SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2013/07/27

Hadits Abu Hurairah RA Dua Karung



Kealiman Abu Hurairah RA; sahabat nabi SAW dalam bidang Hadits, luar biasa. Padahal dia menjadi sahabat nabi SAW hanya 3 tahun. Karena pernah mendapat perlakuan dan doa khusus dari nabi SAW agar ‘hafal’ yang didengar dari nabi SAW. Inilah riwayat mashur tentang Hadits dia RA ‘dua karung’: صحيح البخاري (1/ 35)
120 - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَخِي، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ سَعِيدٍ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: " حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ: فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا البُلْعُومُ "
__________

[تعليق مصطفى البغا]
120 (1/56) -[ش (وعاءين) نوعين من العلم والوعاء في الأصل الظرف الذي يحفظ فيه الشيء. والمراد بالوعاء الذي نشره ما فيه أحكام الدين وفي الوعاء الثاني أقوال منها أنه أخبار الفتن والأحاديث التي تبين أسماء أمراء السوء وأحوالهم وزمنهم وقيل غير ذلك. (بثثته) نشرته وأذعته. (قطع هذا البلعوم) هو مجرى الطعام وكنى بذلك عن القتل].

Arti (selain isnad)nya:
Dari Abu Hurairah RA, “Saya telah hafal dua wadah (Hadits) dari Rasulillah SAW. Adapun satunya telah saya bentangkan; kalau saya bentangkan yang lain, leher ini dipotong.”

Catatan Musthafa Al-Bagha:
Dua wadah Hadits Abu Hurairah RA berisi ilmu. Asli arti lafal ‘Al-Wiak (الوعاء)’ adalah ‘wadah’ untuk menyimpan sesuatu. Yang dimaksud ‘sewadah’ telah dibentangkan ‘hukum-hukum agama’. Sedangkan wadah kedua berisi ‘beberapa pernyataan’; sungguh nabi SWA pernah memberitakan beberapa fitnah dan beberapa Hadits tentang nama para amir jelek, perbuatan, dan zaman hidup mereka. Ada juga yang menjelaskan lain demikian.
Batsatstuhu (بَثَثْتُهُ) artinya ‘saya bentang dan saya ajarkan’. Leher ini dipotong (قُطِعَ هَذَا البُلْعُومُ), artinya ‘(leher) tempat lewat makanan’. Maksudnya dipotong ‘dibunuh’.

2013/07/22

Kajian Shalat Tarawih

Kajian Shalat Tarawih




1277 - حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُهَاجِرِ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ سَالِمٍ، عَنْ أَبِي سَلَّامٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ السُّلَمِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ اللَّيْلِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: «جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَكْتُوبَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ، ثُمَّ أَقْصِرْ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَتَرْتَفِعَ قِيسَ رُمْحٍ، أَوْ رُمْحَيْنِ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَيُصَلِّي لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَكْتُوبَةٌ، حَتَّى يَعْدِلَ الرُّمْحُ ظِلَّهُ، ثُمَّ أَقْصِرْ، فَإِنَّ جَهَنَّمَ تُسْجَرُ، وَتُفْتَحُ أَبْوَابُهَا، فَإِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ، فَصَلِّ مَا شِئْتَ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ، حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَيُصَلِّي لَهَا الْكُفَّارُ» ، وَقَصَّ حَدِيثًا طَوِيلًا، قَالَ الْعَبَّاسُ: هَكَذَا حَدَّثَنِي أَبُو سَلَّامٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، إِلَّا أَنْ أُخْطِئَ شَيْئًا لَا أُرِيدُهُ، فَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
__________

[حكم الألباني] : صحيح م دون جملة جوف الليل


Arti (selain isnad)nya:
Nabi SAW bersabda, “Pertengahan malam akhir. Shalatlah! Terserah anda (jumlah rakaatnya)! Karena shalat tersebut disaksikan dan ditulis, (lakukan) hingga anda shalat subuh! Lalu berhentilah! Hingga matahari terbit, lalu meninggi kira-kira satu atau dua tombak. Sungguh matahari terbit di antara dua tanduk Syaitan; kaum Kafir shalat karenanya. Lalu shalatlah terserah anda (banyaknya)! Sungguh shalat tersebut disaksikan! Hingga anda shalat asar! Lalu berhentilah! Hingga matahari terbenam! Sungguh dia terbenam di antara dua tanduk Syaitan; kaum Kafir shalat karenanya.”
Amer bin Abasah Assulami mengkisahkan Hadits ini dengan panjang.
Abbas berkata, “Abu Sallam murid Abu Umamah telah bercerita pada saya demikian. Hanya kalau 'ada kekeliruan' yang tidak saya kehendaki, maka saya istighfar dan bertobat pada Allah.”

Albani menghukumi Hadits ini shahih.
  
Hadits di atas menunjukkan bahwa jumlah rakaat dalam shalat malam ‘tidak terbatas’. Boleh sebanyak-banyaknya. Nabi SAW melarang pada Al-Chaula’ binti Tuwait RA (الحولاء بنت تويت رضي الله عنها) shalat semalam suntuk, agar kaumnya SAW tahu bahwa amalan terbaik, 'yang rutin' meskipun hanya berjumlah sedikit. Dan shalat tarawih adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan. Tarawih jamak dari tarwichah yang artinya istirahat sejenak. Diistilahkan demikian karena ‘tarawih’ zaman dulu, setelah salam, istirahat sejenak lalu berdiri lagi. [1]




Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia

[1] Rujukan dari keterangan ini Fatchul-Bari: فتح الباري لابن حجر (4/ 250)
وَالتَّرَاوِيحُ جَمْعُ تَرْوِيحَةٍ وَهِيَ الْمَرَّةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الرَّاحَةِ كَتَسْلِيمَةٍ مِنَ السَّلَامِ سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ.

2013/07/19

Surat Abasa





SuratAbasa diturunkan ketika nabi SAW masih di Makkah. Menurut Azzamakhsyari, “Saat itu beliau SAW sedang serius menghadapi orang-orang penting; Utbah, Syaibah (dua putra Rabiah), Abu Jahl bin Hisyam, Abbas bin Abdil-Muthalib, Umayah bin Al-Khalaf, dan Al-Walid bin Al-Mughirah. Agar mereka masuk Islam. Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum  datang untuk berkata ‘ya Rasulallah! Bacakan dan ajarkan pada saya, sebagian yang telah diajarkan oleh Allah pada Baginda’.” [1]
Ibnu Ummi Maktum mengulang-ulang permohonannya, karena tidak tahu bahwa nabi SAW sedang sibuk menghadapi kaum penting. Nabi SAW tidak mau menghentikan pembicaraan karena sungkan pada mereka. Beliau SAW bemuka masam dan berpaling. Allah menurunkan surat tersebut, sebagai pelajaran tatakerama untuk nabi SAW dan kaumnya. Firman berkembang pada pelajaran ‘Seharusnya Manusia Melaksanakan Perintah Allah’. Dan ‘Asal Mereka dari Apa?’. Lalu tentang Kiamat, dan seterusnya:
بسم الله الرحمن الرحيم
عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (12) فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (13) مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ (14) بِأَيْدِي سَفَرَةٍ (15) كِرَامٍ بَرَرَةٍ (16) قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (17) مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (20) ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (21) ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (22) كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ (23) فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32) فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ (38) ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ (39) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ (40) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ (41) أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (42).

Artinya:                    
Dia bermuka masam dan berpaling. (1) [2]
Lantaran orang buta datang pada dia. (2)
Maksud lafal ‘orang buta’ adalah Ibnu Ummi Maktum. [3]
Apa yang memberi tahu kau barangkali dia bersuci?. (3) Maksud lafal ‘kau’ adalah nabi SAW. [4]
Atau dia mengambil peringatan hingga peringatan bermanfaat pada dia?. (4)
Adapun orang sombong. (5)
Maka kau serius pada dia? (6)
Apa beratmu jika dia tidak bersuci? (7)
Adapun orang yang datang pada kau dengan bergegas. (8)
Padahal dia khawatir. (9)
Maka kau meremehkan pada dia?. (10)
Ingat! Sungguh itu peringatan!. (11)
Barangsiapa mau; maka ingat padanya. (12)
Di dalam lembaran diistimewakan. (13)
Diunggulkan, disucikan. (14)
Di tangan para utusan. (15)
Yang sama mulia, sama baik. (16)
Manusia dilaknat! Apa yang membuat dia kafir?. (17)
(Berasal) dari mana sesuatu (Allah)  mencipta dia?. (18)
Berasal dari sperma. (Allah) telah mencipta dan menqadar dia. (19)
Lalu pada jalan (kelahiran), (Allah) mempermudahkan pada dia. (20)
Lalu (Allah) mematikan dan membuat terkubur pada dia. (21)
Lalu ketika (Allah) telah menghendaki; maka membangkitkan pada dia. (22)
Ingat! Dia belum melaksanakan yang diperintahkan pada dia. (23)
Hendaklah manusia mengamati pada (asal) makanan dia. (24)
Sungguh Kami (yang) telah menuangkan air dengan benar-benar menuangkan. (25)
Lau Kami (juga yang) membelah bumi dengan benar-benar membelah. (26)
Lalu Kami menumbuhkan biji-bijian di dalamnya. (27)
Anggur dan sayuran. (28)
Zaitun dan kurma. (29)
Kebun-kebun yang lebat. (30)
Buah-buahan dan rerumputan. (31)
Sebagai bekal untuk kalian dan binatang ternak kalian. (32)
Ketika pekikan telah datang. (33) [5]
Di hari itu orang lari dari saudaranya. (34)
(Dari) ibu dan ayahnya. (35)
(Dari) istri dan anaknya. (36)
Di hari itu, ada kelakuan yang mengalahkan pada tiap orang dari mereka. (37)
Di hari itu wajah-wajah, cerah. (38)
Tertawa bebahagia. (39)
Di hari itu ada debu di atas wajah-wajah. (40)
Kotor menutup wajah-wajah tersebut. (41)
Mereka kaum kafir yang durhaka. (42)
Dalam surat ini juga terkandung ajaran:
1.     Jangan hanya mementingkan orang besar.
2.     Jangan meremehkan orang kecil.
3.     Ramahlah pada orang yang di depan kita.
4.     Orang-orang yang mempertahankan kekafiran, di hari kiamat akan lari dari saudara; ibu; bapak; istri; dan anak mereka.
5.     Di hari kiamat, wajah orang-orang kafir ‘hitam’.
6.     Di hari kiamat, wajah orang-orang iman ‘berseri-seri’.


[1] Nama panjang Ibnu Ummi Maktum yang artinya ‘Putra Ummi Maktum’; Abdullah bin Syuraich bin Malik bin Rabiah Al-Fihri (عبد الله بن شريح ابن مالك بن ربيعة الفهري). Ibnu Ummi Maktum sebetulnya cucu ‘Ummi Maktum’ dari jalur ayah.
[2] Maksud lafal ‘dia’ adalah Nabi Muhammad SAW.

[3] Ibnu Katsir menulis keterangan seperti berbeda, padahal sama. Hanya nama-nama orang yang ditulis ‘yang dianggap’ penting: تفسير ابن كثير (8/ 319)
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ-هُوَ ابْنُ مَهْدِيٍّ-حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنْ قَتَادَةَ [عَنْ أَنَسٍ] فِي قَوْلِهِ: (عَبَسَ وَتَوَلَّى) جَاءَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُكَلِّمُ أُبَيَّ بْنَ خَلَفٍ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: (عَبَسَ وَتَوَلَّى * أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى) فَكَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْرِمُهُ قَالَ قَتَادَةُ: وَأَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: رَأَيْتُهُ يَوْمَ الْقَادِسِيَّةِ وَعَلَيْهِ دِرْعٌ ومعه راية سوداء يَعْنِي ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ-

Arti (selain isnad)nya:
Dari Anas, tentang FirmanNya, “(Dia bermuka masam dan berpaling).” Ibnu Ummi Maktum datang pada nabi SAW yang saat itu sedang berdialog dengan Ubai bin Khalaf. Nabi SAW berpaling dari Ibnu Ummi Maktum. Allah menurunkan untaian Firman, “Dia berpaling dan bermuka masam. Lantaran orang buta datang pada dia.” Konon setelah itu nabi SAW memuliakan pada Ibnu Ummi Maktum. Anas bin Malik memberi kabar pada saya; “Saya pernah melihat melihat dia di Hari Perang Qadisiyah. Dia berbaju perang membawa panji hitam.” Yakni Ibnu Ummi Maktum.

[4] Bersuci, maksudnya ‘masuk Islam’ agar suci dari dosa.

[5] Maksud lafal ‘pekikan’ adalah kiamat.