda kalian yang berjalan terus!.”
Dhirar mengistirahatkan mereka semua, di situ. 
Di waktu sahur berikutnya mereka terkejut oleh datangnya Raja Jabalah dan pasukanya untuk menyerbu.
Dhirar dan 100 pasukannya bergegas menaiki dan memacu kuda. Pasukan berjumlah 100 lainnya belum sempat naik kuda, sudah diserbu. Perlawanan mereka dipatahkan oleh pasukan Jabalah yang terlalu banyak.
Pada 100 pasukannya, Dhirar berteriak, “Hai pemuda Arab! Musuh kalian telah menangkap saudara kalian ketika sedang istirahat! Ayo kita selamatkan! Nabi SAW bersabda ‘surga berada di bawah kilauan pedang-pedang’. Allah juga berfirman ‘kam min fiatin qaliilatin ghalabat fiatan katsiiratan biidznillaah. Wa Allahu maasshaabiriin’.” [1]

Di antara pasukan Dhirar, ada yang bernama Rabiah bin Mamar bin Abi Auf (ربيعة بن معمر بن أبي عوف) yang sangat pandai menguntai syair. Dia menjadi pusat perhatian karena syairnya yang indah. Dia membaca syair:

Surga Allah  seluas beberapa langit dikepung oleh derita
Surga tertinggi ditempati oleh Syuhada
Maka buatlah ridha!
Pada yang tahu barang ghaib maupun yang nyata
Jihad telah berdiri di atas kakinya
Bukankah kalian sebagai shabat nabi SAW ini zaman?
Kenapa pesimis meraih Pertolong Rohman?
Buatlah bahagia Ruh Al-Musthafa dengan [2]
Gigih melawan lawan
Jangan lari! Karena akan dimurkai oleh Tuhan
Ketahuilah ‘kemengangan akan diraih’ oleh yang mau berkorban
Yang berniat mencari kampung abadi pasti
Bertemu musuh sebanyak apapun 'tak peduli'
Benarkan niat kalian agar mendapatkan!
Rahmat dari Tuhan kalian?
Tepatkan sasaran agar mendapatkan yang kalian harapkan
Tusuklah leher mereka
Agar berpahala bidadari mempesona
Agar diberi perumahan istimewa
Tabahlah agar meraih kemenangan
Jangan mengasihani lawan
Karena ucapan mereka tipuan
Ulama mengenai mereka membaca
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Syair itu membuat 100 pasukan Dhirar menjadi semangat, dan keberanian mereka berkobar.
Dhirar membaca syair pemacu semangat:




In syaa Allah bersambung

Mulungan Sleman Yogyakarta Indonesia Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi



[1]  كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ  [البقرة/249]. Artinya: Banyak golongan sangat sedikit telah mengalahkan golongan sangat banyak karena Idzin Allah. Dan Allah menyertai orang-orang Sabar.

[2] Al-Musthafa artinya benar-benar dipilih, maksudnya Nabi Muhammad SAW.