SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/02/28

BA 3: Bedah Al-Qur’an



Tsalabah sahabat nabi SAW yang tadinya sangat miskin, lalu menjadi kaya karena doa nabi SAW. Hanya akhirnya menjadi orang munafiq. Ayat-Ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang itu:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [التوبة/75-77].

Artinya:
Sebagian dari mereka ada yang berjanji pada Allah: “Niscaya jika Dia (Allah) telah memberikan sebagian KefadolanNya pada kami, niscaya kami akan bersodaqoh sungguh, dan niscaya kami sungguh akan tergolong kaum shalih.”
Namun ketika Dia (Allah) telah memberikan sebagian KefadolanNya pada mereka, mereka bakhil mengenainya, dan berpaling dengan mengabaikan. Dia (Allah) pun mengecap Munafiq di dalam hati mereka, hingga hari mereka bertemu Dia (Allah), karena telah menyelisihi Allah mengenai yang telah mereka janjikan, dan  karena mereka telah berbohong. [Qs At-Taubah 75-77].

Tengah, Dila, dan Anti bertanya: “Kenapa ‘wa (وَ)’ di dalam kalimat ‘waminhum (وَمِنْهُمْ)’ tidak diartikan?.”
liti dan Elan menjawab, “Karena hanya berguna menjelaskan ‘kalimat sebelumnya sudah berhenti’.”
Dengan serempak, Tengah, Dila, Anti dan lainnya, bertanya: “Namanya apa?”
Sastro dan Bento menjawab, “Namanya ‘ibtida’ atau ‘istinaf’.
Muha berkata, “Kalimat pengartian ‘niscaya kami akan bersodaqoh sungguh’ kurang benar, karena penyangatannya diulang. Mestinya kalimat pengartian itu cukup ‘niscaya kami akan bersodaqoh’. Lafal sungguh dihilangkan saja! Agar tidak berlebihan!.”
Enam muballighat dan Iti, menambah pertanyaan: “Kalimat ‘niscaya kami sungguh akan tergolong’ di atas juga berlebihan. Yang satu harus dihilangkan agar tidak bertele-tele?.”

Iti, Liti, Tengan dan Yusane, berkata, “Mungkin Muha, Iti, dan para muballighat, benar, karena mendasari kaidah bahasa Indonesia. Tetapi karena ini menerjemahkan bahasa Arab, maka harus apa adanya, asal jangan terlalu jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Awalan ‘la (لَ)’ artinya niscaya, akhiran ‘nna (نَّ)’ dalam kalimat ‘lanasshaddaqanna (لَنَصَّدَّقَنَّ)’ artinya ‘sungguh’. Begitu pula ‘la (لَ)’ awalan kalimat ‘lanakuunanna (لَنَكُونَنَّ)’ dan ‘nna (نَّ)’ akhirannya.
Penyangatan yang diulang ini, melukiskan sumpah itu diucapkan dengan serius.”
Beberapa muballighat cantik bertanya: “Kenapa ‘fa (فَ)’ di awal kalimat ‘falammaa aataahum (فَلَمَّا آَتَاهُمْ)’ tidak diartikan ‘maka?’, tetapi diartikan ‘namun?’.”
Yusane dan Elan menjawab, “Karena berguna menjelaskan bahwa kalimatnya masih berhubungan dengan kalimat sebelumnya, namanya ‘athaf’.”
Tujuh orang bertanya, “Kenapa ‘fa (فَ)’ dalam awalan kalimat ‘faaqahum (فَأَعْقَبَهُمْ)’ diartikan ‘Dia (Allah) pun?’.”
Bento, Dila, dan Muha, menjawab, “Karena berguna menjelaskan bahwa kalimatnya masih berhubungan dengan kalimat sebelumnya, namanya ‘athaf’.”
Beberapa orang bertanya, “Kenapa ‘wa (وَ)’ dalam lafal ‘wahum (وَهُمْ)’ tidak diartikan ‘dan?’.”
Tengah dan Iti menjawab, “Karena untuk menjelaskan keadaan (chaliyyah).
Faishal dan Dias bertanya, “Kenapa dua lafal ‘bimaa (بِمَا)’ diartikan sebab?.”
Titi dan Iti menjawab, “Karena ‘bi (بِ)’nya untuk menyatakan sebab (sababiyyah) dan ‘maa (مَا)’nya untuk menyangatkan (takid).”
Joko dan teman-temannya bertanya, “Kenapa ‘yakdzibuun (يَكْذِبُونَ)’ diartikan ‘mereka telah bohong?’ Padahal kata kerja ‘sedang’ atau ‘akan’ (mudhari)?.”

Iti dan Liti menjawab, “Karena ada lafal ‘kaanuu (كَانُوا)’ sebelum itu.”


0 komentar:

Posting Komentar