SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/04/30

KW 32: Wardan Rebah Bersimbah Darah

(Bagian ke-32 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Dawud kembali lagi menghadap Khalid untuk berkata, “Wahai pemimpin. Sebetulnya ada rahasia yang belum saya buka. Karena negri ini akan segera kau kuasai maka saya akan berterus terang. Sungguh Wardan telah merencanakan tipu-muslihat.”
Khalid bertanya, “Bagaimana maksudmu?.”
Dia menjawab, “Dalam pertemuan kau dan dia nanti waspadalah! Jangan lengah! Dia telah merencanakan muslihat untuk membunuh kau,” lalu menceritakan yang dia ketahui sejelas-jelasnya.
Dia menambahkan, “Terus terang saya mohon agar saya dan keluarga saya dijamin aman.”
Khalid menjawab, “Kau, keluargamu, anak-anakmu, kujamin aman dengan syarat merahasiakan pembicaraan kita ini pada mereka.”
Dawud menjawab, “Kalau saya ingin berkhianat, pasti tidak mungkin membocorkan rahasia mereka ini pada kau.”
Khalid bertanya, “Di mana mereka akan bersembunyi?.”
Dia menjawab, “Di sisi gunung pasir sebelah kanan tempat pasukan Romawi berkumpul itu.”
Dawud bergegas pulang untuk menemui Wardan, untuk melaporkan tentang pertemuan dan pembicaraannya dengan Khalid. “Semua sudah saya katakan padanya,” kata Dawud.
Wardan berbahagia dan berkata, “Sekarang saya yakin bahwa sang Salib benar-benar akan menolongku.”
Wardan mengundang untuk memberitahukan rencananya pada sepuluh pasukan elit. Lalu perintah, “Pergilah ke sana dengan berjalan kaki secara diam-diam!.”

Khalid masuk ke barak ditemui Abu Ubaidah yang sangat berwibawa karena sabda nabi SAW, “Abu Ubaidah kepercayaan ini umat.”
Khalid tersenyum; Abu Ubaidah menyapa, “Hai Aba Sulaiman, semoga Allah yang membuatmu tertawa. [1] Ada berita apa?.”
Dua tokoh besar itu berbicara serius mengenai rencana tipu-muslihat Wardan yang harus imbangi.  
Abu Ubaidah bertanya, “Lalu apa rencanamu?.”
Khalid menjawab, “Saya akan menghadapi dia sendirian.”
Abu Ubaidah mengingatkan, “Demi umurmu! Kau sendiri bisa mengatasi! Tapi Allah melarang bunuh diri! Bahkan berfirman ‘persiapkanlah kekuatan dan ikatan kuda semampu kalian untuk menghadapi mereka! Dengan itulah kalian membuat musuh Allah dan musuh kalian takut[2]’. Allah akan memberimu sepuluh pasukan pengawal, ditambah Allah sendiri yang kesebelasnya. Saya mengkhawatirkanmu jika orang terkutuk itu menyerangmu tiba-tiba. Pastikan saja kau membawa sepuluh pasukan sama seperti mereka. Perintahlah agar pasukanmu bersembunyi dekat mereka. Jika Wardan memanggil pasukannya, panggillah pasukanmu agar datang. Kami di sini akan bersiap-siap, jika kau telah merampungkan urusanmu, kami akan menyerang kaum Romawi semuanya. Saya yakin saat itulah Allah menolong kita mengalahkan mereka.”
Khalid memanggil sepuluh pasukan elitnya: Rafi’ bin Umairah, Mu’adz bin Jabal, Dhirar bin Al-Azwar, Sa’id bin Zaid, Qois bin Hubairoh, Maisaroh bin Masruq, Adi bin Chatim (عدي بن حاتم), dan lainnya. Mereka diberi tahu bahwa Wardan dan sepuluh pasukan elitnya merencanakan tipu-muslihat, dan Khalid akan mengimbangi dengan mereka bersepuluh.
Khalid perintah, “Berangkatlah berjalan kaki secara diam-diam menuju gunung pasir sebelah kanan pasukan Romawi! Mencarilah tempat persembunyian di sana! Jika saya berteriak segeralah datang untuk menyerang mereka. Tiap seorang bertugas menyerang seorang! Yang menghadapi Wardan musuh Allah, saya sendiri. In syaa Allah saya bisa mengatasi dia.”
Dhirar berkata, “Wahai pimpinan, saya khawatir jika yang akan menyerang kau ternyata banyak. Terus terang saya mengkhawatirkan kau. Saya justru merencanakan untuk kau, sekarang juga kami bersepuluh akan mendatangi tempat persembunyian mereka bersepuluh. Kalau mereka tidur, kami bunuh. Sebelum subuh kami usahakan pekerjaan ini selesai. Selanjutnya tempat itu akan kami gunakan bersembunyi. Di waktu kau mengadakan pertemuan khusus dengan musuh Allah itu, kami bisa muncul sewaktu-waktu.”
Khalid perintah, “Laksanakan rencanamu jika kau mampu! Ajaklah pasukan elit yang telah kutunjuk tadi untuk kau pimpin! Saya yakin Allah akan membuatmu berhasil melaksanakan rencana!.”
Di malam kelam itulah Dhirar dan sembilan temannya berangkat menuju gunung pasir (Al-Katsib الكثيب) dengan membawa senjata. Saat itu sepertiga malam telah berlalu. Ketika hampir sampai di tempat, Dhirar perintah, “Berhenti! Akan saya cek dulu keadaannya.”
Ketika Dhirar semakin mendekat untuk melihat keadaan; sepuluh pasukan elit Romawi itu telah tidur mendengkur. Setelah didekati, ternyata di sisi mereka ada wadah minuman keras. Mereka tidur nyenyek karena terlalu capek, sehingga bisa didekati dengan aman.
Dhirar berkata dalam hati, “Jika saya meneriaki teman-teman, mereka ini bisa bangun.”
Dhirar bergegas menuju teman-temannya untuk mengatakan, “Berbahagialah, Allah akan segera mewujudkan keinginan kalian dan telah menghilangkan yang kalian khawatirkan. Hunuslah pedang kalian dan datangilah mereka yang sedang tidur pulas itu! Bunuhlah terserah bagaimana caranya!.”
Sepuluh pasukan elit itu tidur pulas menyanding pedang di atas kepala. Tak lama kemudian hidup mereka berakhir oleh tebasan pedang sepuluh Muslimiin. Pedang, perbekalan, dan harta mereka diambil. Dhirar berkata, “Berbahagialah! Ini awal pertolongan in syaa Allah.”
Dhirar dan teman-temannya melakukan sholat dan berdoa agar Allah menolong menaklukkan lawan. Semua mengamalkan sholat dengan khusu’ hingga fajar menyingsing dari ufuk timur. Setelah selesai sholat subuh, teman-teman Dhirar mengenakan pakaian mayat-mayat yang telah dibunuh. Mayat-mayat disembunyikan agar jika utusan Wardan datang mengecek, tidak ditemukan.  

Di subuh yang indah itu langit dan bumi bertasbih pada Allah; ribuan malaikat turun ke bumi; Khalid bin Al-Walid mengimami sholat subuh pasukan Muslimiin. Khalid menata berisan laskar Muslimiin untuk persiapan perang akbar. Tiba-tiba seorang berkuda datang mendekat untuk berkata, “Hendaklah pimpinan kalian keluar menemui tuan Wardan pimpinan kami untuk melaksanakan perundingan! Agar pertumpahan darah segera berakhir!.”
Khalid bergegas menaiki kudanya. Lelaki Romawi itu berpesan, “Kau nanti jangan marah dulu sehingga memahami maksud tuanku.”
Khalid menjawab, “Saya mendengar dan akan melaksanakan. Sekarang pergi! Dan beri tahulah dia bahwa saya akan segera mendatangi tempat yang telah ditentukan!.”

Wardan keluar dari gedung mengenakan kalung dari Jauhar yang indah dan mahkota gemerlapan. [3]
Ketika Khalid melihat mahkota dan kalung Wardan, bergumam, “Ini akan menjadi milik Muslimiin in syaa Allah.”
Ketika melihat Khalid, Wardan turun dari kudanya. Khalid juga turun dari kudanya untuk duduk bersanding dengan Wardan. Wardan duduk sambil memangku pedang. Khalid berkata, “Katakan apa maumu dan jujurlah! Laluilah jalan yang benar! Kau duduk di sisi lelaki Arab yang tak mengenal siasat perang. Katakan apa maumu!.”
Wardan yang pandai berbahasa Arab itu berkata, “Hai Khalid! Sebetulnya apa yang sangat kau inginkan selama ini? Katakan apa permintaanmu! Kami pasti akan mengabulkan.”
Wardan terlalu sombong, sehingga ucapannya tak terkontrol: “Kami semua tahu bahwa negri kalian kering, kekurangan makanan. Bangsa kalian banyak yang mati kelaparan, sehingga pemberian kami sedikit saja pasti akan banyak bagi kalian. Setelah itu segera pergilah!.”
Wardan terkejut saat mendengar ucapan Khalid, “Hai anjing Romawi! Sungguh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung telah memberi kami kecukupan hingga tak lagi membutuhkan harta maupun belas kasihan kalian! [4] Allah akan menjadikan harta, perempuan, dan anak kalian sebagai rampasan kami. Kecuali jika kalian berkata ‘laa Ilaah illaa Allah, Muhammad Rasul Allah’.[5]Jika kau tak mau mengucapkan, berarti kita harus berperang, atau kau membayar pajak pada kami dengan hina. Demi Allah, saya bersumpah bahwa sesungguhnya saya lebih senang berperang daripada berdamai dengan kalian! Hai musuh Allah! Mengenai penilaianmu ‘kami umat yang lemah’. Kami pun juga menganggap kalian ini sederajat anjing-anjing.[6] Ketahuilah bahwa karena pertolongan Allah, seorang dari kami sanggup melawan serubu orang kalian. Dan ucapanmu yang sombong tidak pantas diutarakan untuk mengupayakan perdamaian. Kalau kau ingin kita bertemu berduaan! Ayo lakukanlah apa maumu!.”
Kemarahan Wardan meluap-luap hingga tak mampu lagi mengendalikan diri. Dia bergerak cepat meninggalkan pedangnya untuk menangkap Khalid. Mereka berdua bergulat dan saling memukul. Wardan memeluk erat agar Khalid tak bisa berlari; Khalid memeluk agar Wardan tak menyerang dengan senjata tajam. Wardan berteriak kesakitan oleh pelukan Khalid yang terlalu erat: “Kemarikan Salibku karena saya disekap pimpinan Arab!.”
Wardan akan berteriak; tapi pasukan elit Muslimiin telah bergerak dengan gagah dengan mengenakan pakaian pasukan elit Romawi, kecuali Dhirar. Dia telanjang dada bercelana panjang. Mereka meninggalkan busur dan membawa pedang terhunus. Dhirar datang mendahului teman-temannya dan menggeram bagai singa jantan; teman-teman Dhirar datang setelah itu.
Sebelumnya, Wardan menyangka yang berdatangan adalah pasukan elitnya. Setelah terkejut oleh geraman Dhirar dan datangnya pasukan Muslimiin, Wardan memohon dengan suara serak: “Saya minta demi benarnya Tuhan yang kau sembah, kau saja yang membunuhku. Jangan syaitan ini,” pada Khalid.
Khalid menjawab, “Justru dia yang akan membunuhmu.”
Khalid mempererat pelukannya agar Wardan tidak bisa kabur; Dhirar menggerakkan pedang sambil berkata, “Hai musuh Allah! Tipuanmu pada para sahabat Rasulillah tidak berhasil.”
Khalid melarang, “Hai Dhirar bersabarlah! Jangan kau bunuh sebelum kuperintah!.”
Para sahabat Rasulillah mengerumuni sambil menodongkan pedang ke wajah untuk membunuh Wardan. Wardan merebah ke tanah dan menyerah sambil mengangkat tangan kedepan. Dengan bergetar, Wardan memohon agar diselamatkan. Namun Khalid berkata, “Hai musuh Allah! Yang kami beri jaminan selamat hanya yang pantas diberi jaminan selamat. Sedangkan kau telah menipu kami secara nyata. Namun Allah lah sebaik-baiknya yang sama melancarkan tipu-muslihat.[7] Secepat kilat Dhirar menusukkan pedangnya pada pundak Wardan. Setelah pedang menembus pundak, tampak berkilau, dan Wardan rebah bersimbah darah.
Dhirar melepas mahkota dari kepala Wardan sambil berkata, “Yang duluan menguasai lah yang berhak mengambil.”
Sembilan sahabat Dhirar menyerang dan memotong-motong anggota tubuh Wardan. Lalu bergegas mengambil pedang Wardan.  


[2] {وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ} [الأنفال: 60].
[4] Dalam Futuchus Syam dijelaskan, “يا كلب الروم” Bacanya, “Ya kalbar Ruum.”
[5] لا إله إلا الله محمد رسول الله.
[6] Dalam Futuchus Syam dijelaskan, “بمنزلة الكلاب” Bacanya, “Bimanzilatil kilaab.”
[7] {وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ} [آل عمران: 54].

2011/04/29

KW 31: Berbaju Perang

(Bagian ke-31 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Tempat teragung bagi kaum Nashrani saat itu adalah istana yang ditempati oleh Raja Hiraqla. Yang kedua adalah tempat yang dipergunakan Wardan menyampaikan khutbah untuk para bathriq. Tidak semua orang bisa memasuki dua tempat yang agung itu.
Sudah berkali-kali kaum Nashrani menderita kekalahan. Dan kekalahan yang ini benar-benar membuat terhina, karena kaum Arab yang mengalahkan adalah kaum yang dianggap remeh. Khutbah yang disampaikan oleh sang Panglima membuat hampir semua hadirin menangis. Hiruk pikuk dan celoteh kebanyakan hadirin berkisar semangat perjuangan yang harus ditingkatkan lagi. Beberapa orang berkata, “Sebaiknya seluruh umat Nashrani kita gerakkan agar menyerang mereka bersama-sama dengan anak panah. Agar bisa menyerang mereka dari jauh.”
Tetapi yang lebih diperhatikan oleh Wardan, ucapan seorang bathriq, “Ya Tuan Wardan! Tuan telah mendapat ujian berat. Kaum yang kita hadapi tidak bisa ditaklukkan. Saya sendiri telah menyaksikan seorang dari mereka menyerang pasukan kita dengan membabi-buta. Tidak ada satu pun dari mereka yang mundur meskipun harus mati. Yang membuat mereka bersemangat di dalam perang ialah nabi mereka berkata ‘jika dari kalian ada yang gugur maka masuk kesurga; jika musuh gugur maka masuk neraka’. Selain itu bagi mereka mati dan hidup sama saja. Menurut saya jalan paling tepat ialah menipu panglima mereka agar kita bisa membunuhnya. Jika panglima mereka telah kita bunuh, pasti mereka akan lari ketakutan. Tapi hal ini tak mungkin terjadi kecuali dengan siasat yang jitu.”
Hampir seluruh majlis kagum terhadap pendapat yang diutarakan.
Wardan bertanya, “Bagaimana cara bersiasat menipu panglima mereka?.”
Sang bathriq menjawab, “Agar Tuan bisa bertemu panglima Arab dengan aman, pilihlah 10 pasukan elit agar mendampingi Tuan. Namun mereka harus bersembunyi, untuk mengawasi saat Tuan muncul. Pada saat Tuan bebicara dengan panglima Arab itulah Tuan menyerang dia, dan pasukan elit tuan muncul membantu Tuan. Tugas mereka selanjutnya memotong-motong tubuhnya. Dengan itulah Tuan mengatasi dia, dan kaum dia akan lari ketakutan karena kehilangan pemimpin.”
Wardan menyimak ucapan sang bathrik dengan serius, lalu tersenyum bahagia dan berkata, “Ini idea yang tepat! Usulanmu tepat sekali! Hanya siasat ini harus dilaksanakan pada pertengahan malam! Sebelum subuh kita harus telah selesai.”

Wardan perintah agar seorang Arab yang telah menjadi rakyatnya datang manghadap. Lelaki bernama Dawud itu dirayu, “Hai Dawud! Saya tahu kau pandai berbahasa Arab. Saya ingin kau melaksanakan keinginanku: Beritahulah orang-orang Arab itu agar menghentikan peperangan dengan kami! Katakan pula bahwa besok pagi jangan menyerang kami sebelum saya mengadakan pembicaraan dengan panglima perang mereka! Dalam pembicaraan itu akan saya upayakan agar kita berdamai.”
Dawud berkata, “Tuan akan celaka karena menentang perintah raja. Raja perintah agar tuan memerangi mereka, namun tuan justru akan berdamai dengan mereka? Raja pasti akan menilai tuan sebagai orang yang tidak taat. Selain itu sampai kapanpun saya takkan menyampaikan pernyataan itu pada dia yang Tuan maksud. Karena Raja Hiraqla pasti akan menganggap saya sebagai penyebab perdamain ini, hingga akhirnya pasti saya akan dibunuh.”
Wardan berkata, “Kamu jangan bodoh! Ini hanya upaya agar saya dapat berbicara dan membunuh dia! Setelah itu pasti kaumnya akan berlarian ketakutan karena pimpinannya telah tewas!.”
Wardan menyampaikan semua rencana dan siasatnya pada Dawud sebagai rakyat yang taat.
Dawud menjawab, “Orang curang selamanya hina. Seranglah mereka dengan pasukan Tuan dan batalkanlah rencana hina itu.”
Dawud terkejut dan takut karena digertak: “Kamu telah menentang perintahku! Jangan banyak alasan! Laksanakan!.”
Dawud semakin takut ketika melihat wajah dan mata Wardan merah karena marah.
Dawud menjawab, “Ya ya, akan saya laksanakan dengan senang,” lalu bergegas pergi.
Setelah jauh dia mengerutu, “Pantesan, putranya saja telah terbunuh.”

Ketika Dawud telah mendekati kaum Muslimiin, berteriak sekeras-kerasnya: “Hai orang-orang Arab! Hentikanlah peperangan dan pertumpahan darah! Karena ini akan diurus oleh Allah besok! Saya ingin menemui panglaima Arab untuk menyampaikan pesan penting.”
Dawud terkejut karena sebelum menyelesaikan rangkain ucapannya, tahu-tahu Khalid telah keluar untuk mendekati.
Dawud berkata, “Hai orang Arab! Jangan marah dulu. Saya datang kemari bukan untuk melawan. Saya hanya utusan.”
Khalid mendekati Dawud. Suara Khalid berwibawa keluar dari mulutnya, “Jelaskan apa maksudmu! Dan jujurlah agar selamat. Kalau jujur akan selamat, kalau bohong pasti celaka.”
Dawud berkata, “Kau benar hai orang Arab. Panglima perang kami bernama Wardan benci pertumpahan darah, dan mengakui kehebatan kalian. Dia sudah tidak mau lagi berperang dengan kalian, karena jumlah tentaranya yang gugur telah banyak sekali. Dia akan menyerahkan harta pada kalian untuk menghentikan pertumpahan darah. Tetapi surat perjanjian ini akan ditulis dan disaksikan oleh tokoh-tokoh kalian. Dalam perundingan itu nanti kau tidak boleh ditemani seorang pun; demikian pula Tuan Wardan. Jika kau menyetujui rencana ini, sekarang juga saya tunggu jawabannya. Ada lagi yang belum saya sampaikan: hentikan serangan hingga waktu subuh. Di waktu subuh itulah kau diharapkan tanpa pengawal menemui Tuan Wardan, karena ketika itu dia juga sendirian. Saat itulah bangsa kami dan kaum kalian menunggu keputusan kau dan Tuan Wardan. Ini sebagai upaya agar pertumpahan darah berhenti.”
Khalid menjawab, “Kalau perkataan pimpinan kalian hanya sebagai siasat dan tipu-muslihat, maka kami sudah mempersiapkan sebelumnya. Jangan menipu orang seperti kami! Tapi kalau memang dia ingin menipuku! Berarti ajal kematiannya akan segera tiba! Dan kalian juga akan segera kami habisi! Kalau dia benar-benar ingin damai, saya takkan mau! Kecuali jika dia mau membayarkan pajak untuk kaumnya pada kami. Terus terang mengenai harta hanya dengan cara seperti itu yang akan saya terima. Kalau kalian bersikeras, kami akan segera merampas harta dan negri kalian.”
Khalid dan rangkaian ucapannya membuat ketakutan hingga Dawud bergetar ketika menjawab, “Percayalah, yang akan terjadi yang telah saya tuturkan. Jika kau nanti menyetujui berarti akan kita damai. Sekarang saya akan pulang untuk melaporkan jawaban kau.”
Dawud menoleh untuk pulang, perasaannya sangat takut pada Khalid. Ketakutan yang berlebihan membuat dia bergetar seluruh tubuhnya. Hati Dawud berkata, “Demi Allah, panglima perang Arab benar. Yang akan pertama kali mati adalah Wardan, setelah itu kami semua. Sebaiknya saya berterus terang pada dia saja, agar dia menjamin aman padaku dan ahliku.”         

KW 30: Rencana Menipu Panglima

(Bagian ke-30 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Lautan pasukan Romawi kalap dan mengamuk; kaum Muslimiin melawan meskipun hati mereka bergetar. Sa’id bin Zaid berteriak, “Teman-teman, berhentilah dihadirat Allah Raja yang Maha Perkasa!. Jangan lari karena berakibat masuk neraka!. Hai orang-orang iman, hai yang hafal Al-Qur’an, bersabarlah!.”
Subahanallah aneh sekali, perkataan Sa’id bin Zaid membuat kaum Muslimiin bersemangat sehingga dengan keberanian penuh mereka melawan pasukan Romawi. Waktu shalat ashar tiba; kaum Muslimiin melancarkan serangan paling ganas hingga 3.010 pejabat militer Romawi berguguran. Tentara-tentara kroco yang gugur lebih banyak lagi. Pejabat militer Romawi yang gugur: Ruman penguasa kota Amiroh, Damar penguasa kota Nawa, Kaukab penguasa kota Balqa (البلقاء), Lawi bin China penguasa kota Ghuzah, dan lain-lain.

Dua kubu telah menarik pasukannya masing-masing karena telah capek. Wardan berjalan menuju baraknya dengan perasaan takut jika kekalahan selanjutnya akan lebih mengerikan. Dalam hatinya terbayang betapa kaum Muslimiin sangat sabar dan serangannya dahsyat sekali.
Dalam Dewan Perang itu para batriq telah berkumpul untuk mendengarkan khutbah panglima. Wardan yang ditunggu-tunggu akhirnya menyampaikan khutbah, “Hai pemeluk agama Nashrani, bagaimana pendapat kalian mengenai kaum Arab yang kita perangi ini?. Saya justru berpandangan mereka akan meraih kemenangan yang lebih besar lagi dari pada sebelumnya. Pedang-pedang mereka tajam, pasukan berkuda mereka memiliki kesabaran maksimal; serangan kalian justru tumpul. Ketaatan mereka pada pimpinan lebih tinggi dari ketaatan kalian pada Tuhan kalian. Kekalahan yang kita derita ini karena dosa, kesalahan, kejahatan, dan kemaksiatan kita terlalu banyak. Jalan terbaik adalah kita bertobat, jika kalian mau bertobat, saya yakin kita akan menang. Namun jika tidak mau bertobat, Al-Masih justru akan memerangi kalian hingga kalian binasa. Ketahuilah bahwa Allah yang telah menindak kita, siksaan-Nya lebih dahsyat. Dia telah mengerahkan kaum yang kita anggap remeh. Mereka orang-orang kelaparan karena kekurangan pangan, kelas mereka juga sangat rendah, pakaian mereka jelek karena miskin. Mereka menyerbu kita karena negrinya kekurangan makanan. Kekurangan makan yang berlebihan membuat mereka tersiksa. Setelah memasuki wilayah kita, mereka makan roti dan bermacam-macam buah, madu dan anggur. Ada lagi yang paling membuat mereka berbahagia: para perempuan dan harta kekayaan kita mereka ambil.”
Khutbah yang disampaikan dengan berapi-api itu membuat Majlis menangis karena menyadari dosanya yang banyak. Dalam pertemuan agung itu kini terisi isak tangisan para pejabat militer. Yang tadinya diam akhirnya juga menangis seperti lainnya, hingga tak satupun tersenyum apalagi tertawa. Bahkan seakan-akan dunia pun ikut menangis.   
Dengan menangis Wardan bertanya pada hadirin yang terdiri dari para batriq (bahasa Arab yang artinya pejabat tinggi militer sangat pandai berperang yang membawahi setidaknya 5.000 pasukan): “Bagaimana pendapat kalian untuk mengatasi hal ini?.”
Majlis tekejut pertanyaan yang disampaikan dengan nada tinggi. Seorang batriq menjawab, “Ya Wardan, tuan telah mendapat ujian berat. Kaum yang kita hadapi tidak bisa dilawan. Saya sendiri telah menyaksikan seorang dari mereka menyerang pasukan kita dengan membabi-buta. Tidak ada satu pun yang mundur meskipun harus mati. Yang membuat mereka bersemangat di dalam perang ialah nabi mereka berkata ‘jika dari kalian ada yang gugur maka masuk kesurga. Jika musuh gugur maka masuk neraka’. Selain itu bagi mereka mati dan hidup sama saja. Menurut saya jalan paling tepat ialah menipu panglima mereka agar kita bisa membunuhnya. Jika panglima mereka telah kita bunuh, pasti mereka akan lari ketakutan. Tapi hal ini tak mungkin terjadi kecuali dengan siasat yang jitu.”     

2011/04/28

KW 29: Khalid Melihat Kilauan Mahkota Wardan

(Bagian ke-29 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Ishthofan keluar dari barisan ingin membunuh Dhirar. Semangatnya menyala-nyala bagai api yang takkan terpadamkan. Sebelum menyerang, Ishthofan berkata: “Celaka kau, kali ini yang menghadapimu seorang yang takkan mungkin bisa kau taklukkan.” Dhirar tidak paham bahasa Romawi yang dipergunakan Ishthofan. Yang dia ketahui Ishthofan perintah agar Dhirar bersiap menerima serangannya. Isthofan mengeluarkan Salib emas yang digantungkan di kalung dari perak. Ishthofan mencium Salib lalu meletakkannya di atas kepalanya. Dhirar paham bahwa maksud Ishthofan minta pertolongan pada Salib agar diberi kemenangan.  
Dhirar berkata, “Silahkan kau minta tolong padanya. Saya minta tolong pada Al-Qoriib Al-Mujiib (بالقريب المجيب)[1] yang Maha Dekat pada orang yang menyeru pada-Nya.
Saat yang mendebarkarkan dan mengejutkan adalah saat Isthofan memulai melancarkan serangan ganas pada Dhirar yang menyambut dengan serangakaian tangkisan. Hampir semua penonton Romawi berkata, “How,” tapi serempak hingga suaranya membahana.
Khalid berteriak, “Hai Putra Azwar[2], kenapa kurang semangat dan terlalu santai melayani dia, padahal surga telah dibukakan untukmu dan nereka telah dibukakan untuk musuh-musuhmu?. Yang cekatan!, karena Allah akan menolongmu!.”
Dhirar menghapus rasa malasnya dan menyerang ganas sekali. Pasukan Romawi berteriak agar Ishthofan tetap berani. Dhirar dan Ishthofan saling menyerang dan menangkis bagai orang kalap yang mengerikan, mendebarkan. Saat itu sudah siang sehingga rasanya panas karena sengatan matahari.
Batriq Ishthofan minta agar Dhirar turun dari kuda untuk berperang di atas tanah. Dhirar menuruti keinginannya, turun dari kuda. Tiba-tiba sekelompok pasukan Romawi berdatangan dipimpin oleh pemuda, putra Ishthofan. Batriq muda itu mengendarai kuda penurut yang dituntun seorang tentara. Dhirar memanggil kudanya yang segera datang. Dhirar berteriak pada kudanya, “Temani saya sebentar!, jika tak mau kau kulaporkan pada Rasulillah SAW.” Kuda lari kencang menghadap Dhirar. Dhirar menusuk batriq muda yang akan menolong Ishthofan ayahnya. Lalu mengambil dan mengendarai kuda batriq muda itu. Lalu melepas kuda yang telah menemani agar berlari kearah pasukan Muslimiin. Di sana kuda itu diterima pasukan Muslimiin.
Dhirar kembali menghadap batriq Ishthofan. Ishthofan terkejut, berdebar-debar, marah dan takut, karena putranya telah terbunuh, dan kuda putranya telah diambil Dhirar. Saat itulah Ishthofan yakin bahwa dirinya juga akan mati. Dia berpikir jika lari pasti dibunuh secepatnya, jika melawan juga pasti kalahnya.
Di saat Ishthofan telah ketakutan itulah tiba-tiba ada sekelompok pasukan berkuda dari Romawi bergerak mendekat. Wardan telah menyaksikan Ishthofan sudah tak mampu lagi mengimbangi serangan Dhirar yang ganas. Wardan berpikir jika tidak segera ditolong Ishthofan bisa mati. Wardan berkata, “Hai pahlawanku, syaithan[3] inilah yang pernah memakan seiris hatiku. Jika saya tak mampu membunuh dia saya akan bunuh diri. Saya harus membunuh dia.”
Wardan bergerak mendekati Dhirar bersama sepuluh batriq berbaju perang. Kaki sepuluh batriq dibungkus sepatu lars dari besi, berlengan lapis besi, membawa tongkat besi. Wardan berbaju perang, mengenakan mahkota agung gemerlapan.  
Wardan memimpin sepuluh batriq untuk mendekati Dhirar. Ishthofan berteriak agar Dhirar menoleh, namun Dhirar hanya bergerak untuk siaga.

Khalid melihat sebelas orang Romawi bergerak mendekati Dhirar. Khalid melihat kilauan mahkota Wardan karena sinar matahari. Dari agak jauh Khalid berkata, “Yang mengenakan mahkota itu pasti raja[4]. Berarti yang memimpin sepuluh orang mendekati teman kami itu Raja Wardan. Kami harus membantu kawan. Yang ikut saya hanya sepuluh saja agar jumlahnya sama mereka.”
Khalid dan sepuluh orang temannya keluar dari pasukan mendekati kuda untuk mendekati dan membantu Dhirar.
Subhanallah, meskipun Wardan dan sepuluh pasukan pengawalnya telah makin dekat, namun Dhirar tak mundur setapak pun. Bahkan dia tenang sekali, seakan-akan hatinya lebih keras dari batu.
Wardan dan pasukan pengawalnya terkejut oleh suara khalid, “Berbahagialah hai Dhirar, kau akan ditolong oleh Al-Jabbar[5]. Jangan takut kaum kuffar[6]!.”
Dhirar berkata, “Kali ini pertolongan telah dekat sekali.”
Khalid dan pasukannya mendekati dan menyerang Wardan dan pasukannya. Kini setiap seorang berperang melawan seorang. Khalid bertempur melawan Wardan. Ishthofan ketakutan ketika melihat Khalid dan sepuluh pasukan Muslimiin. Dia menoleh kekiri dan kekanan akan berlari kabur. Tombak Dhirar bergerak cepat kearah Ishthofan. Ishthofan menghindar terjun dari kuda untuk berlari. Dhirar mengejar dengan kuda lalu terjun untuk menangkap Ishthofan.
“Grubyuk,” mereka berdua jatuh ketanah. Tubuh Isthofan besar keras seperti batu; tubuh Dhirar ramping. Dhirar menjadi hebat karena keimanannya kuat. Setelah pergulatan seru berlangsung cukup lama, Dhirar memukul lempeng dan membanting hingga Ishthofan berteriak minta tolong pada Wardan: “Tonglah saya mengatasi kesulitan wahai tuan. Saya hampir kalah.”
Wardan menjawab, “Lalu yang menolong saya menghadapi singa-singa buas ini siapa?.”
Dua golongan yang bertikai saling memandang tetangganya dengan terbengong. Dhirar mendekati Ishthofan yang tak berdaya. Lalu menduduki dada dan menyembelih ishthofan bagai menyembelih unta.
Di waktu Khalid berperang melawan Wardan; Dhirar memotong leher Ishthofan. Dhirar bangkit untuk naik kuda; pasukan Romawi telah kalap dan melancarkan serangan dahsyat atas kaum Muslimiin. 

[1] Sebagian Nama Allah dalam bahasa Arab yang artinya: Yang Maha Dekat, Maha mengabulkan.
[2] Panggilan untuk Dhirar.
[3] Maksudnya Dhirar.
[4] Maksudnya Wardan. Dia gubernur, berarti raja di bawah Raja Hiraqla.
[5] Termasuk nama Allah, artinya: yang Maha memaksa.
[6] Bahasa Arab, artinya: orang-orang kafir.